GORONTALO — Di balik kesibukan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) dengan perkuliahan, praktikum, buku-buku kedokteran, dan berbagai tuntutan akademik, ternyata tersimpan talenta seni yang mampu menembus panggung nasional. Hal tersebut dibuktikan oleh tiga mahasiswa FK UNG, Alya Zulfah Halada, Sania Wahyuniar Baderan, dan Fatimah Daniyah, yang berhasil menjadi wakil terbaik di tingkat Universitas Negeri Gorontalo dan selanjutnya dipercaya mewakili UNG pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026 di Universitas Jember, Jawa Timur.
Ketiganya akan tampil pada tiga tangkai lomba berbeda, yakni penulisan puisi, monolog, dan lukis. Capaian ini menjadi catatan bersejarah bagi FK UNG karena untuk pertama kalinya fakultas tersebut berhasil mengirimkan mahasiswa untuk berkompetisi dalam ajang Peksiminas, salah satu panggung seni mahasiswa tingkat nasional. Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan sisi lain mahasiswa kedokteran yang selama ini identik dengan aktivitas akademik yang padat. Di tengah tuntutan untuk menguasai ilmu dan keterampilan kedokteran, mahasiswa FK UNG mampu mengembangkan kreativitas serta menorehkan prestasi melalui bidang seni.
Kehadiran tiga mahasiswa FK UNG di Peksiminas XVIII juga menjadi bukti bahwa pengembangan potensi mahasiswa di perguruan tinggi tidak harus dibatasi oleh disiplin ilmu yang sedang ditempuh. Kemampuan akademik, kreativitas, ekspresi seni, komunikasi, dan keterampilan interpersonal dapat berkembang secara beriringan. Terlebih bagi mahasiswa kedokteran, pengalaman tersebut memberikan nilai tambah dalam proses pembentukan calon tenaga kesehatan. Kemampuan mengolah gagasan melalui karya seni, mengekspresikan emosi, membangun komunikasi, serta memahami perspektif manusia menjadi kompetensi yang dapat memperkaya proses pendidikan dan pembentukan karakter.
Prestasi tiga mahasiswa FK UNG tersebut mendapat perhatian khusus dari Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa kedokteran menembus ajang seni nasional menjadi kejutan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa FK memiliki potensi yang jauh lebih luas dari sekadar kemampuan akademik. “Ini sebuah kejutan. Selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran dikenal sebagai orang yang serius dan kutu buku. Tapi faktanya mereka mampu bersaing di tingkat universitas, kemudian berhasil mewakili UNG di tingkat nasional,” ungkap Eduart.Ia mengaku bangga melihat mahasiswa UNG, khususnya mahasiswa FK UNG, mampu mengembangkan potensi diri di luar bidang akademik dan membawa kemampuan tersebut hingga ke tingkat nasional.
Menurut Eduart, capaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa perlu diberikan ruang untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. Prestasi mahasiswa tidak hanya lahir dari bidang akademik, tetapi juga dapat tumbuh melalui seni, kreativitas, olahraga, organisasi, maupun berbagai aktivitas pengembangan diri lainnya. “Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki soft skill dan mampu berprestasi tidak hanya pada bidang akademik, tetapi juga di bidang seni,” tambahnya.Eduart juga memberikan apresiasi kepada ketiga mahasiswa FK UNG yang telah berhasil melewati proses seleksi dan persaingan di tingkat universitas hingga akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di Peksiminas XVIII.
Baginya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mahasiswa dan fakultas, tetapi juga menjadi bagian dari pencapaian Universitas Negeri Gorontalo dalam membangun ekosistem kemahasiswaan yang memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai talenta. Sementara itu, keikutsertaan FK UNG dalam Peksiminas XVIII menjadi momentum penting bagi fakultas untuk semakin memperluas pembinaan mahasiswa di berbagai bidang. Prestasi yang diraih tiga mahasiswa tersebut sekaligus membuka perspektif baru bahwa mahasiswa kedokteran dapat tetap berprestasi di bidang seni tanpa meninggalkan identitas akademiknya.
Pada Peksiminas XVIII, ketiga mahasiswa FK UNG akan bergabung bersama kontingen UNG yang mewakili BPSMI Provinsi Gorontalo. Secara keseluruhan, UNG mengirimkan 27 mahasiswa yang akan berkompetisi pada 19 tangkai lomba dalam ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut. Bagi Alya, Sania, dan Fatimah, kesempatan tampil di Peksiminas XVIII bukan sekadar kompetisi. Mereka membawa karya, kreativitas, dan semangat untuk menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran juga mampu berkarya di panggung seni nasional.
Untuk FK UNG, keberhasilan ini menjadi langkah awal sekaligus penanda bahwa talenta mahasiswa dapat tumbuh di berbagai ruang. Jas putih tidak hanya menyimpan semangat untuk menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga dapat menyimpan kreativitas, keberanian berkarya, dan mimpi untuk mengharumkan nama almamater di tingkat nasional. Keikutsertaan perdana FK UNG dalam Peksiminas XVIII diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengeksplorasi potensi diri, mengambil peluang, dan membuktikan bahwa prestasi dapat diraih melalui berbagai bidang.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran