Rabies Bukan Sekadar Gigitan Anjing: Mengapa Kebiasaan Kita Bisa Berujung Fatal?

Oleh: Jesica Mulyadi . 1 Agustus 2026 . 18:30:01

Bagi sebagian besar dari kita, digigit atau dicakar anjing dan kucing peliharaan sering kali dianggap sebagai kecelakaan kecil biasa. Diusap pakai kain, dicuci seadanya, lalu kita kembali beraktivitas. Namun, di balik rasa gampang dan sikap meremehkan itu, ada ancaman penyakit mematikan yang siap mengintai: Rabies. Rabies bukanlah penyakit baru. Ini adalah infeksi virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat dan otak. Begitu gejalanya muncul pada manusia—seperti takut air (hidrofobia), takut cahaya, hingga kejang-kejang—peluang untuk selamat hampir nol persen. Ya, rabies memiliki tingkat kematian mencapai 100% setelah gejala timbul. Namun anehnya, penyakit seberbahaya ini justru paling sering dihadapi dengan sikap serba santai.

Mengapa Kasus Rabies Masih Terus Terjadi?

Laporan riset kesehatan terbaru di Kabupaten Gorontalo mencatat ada setidaknya 279 kasus gigitan hewan penular rabies dalam satu tahun. Dari hasil analisis mendalam terhadap para korban, terungkap satu kenyataan mengejutkan: Faktor Perilaku adalah penyebab paling utama yang membuat orang berisiko terkena bahaya rabies hingga 3 kali lipat. Banyak orang sebenarnya tahu bahwa rabies itu berbahaya. Namun, antara tahu dan bertindak dengan benar ada jurang yang sangat lebar:

  • Meremehkan Luka Kecil: Banyak korban tidak pergi ke puskesmas karena merasa lukanya hanya garukan kecil atau bekas gigitan tidak berdarah.
  • Terjebak Mitos & Pengobatan Tradisional: Masih ada warga yang memilih mengoleskan bahan-bahan tradisional atau pergi ke dukun/penawar ketimbang mencari pertolongan medis profesional.
  • Menganggap Hewan Peliharaan "Aman": Banyak yang mengira anjing atau kucing milik sendiri/tetangga pasti bebas rabies, padahal hewan yang tidak divaksinasi rutin tetap berisiko membawa virus.
  • Menunda penanganan medis walau hanya beberapa hari bisa berujung maut. Virus rabies bergerak perlahan merambat melalui jaringan saraf menuju otak. Begitu mencapai otak, vaksin tidak lagi mampu menyelamatkan nyawa.

Siapa yang Paling Sering Menjadi Korban?

Data lapangan menunjukkan bahwa kelompok usia produktif (19–59 tahun) serta kaum perempuan menjadi kelompok yang paling sering terpapar gigitan:

  • Aktivitas Luar Rumah: Usia produktif memiliki mobilitas tinggi, sehingga lebih sering berinteraksi dengan anjing liar atau anjing penjaga di jalanan dan kebun.
  • Aktivitas Domestik/Rumah Tangga: Perempuan atau ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di pekarangan rumah dan dapur kerap berkontak dekat dengan hewan peliharaan tanpa menyadari risikonya.

3 Langkah Emas Penyelamat Nyawa saat Digigit Hewan: Menghadapi ancaman rabies sebenarnya tidak memerlukan teknologi yang rumit. Kuncinya adalah kecepatan tindakan setelah gigitan terjadi. Jika Anda, anak, atau tetangga Anda digigit/dicakar anjing, kucing, atau kera, segera lakukan 3 langkah ini:

  • Cuci Luka dengan Sabun & Air Mengalir (10–15 Menit): Jangan langsung dibebut atau diberi ramuan. Cuci luka di bawah air mengalir menggunakan sabun selama minimal 10–15 menit. Sabun efektif merusak lapisan pelindung virus rabies sehingga melemahkan gayanya.
  • Beri Antiseptik: Oleskan cairan antiseptik seperti alkohol 70% atau obat luka (povidone iodine).
  • Segera Pergi ke Puskesmas atau Rumah Sakit: Segera minta pertolongan medis untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau serum tambahan sesuai petunjuk dokter. Jangan tunda besok!

Tanggung Jawab Bersama: Lindungi Hewan, Selamatkan Manusia

Pencegahan rabies tidak bisa diserahkan kepada dokter atau petugas kesehatan saja. Sebagai pemilik hewan, kita punya kewajiban moral dan sosial:

  • Vaksinasi Hewan Peliharaan: Bawa anjing dan kucing Anda ke dinas peternakan/dokter hewan untuk mendapatkan vaksin rabies secara berkala.
  • Jangan Biarkan Liar: Jangan melepasliarkan anjing atau kucing peliharaan tanpa pengawasan di area publik.

Rabies adalah penyakit yang 100% mematikan, tetapi juga 100% dapat dicegah. Mari buang kebiasaan meremehkan luka gigitan, tinggalkan mitos penanganan yang salah, dan segera cari penanganan medis tepat waktu. Satu tindakan cepat Anda hari ini bisa menyelamatkan nyawa orang-orang terkasih

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran