
GORONTALO — Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan tingginya angka pengobatan mandiri (swamedikasi) di Indonesia yang mencapai 79,74%. Provinsi Gorontalo bahkan mencatatkan angka yang lebih tinggi, yaitu 83,14%, menjadikannya salah satu dari tujuh provinsi dengan tingkat swamedikasi tertinggi secara nasional. Praktik ini paling sering dilakukan untuk meredakan nyeri ringan menggunakan obat analgesik, seperti parasetamol atau Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS). Namun, swamedikasi tanpa pemahaman tepat berisiko memicu masalah kesehatan serius, mulai dari iritasi lambung, nefrotoksisitas, hingga kerusakan hati (hepatotoksisitas). Guna memetakan fenomena ini, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi analitik terhadap 100 responden di wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan, Gorontalo.
Pola Swamedikasi: Warung Lebih Disukai Dibanding Apotek
Penelitian mencatat bahwa 91% responden memiliki riwayat melakukan pengobatan mandiri. Uniknya, meskipun 99% responden menyatakan akses ke fasilitas kesehatan tergolong mudah atau sangat mudah, pola pencarian pertolongan pertama mereka masih didominasi oleh jalur informal:
Selain itu, sebanyak 88% responden secara spesifik menggunakan obat antinyeri tanpa resep dokter, dengan 38,6% di antaranya mengonsumsi analgesik dengan frekuensi tinggi (lebih dari 4 kali dalam 3 bulan terakhir). Alasan utama yang mendorong perilaku ini adalah anggapan bahwa mereka "sudah tahu obatnya" (51,1%), rasa nyeri dianggap ringan (20,5%), serta adanya saran dari keluarga atau teman (18,2%).
Fenomena Knowledge-Behavior Gap
Hasil pengukuran statistik menunjukkan bahwa 72% responden memiliki tingkat pengetahuan kategori Cukup dan 28% masuk kategori Baik (tidak ada responden dengan pengetahuan kurang). Namun, profil perilaku swamedikasi justru didominasi oleh kategori Kurang (42,0%) dan Cukup (39,0%), sementara kategori Baik hanya mencapai 19,0%. Uji korelasi Spearman Rank mengonfirmasi adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi (p = 0,001; r = 0,331). Meski berbanding lurus, tingkat kekuatan hubungan yang berada pada kategori "sedang" ini mengungkap adanya fenomena knowledge-behavior gap:
Implikasi dan Intervensi Edukasi
Para peneliti menjelaskan bahwa pengetahuan teoretis sering kali tidak langsung diterjemahkan menjadi tindakan aman akibat pengaruh pengalaman positif masa lalu (reinforcement behavior), rendahnya persepsi risiko keracunan obat, serta pengaruh sosial dari lingkungan terdekat. Selain itu, 70% responden tercatat pernah atau masih mengombinasikan obat tradisional dengan obat modern tanpa konseling medis. Temuan ini menegaskan bahwa kemudahan akses layanan kesehatan dan tingkat pendidikan formal saja tidak cukup. Diperlukan intervensi edukasi kesehatan yang lebih terstruktur, komprehensif, dan persuasif dari para tenaga medis—khususnya calon dokter dan apoteker—guna mengubah pemahaman masyarakat menjadi praktik swamedikasi yang rasional dan aman.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran