Menyusui di Antara Tradisi dan Medis: Mana Budaya Laktasi yang Mendidik, Mana yang Memicu Risiko?

Oleh: Jesica Mulyadi . 27 September 2026 . 18:11:20

Proses menyusui atau laktasi bukan sekadar urusan biologis antara ibu dan bayi. Di Indonesia, memberi ASI adalah bagian yang erat dari tradisi pengasuhan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai kebiasaan lokal mengiringi perjalanan seorang ibu menyusui, mulai dari ramuan herbal, pijat tradisional, hingga arahan nenek dan kerabat.

Realitas Angka ASI Eksklusif di Indonesia

Pemerintah dan lembaga kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. ASI mengandung komponen kekebalan tubuh, zat gizi mikro, serta perlindungan alami yang menurunkan angka sakit pada bayi dan mencegah stunting. Meski begitu, capaian ASI eksklusif di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Data menunjukkan cakupan ASI eksklusif masih berkisar di angka 50–60%. Salah satu pemicu utamanya bukanlah enggan menyusui, melainkan tingginya pengaruh mitos, tekanan sosial, dan kebiasaan tradisional yang keliru di lingkungan keluarga.

Mitos dan Praktik Tradisional yang Berisiko Medis

Hasil penelusuran terhadap berbagai penelitian kualitatif di wilayah Indonesia menemukan beberapa praktik budaya yang justru membahayakan kesehatan bayi dan memicu kegagalan ASI eksklusif:

  1. Pemberian Madu dan Makanan Prelakteal: Di beberapa tempat seperti Karanganyar dan Nias, bayi yang baru lahir sering kali diberi madu, pisang, atau air gula sebelum ASI keluar lancar. Secara medis, memberikan madu pada neonatus (bayi baru lahir) sangat berisiko menyebabkan infant botulism (keracunan bakteri berbahaya), sedangkan memberi pisang terlalu dini dapat merusak sistem pencernaan bayi yang belum siap.
  2. Penolakan Kolostrum: Terdapat kepercayaan bahwa tetesan ASI pertama yang berwarna kekuningan (kolostrum) adalah "ASI kotor". Padahal, kolostrum adalah cairan paling berharga yang kaya akan antibodi untuk melindungi bayi dari infeksi.
  3. Mitos Bentuk Puting dan ASI Kurang: Masih berkembang persepsi salah mengenai bentuk puting tertentu atau anggapan bahwa ASI ibu "encer dan tidak mengenyangkan", sehingga bayi dipaksa mendapat makanan tambahan terlalu awal.

Praktik Budaya Positif yang Patut Dipertahankan

Kajian ini menegaskan bahwa pendekatan kesehatan tidak boleh serta-merta menolak seluruh tradisi lokal. Ada sejumlah budaya menyusui di Indonesia yang sejalan dengan prinsip ilmiah dan sangat bermanfaat:

  1. Perawatan Payudara dan Pijat Tradisional: Studi di Sumba menunjukkan bahwa praktik pijat payudara menggunakan minyak kelapa atau teknik pijat oksitosin terbukti secara medis dapat memperlancar aliran ASI dan meredakan bengkak payudara.
  2. Konsumsi Pangan Lokal: Kebiasaan mengonsumsi makanan lokal seperti jagung, kacang-kacangan, atau daun katuk dipercaya secara turun-temurun membantu produksi ASI.
  3. Dukungan Sosial Keluarga: Kehadiran keluarga yang memberikan dorongan positif sangat menentukan mental ibu dalam menyusui.
  4. Menjembatani Medis dan Tradisi: Solusi Bersama
  5. Keberhasilan menyusui tidak bisa hanya dibebankan kepada ibu. Sering kali keputusan untuk memberikan makanan tambahan atau membuang kolostrum datang dari dorongan nenek, suami, atau tokoh masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, edukasi kesehatan tidak cukup hanya menyasar ibu hamil. Program promosi ASI eksklusif harus bersifat inklusif dengan merangkul suami, orang tua/mertua, hingga kader masyarakat. Praktik budaya lokal yang aman dan menyehatkan perlu dipertahankan, sementara kebiasaan turun-temurun yang berisiko medis harus diluruskan secara bijak dan penuh rasa hormat.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran