GORONTALO — Masa remaja merupakan fase krusial yang diwarnai perubahan biologis, psikologis, dan sosial secara masif. Di tengah tekanan akademis, dinamika hubungan pertemanan, serta transisi menuju kedewasaan, gangguan kesehatan mental seperti stres menjadi ancaman nyata yang kerap tak disadari. Data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat setidaknya 1.099 remaja mengalami gangguan mental, dengan 409 kasus berada di wilayah Kota Gorontalo. Salah satu dampak tersembunyi dari tingginya tekanan emosional ini adalah munculnya perilaku emotional eating—yaitu kecenderungan mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi negatif (seperti stres, sedih, atau cemas) dan bukan karena rasa lapar fisik. Guna memetakan keterkaitan kedua fenomena tersebut, tim peneliti dari Departemen Keperawatan dan Gizi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi kuantitatif terhadap 163 siswa-siswi di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo.
Gambaran Stres dan Perilaku Makan Siswa
Pengukuran tingkat stres dalam penelitian ini menggunakan instrumen Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), sedangkan perilaku makan diukur dengan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Dari sampel remaja berusia rata-rata 16,42 tahun (dominan perempuan) didapatkan data statistik berikut:
Mekanisme Biologis: Peran Hormon Kortisol
Hasil uji statistik Spearman Rank mengonfirmasi adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan perilaku emotional eating. Nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,469 menunjukkan hubungan berarah positif dengan kekuatan sedang. Artinya, semakin tinggi tingkat stres yang dialami remaja, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melampiaskannya ke makanan. Secara biologis, ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan mengaktifkan sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) yang memicu lonjakan hormon kortisol. Hormon kortisol ini merangsang nafsu makan dan secara spesifik meningkatkan dorongan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori atau manis sebagai mekanisme kenyamanan (comfort food).
Pentingnya Koping Adaptif dan Regulasi Emosi
Para peneliti menekankan bahwa emotional eating merupakan bentuk strategi koping maladaptif (kurang sehat). Jika dibiarkan berulang tanpa intervensi, kebiasaan ini dapat memicu peningkatan berat badan, risiko obesitas, hingga gangguan pola makan jangka panjang pada remaja. Mengingat fenomena ini bersifat multifaktorial, sekolah dan orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis remaja. Program promosi kesehatan sekolah perlu diperkuat dengan edukasi manajemen stres, pelatihan regulasi emosi, serta penyediaan ruang konseling yang mendukung agar remaja tidak lagi menjadikan makanan sebagai pelarian utama saat menghadapi tekanan emosional.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran