
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi kedua di dunia. Pada periode 2020 hingga 2024 saja, tercatat lebih dari 20 ribu kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Di tingkat regional, Provinsi Gorontalo memiliki ancaman bencana yang cukup kompleks akibat kondisi geologis aktif seperti Sesar Gorontalo dan Sangihe Subduction. Ketika bencana melanda, dampaknya tidak hanya merusak infrastruktur, melainkan juga menimbulkan krisis kesehatan masyarakat yang besar.
Dalam situasi darurat bencana, penanganan kesehatan tidak boleh dilakukan secara meraba-raba. Di sinilah peran penting Rapid Health Assessment (RHA) atau Penilaian Cepat Kesehatan. RHA merupakan tindakan pengumpulan dan analisis data secara cepat di lokasi bencana untuk menilai dampak, kebutuhan mendesak, serta kapasitas layanan kesehatan yang ada agar bantuan medis dapat disalurkan secara tepat sasaran. Namun, seberapa siapkah calon tenaga kesehatan kita dalam melakukan RHA?
Fenomena "Illusion of Knowing" pada Mahasiswa Kesehatan
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Galen: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan (Halid et al., 2026) meneliti tingkat pemahaman mahasiswa kesehatan di Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian ini melibatkan 30 mahasiswa dari tiga jurusan kunci penanganan bencana: Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Farmasi. Sebelum diberikan pelatihan, seluruh mahasiswa (100%) mengaku pernah mendengar atau tahu tentang RHA. Namun, ketika kemampuan mereka diuji melalui tes objektif, hasil yang didapat cukup mengejutkan:
Hasil ini mengungkapkan adanya fenomena yang dikenal sebagai illusion of knowing (ilusi pengetahuan). Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa sudah paham karena sering mendengar suatu istilah, padahal pemahaman mendalam secara konsep dan penerapannya di lapangan masih sangat terbatas.
Dampak Nyata Intervensi Edukasi Interaktif
Untuk mengatasi kesenjangan pemahaman tersebut, tim peneliti memberikan intervensi edukasi terstruktur menggunakan metode ceramah dan diskusi interaktif. Pelatihan ini membahas secara mendalam materi RHA, mulai dari konsep dasar, tujuan, prosedur pengumpulan data lapangan, hingga cara menyusun rekomendasi tindakan darurat. Setelah sesi edukasi selesai, mahasiswa kembali diuji (uji post-test). Hasilnya menunjukkan lonjakan pemahaman yang sangat signifikan:
Berdasarkan analisis statistik (uji Wilcoxon Signed Rank Test), perubahan ini terbukti bermakna secara nyata (p < 0,001). Artinya, edukasi yang terstruktur dan interaktif terbukti ampuh mengubah "ilusi pengetahuan" menjadi pemahaman nyata yang siap pakai.
Langkah Penting ke Depan
Penelitian ini menegaskan bahwa untuk menyiapkan calon tenaga kesehatan yang tangguh bencana, sekadar menyampaikan teori di dalam kelas tidaklah cukup. Beberapa rekomendasi penting dari hasil studi ini meliputi:
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran