Mengurai Karakteristik Bells Palsy di Gorontalo: Ketika Kelumpuhan Saraf Wajah Mengincar Usia Muda

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Agustus 2026 . 16:42:56

GORONTALO — Kelumpuhan saraf wajah mendadak atau Bell's palsy kerap memicu kekhawatiran karena gejalanya yang menyerupai serangan stroke. Kondisi perifer idiopatik ini ditandai dengan kelemahan otot wajah unilateral secara tiba-tiba, yang umumnya mencapai puncak keparahan dalam waktu kurang dari 72 jam. Untuk memetakan gambaran klinis dan demografis penyakit ini di Gorontalo, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi deskriptif terhadap 26 pasien Bell’s palsy yang menjalani perawatan di Poliklinik Saraf RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe selama periode 2023 hingga 2025.

Pergeseran Tren: Mendominasi Usia Muda dan Perempuan

Penelitian ini menemukan tren epidemiologi menarik yang sedikit berbeda dari pola klasik umum, di mana kasus Bell's palsy biasanya memuncak pada usia 40–60 tahun:

  • Usia Produktif Muda Dominan: Proporsi terbesar penderita berada pada kelompok usia 20–29 tahun, yaitu sebanyak 38,5% (10 pasien).
  • Perempuan Lebih Rentan: Mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (65,4% atau 17 orang), dibandingkan laki-laki (34,6% atau 9 orang).

Para peneliti menjelaskan bahwa pergeseran ke usia muda ini dipicu oleh faktor gaya hidup modern, seperti kebiasaan aktivitas malam, stres fisik atau psikologis, serta paparan udara dingin langsung dari pendingin ruangan (AC). Sementara itu, kerentanan yang lebih tinggi pada perempuan diduga berkaitan dengan fluktuasi hormonal dan respons stres yang memengaruhi mikrosirkulasi saraf fasialis.

Profil Gejala dan Komorbiditas Vaskular

Ditinjau dari lateralisasi, kelumpuhan wajah terjadi secara seimbang antara sisi kanan ($50,0\%$) dan sisi kiri ($50,0\%$). Manifestasi klinis yang dialami pasien bervariasi:

  • Mulut Mencong: Gejala paling dominan yang dialami oleh 16 pasien (31,4% dari total keluhan).
  • Kesulitan Menutup Mata (Lagophthalmos) & Dahi: Masing-masing dilaporkan oleh 10 pasien (19,6%).
  • Gejala Lain: Nyeri belakang telinga (9,8%), pipi tertinggal (5,9%), mata kering/berair (5,9%), serta gangguan pengecapan dan sulit menahan air liur (masing-masing 3,9%).
  • Meski sebagian besar pasien (65,3%) tidak memiliki penyakit penyerta, studi ini mencatat adanya peran komorbiditas vaskular seperti hipertensi (19,2%) dan diabetes melitus (11,5%). Kondisi ini berpotensi memicu gangguan pembuluh darah kecil (vasa nervorum) yang memperlambat pemulihan saraf.

Capaian Kesembuhan dan Penatalaksanaan Dini

Evaluasi pasca-penatalaksanaan menunjukkan prognosis pemulihan yang sangat memuaskan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe:

  • Kortikosteroid Diberikan 100%: Seluruh pasien menerima terapi utama kortikosteroid, yang dikombinasikan dengan Vitamin B12 (96,2%) serta air mata buatan (11,5%).
  • Pulih Total: Sebanyak 17 pasien (65,4%) berhasil mencapai kesembuhan fungsi motorik wajah secara penuh.
  • Perbaikan Sebagian: Sebanyak 9 pasien (34,6%) mengalami perbaikan parsial dan membutuhkan rehabilitasi lanjutan.
  • Tidak Ada Kasus Tanpa Perbaikan: Selama periode observasi, tidak ada pasien yang dilaporkan gagal membaik.

Hasil ini menegaskan pentingnya pemberian terapi kortikosteroid pada masa emas (golden period) 72 jam pertama untuk meredakan inflamasi saraf, sekaligus mengimbau masyarakat agar lebih mewaspadai perlindungan wajah dari paparan angin dingin langsung dan mengelola stres harian.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran