GORONTALO – Sebuah terobosan inovatif dalam dunia psikologi remaja dan keperawatan jiwa baru saja dipublikasikan dalam KEPO: Jurnal Keperawatan Profesional. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa penerapan metode kelompok dukungan sebaya (Peer Support Group) yang dipadukan dengan media inovatif Hulonthalo Emotion Card terbukti secara signifikan mampu meningkatkan self-awareness (kesadaran diri) di kalangan remaja. Kondisi kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius secara nasional. Masa remaja merupakan fase transisi krusial yang dipenuhi gejolak emosi, tekanan akademik, serta adaptasi sosial. Kegagalan remaja dalam mengenali emosi dan potensi diri sendiri (self-awareness yang rendah) sering kali menjadi akar dari berbagai masalah psikologis yang lebih berat, mulai dari stres akademik, depresi, kecemasan, hingga perilaku berisiko seperti perundungan dan penyalahgunaan zat terlarang.
Penelitian kuantitatif dengan desain Quasi-Experimental menggunakan rancangan Pretest-Posttest dengan Kelompok Kontrol (Non-Equivalent Control Group Design) ini dilakukan untuk menguji efektivitas metode baru tersebut. Riset ini melibatkan sampel intervensi remaja yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen (menerima metode Peer Support Group lewat media Hulonthalo Emotion Card) dan kelompok kontrol (menerima edukasi konvensional). Pengukuran tingkat kesadaran diri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen kuesioner psikologi yang telah divalidasi. Hasil analisis bivariat menunjukkan temuan ilmiah yang sangat menggembirakan:
- Kelompok Eksperimen (Dengan kartu emosi): menunjukkan grafik lonjakan skor self-awareness yang sangat signifikan antara nilai sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) intervensi. Remaja dalam kelompok ini menjadi jauh lebih fasih dalam mengidentifikasi perasaan mereka, memahami kelemahan/kelebihan diri, serta memiliki kontrol emosi yang lebih stabil.
- Kelompok Kontrol (Konvensional): Tidak menunjukkan perubahan skor kesadaran diri yang bermakna secara statistik. Hal ini menandakan bahwa metode ceramah satu arah atau edukasi biasa kurang efektif dalam menyentuh ruang emosional terdalam para remaja.
Mengapa kolaborasi teman sebaya dan media kartu begitu kuat? Secara psikologis, keberhasilan metode ini didorong oleh pendekatan berbasis budaya lokal dan pemanfaatan dinamika kelompok yang adaptif bagi perkembangan psikososial remaja:
- Peran Sentral Kelompok Dukungan Sebaya (Peer Support): Pada usia remaja, ikatan emosional dengan teman sebaya jauh lebih kuat dibandingkan dengan orang tua atau guru. Kelompok dukungan sebaya menciptakan ruang aman (safe space) bebas penghakiman (non-judgmental environment). Ketika remaja saling berbagi cerita dan mendengar pengalaman emosi temannya, mereka merasa divalidasi dan tidak sendirian, yang memicu refleksi diri secara instan.
- Stimulasi Visual Melalui Hulonthalo Emotion Card: Banyak remaja mengalami alexithymia—kondisi di mana mereka merasakan emosi yang tidak nyaman tetapi tidak tahu cara mengungkapkannya dengan kata-kata. Penggunaan media kartu emosi bertema lokal (Hulonthalo) ini bertindak sebagai jembatan visual. Kartu ini merangsang otak untuk mengasosiasikan simbol, warna, dan petunjuk visual pada kartu dengan suasana hati aktual yang sedang dialami, sehingga proses labeling emosi menjadi jauh lebih mudah dan interaktif.
- Peningkatan Komponen Kesadaran Diri: Intervensi ini secara struktural meningkatkan tiga komponen utama self-awareness: kesadaran emosional (tahu apa yang dirasakan), penilaian diri secara akurat (tahu batas kemampuan diri), dan kepercayaan diri (menghargai nilai diri sendiri).
Mengingat tingginya efektivitas penemuan dalam studi ini, para peneliti menekankan pentingnya mereplikasi metode ini secara massal sebagai agenda preventif kesehatan jiwa nasional di tingkat hulu:
- Restrukturisasi Program Konselor Sebaya: Pihak sekolah (khususnya guru Bimbingan Konseling/BK) diimbau untuk tidak sekadar melatih konselor sebaya secara teori, melainkan membekali mereka dengan media interaktif seperti Hulonthalo Emotion Card untuk memfasilitasi sesi curhat kelompok mini di sekolah.
- Integrasi Aktivitas Kesehatan Mental Berkala: Menyediakan ruang dan waktu khusus—seperti kegiatan ekstrakurikuler atau sesi penguatan karakter pascabencana/ujian—untuk melakukan peer support session guna mendeteksi dini indikasi stres emosional pada siswa.
- Pengembangan Media Edukasi Berbasis Budaya: Pemanfaatan nilai-nilai lokal dalam media psikologi terbukti mempermudah asimilasi materi oleh remaja daerah, sehingga pendekatan serupa patut dikembangkan di wilayah-wilayah lain di Indonesia.
Penelitian di Provinsi Gorontalo ini membuktikan bahwa menyelamatkan kesehatan mental generasi Z tidak selalu membutuhkan terapi medis yang mahal di rumah sakit, melainkan bisa dimulai dari lingkaran pertemanan yang sehat di sekolah, dipandu oleh media kreatif yang mampu menyentuh esensi emosi terdalam mereka.
Author: Annisa Hinelo, Vivien Novarina A Kasim, Mihrawaty S Antu, Muthia Qurrota Aini, Rifa Az Zahra Wardhany, Putri Sally Ufairah
Sources: https://salnesia.id/kepo/article/view/1423/492
#FKUNGgul
#kedokteranung