
Menyusui sering kali dianggap sebagai proses alami yang otomatis terjadi begitu seorang ibu melahirkan. Padahal, di balik tetesan air susu ibu (ASI), terdapat jalinan rumit antara ilmu kedokteran modern dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Di Indonesia—sebuah negara dengan kekayaan tradisi yang luar biasa—budaya laktasi memegang peranan krusial yang dapat menjadi penentu keberhasilan maupun kegagalan pemberian ASI eksklusif bagi bayi berusia 0 hingga 6 bulan. Berdasarkan tinjauan literatur terstruktur yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes RI Pangkalpinang (2026) oleh Novia Martin dan rekan-rekan, terungkap sebuah fakta menarik: budaya laktasi di Indonesia bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ada tradisi yang sangat mendukung kesehatan ibu dan bayi. Namun, di sisi lain, masih banyak mitos dan kebiasaan turun-temurun yang justru mengancam kesehatan si kecil dan menghambat pemberian ASI eksklusif.
Tidak semua tradisi masa nifas bertentangan dengan dunia medis. Penelitian tersebut menyoroti beberapa praktik positif yang berakar kuat di masyarakat, seperti pijat payudara tradisional menggunakan minyak kelapa, pemanfaatan pijat oksitosin untuk melancarkan pengeluaran ASI, serta konsumsi pangan lokal tertentu seperti jagung dan kacang goreng yang dipercaya secara empiris dapat membantu produksi ASI ibu menyusui. Secara medis, tindakan stimulasi pada payudara terbukti mampu merangsang refleks oksitosin dan let-down reflex, yang secara fisiologis membantu memperlancar aliran ASI. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak harus selalu diberantas, melainkan dapat diintegrasikan dan diselaraskan dengan pendekatan pelayanan kesehatan modern selama terbukti aman.
Kendati demikian, tantangan terbesar justru datang dari miskonsepsi yang mengakar di tengah masyarakat. Salah satu temuan mengkhawatirkan dalam studi tersebut adalah tingginya praktik pemberian makanan atau cairan prelakteal—seperti madu, pisang, atau bubur—kepada bayi yang baru lahir sebelum usia enam bulan. Di Kabupaten Karanganyar, misalnya, tercatat sebanyak 36,1% ibu memberikan madu sebagai makanan prelakteal. Dari sudut pandang medis, tindakan ini sangat berbahaya. Pemberian madu pada neonatus berisiko tinggi menyebabkan botulisme pada bayi (keracunan akibat spora bakteri), sedangkan pengenalan makanan padat terlalu dini dapat memicu gangguan pencernaan, diare, hingga kerusakan mikrobiota usus bayi.
Selain itu, mitos seputar bentuk puting susu, ketakutan akan "sindrom ASI kurang", penolakan kolostrum (cairan emas pertama yang kaya antibodi), serta pembatasan jenis makanan bagi ibu menyusui masih sering menjadi sandungan utama. Akibat berbagai hambatan sosiokultural ini, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dari target optimal, meskipun kesadaran formal ibu sebenarnya sudah cukup baik. Hal yang paling menarik dari tinjauan ini adalah bagaimana keluarga (suami, orang tua, dan terutama nenek) serta tenaga kesehatan memegang peran ganda sebagai fasilitator sekaligus penghambat. Sering kali, seorang ibu muda ingin memberikan ASI eksklusif, namun tekanan sosial dan keyakinan dari keluarga besar memaksa mereka memberikan makanan tambahan lebih awal.
Penelitian menunjukkan bahwa program edukasi kesehatan tidak akan efektif jika hanya menyasar sang ibu seorang diri. Pelibatan suami, anggota keluarga terdekat, dan tokoh masyarakat mutlak diperlukan agar pesan kesehatan medis dapat diterima secara utuh tanpa mencederai nilai-nilai budaya lokal. Mengubah budaya bukanlah perkara mudah, karena tradisi melibatkan emosi, identitas, dan rasa hormat kepada leluhur. Oleh karena itu, pendekatan yang kaku dan menghakimi tidak akan membuahkan hasil. Tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan perlu mengadopsi pendekatan yang sensitif budaya (culture-based healthcare). Artinya, edukasi harus dikemas dengan merangkul kearifan lokal yang positif—seperti pijat tradisional yang aman—sambil secara perlahan meluruskan praktik-praktik berisiko tinggi melalui dialog yang empatik dan edukatif.
Pada akhirnya, menyusui bukan sekadar urusan pribadi seorang ibu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem sosial. Dengan menjembatani jurang pemisah antara tradisi dan ilmu kedokteran modern, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya Nusantara, tetapi juga melindungi masa depan emas anak-anak Indonesia dari ancaman stunting dan penyakit kronis.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran