GORONTALO — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pilar kebijakan nasional untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak dini. Namun, bagaimana potret riil status gizi dan kemampuan berpikir (kognitif) para siswa sekolah dasar yang menerima program ini di lapangan? Sebuah studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan (2026) memberikan gambarannya. Penelitian yang dilakukan oleh Davina Shafa Felisha bersama tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo ini melibatkan 147 siswa kelas lima dari dua sekolah penerima MBG terbanyak di Kecamatan Kota Tengah, yaitu SDN 77 Kota Gorontalo dan MI Terpadu Al-Ishlah.
Fungsi Kognitif 100% Normal
Temuan paling menyejukkan dari riset ini terletak pada kemampuan kognitif anak-anak tersebut. Menggunakan instrumen uji Mini Mental State Pediatric Examination (MMSPE), peneliti mengukur berbagai domain berpikir, mulai dari daya ingat, kemampuan berbahasa, logika angka, pemahaman spasial, hingga fungsi eksekutif. Hasilnya mengejutkan: 100% siswa penerima program MBG di kedua sekolah memiliki fungsi kognitif yang baik dan berada di atas batas normal. Rata-rata skor kognitif anak-anak berada di angka 36 dari skor maksimal 38. "Asupan energi dan nutrisi dari program MBG yang berjalan memberikan dukungan penting dalam jangka pendek untuk menjaga performa belajar anak di sekolah," jelas tim peneliti. Selain itu, faktor lingkungan sekolah yang kondusif, pola asuh, dan stimulasi belajar di rumah turut membantu mempertahankan daya pikir anak tetap tajam.
Tantangan Gizi Ganda: Ancaman Kurus dan Obesitas Masih Ada
Meski fungsi kognitif para siswa tergolong prima, pengukuran fisik (antropometri) menunjukkan bahwa tantangan beban gizi ganda (double burden of malnutrition) masih membayangi anak-anak sekolah dasar:
Berdasarkan Indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U):
58,5% siswa berada dalam kategori gizi normal.17,0% siswa mengalami obesitas.12,9% siswa tergolong gizi kurang.11,6% siswa mengalami gizi lebih.Berdasarkan Indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB):
Kategori gizi kurang/wasting tercatat cukup tinggi, yakni 32,0%, sementara obesitas mencapai 23,1%. Beruntung, tidak ditemukan kasus gizi buruk (severely wasted) pada sampel penelitian.Peneliti mencatat bahwa ditemukannya angka gizi kurang maupun kelebihan berat badan (obesitas) ini dipengaruhi oleh faktor di luar sekolah. Pola makan di rumah yang tidak seimbang, kebiasaan jajan makanan tinggi lemak/gula, sanitasi lingkungan, serta kurangnya aktivitas fisik akibat tingginya durasi penggunaan gawai (gadget) menjadi pemicu utama fenomena tersebut.Evaluasi Berkala Agar Manfaat Optimal
Program MBG terbukti memberi dampak positif sebagai jaring pengaman nutrisi harian yang menopang fungsi kognitif siswa saat belajar. Namun, agar dampaknya terhadap perubahan status gizi fisik dapat terlihat lebih signifikan dalam jangka panjang, tim peneliti menyarankan perlunya evaluasi rutin. Evaluasi berkala terhadap variasi menu, variasi komposisi gizi, serta kebersihan makanan sangat penting dilakukan. Langkah ini perlu didampingi dengan edukasi pola makan sehat di rumah dan ajakan beraktivitas fisik agar masalah gizi kurang maupun obesitas pada anak sekolah dapat teratasi secara menyeluruh.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran