Diabetes Bukan Hanya Soal Gula Darah, Penelitian di Gorontalo Ungkap Risiko Batu Empedu Hampir Tiga Kali Lebih Besar

Oleh: Jesica Mulyadi . 4 Juli 2026 . 09:00:43

Ketika mendengar diabetes melitus, kebanyakan orang langsung memikirkan gula darah tinggi, suntikan insulin, atau risiko luka yang sulit sembuh. Namun, banyak yang belum menyadari bahwa diabetes juga dapat memicu gangguan kesehatan lain yang kerap datang diam-diam, salah satunya adalah kolelitiasis atau batu empedu. Penyakit batu empedu sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Gejalanya pun kerap samar, mulai dari nyeri di perut kanan atas, mual setelah makan makanan berlemak, hingga rasa tidak nyaman pada perut yang sering disalahartikan sebagai maag. Padahal, jika tidak ditangani, batu empedu dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti peradangan kandung empedu, infeksi saluran empedu, hingga pankreatitis.

Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan temuan yang patut menjadi perhatian nasional. Studi yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe menunjukkan bahwa pasien dengan riwayat diabetes melitus memiliki risiko jauh lebih besar mengalami batu empedu dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita diabetes. Penelitian yang menganalisis 91 rekam medis pasien sepanjang tahun 2024 ini menemukan bahwa 49,5 persen pasien terdiagnosis suspek kolelitiasis. Artinya, hampir separuh pasien yang diperiksa menunjukkan tanda-tanda adanya batu empedu. Angka ini memperlihatkan bahwa kolelitiasis bukanlah kasus langka dan masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata di masyarakat. Temuan yang lebih menarik muncul ketika peneliti menelaah hubungan dengan diabetes.

Dari total responden, sebanyak 25 pasien memiliki riwayat diabetes melitus. Dari kelompok ini, 18 pasien mengalami kolelitiasis, angka yang menunjukkan keterkaitan kuat antara gangguan metabolik dan pembentukan batu empedu. Analisis statistik memperlihatkan hasil yang signifikan dengan p-value 0,008. Lebih jauh lagi, penelitian ini menghasilkan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799. Dalam bahasa sederhana, angka ini berarti pasien diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih besar untuk mengalami batu empedu dibandingkan dengan individu tanpa diabetes. Ini bukan angka kecil.

Temuan ini mengingatkan bahwa diabetes bukan hanya penyakit yang menyerang pankreas atau mengganggu kadar gula darah, tetapi juga memengaruhi banyak organ lain, termasuk kandung empedu. Lalu, mengapa diabetes bisa memicu batu empedu? Secara medis, kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat menyebabkan resistensi insulin dan gangguan metabolisme lemak. Kondisi ini meningkatkan sekresi kolesterol ke dalam cairan empedu. Ketika kadar kolesterol di empedu terlalu tinggi, cairan empedu menjadi lebih “kental” dan lebih mudah membentuk kristal yang lama-kelamaan berkembang menjadi batu. Tidak hanya itu, diabetes juga dapat memperlambat gerakan kandung empedu saat mengosongkan isinya.

Akibatnya, empedu lebih lama tertahan di kandung empedu dan endapan lebih mudah terbentuk. Kombinasi antara empedu yang kaya kolesterol dan motilitas kandung empedu yang menurun inilah yang menjadi “resep sempurna” terbentuknya batu empedu. Penelitian ini juga menemukan kelompok yang paling rentan terkena kolelitiasis adalah perempuan, yakni sebanyak 72,5 persen, serta kelompok usia 45–59 tahun yang mencapai 37,4 persen. Temuan tersebut selaras dengan berbagai penelitian global yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami batu empedu akibat pengaruh hormon estrogen terhadap metabolisme kolesterol. Sementara itu, risiko juga meningkat seiring bertambahnya usia karena fungsi metabolisme tubuh yang mulai menurun. Secara nasional, hasil penelitian ini membawa pesan penting bagi sistem kesehatan Indonesia.

Selama ini, pengelolaan diabetes sering berfokus pada komplikasi yang lebih dikenal masyarakat seperti gagal ginjal, stroke, penyakit jantung, atau gangguan penglihatan. Padahal, komplikasi hepatobilier seperti batu empedu juga perlu mendapat perhatian lebih. Artinya, kontrol diabetes seharusnya tidak hanya berorientasi pada angka gula darah. Pasien diabetes juga perlu memperhatikan pola makan rendah lemak jenuh, menjaga berat badan ideal, rutin beraktivitas fisik, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama jika mulai muncul keluhan nyeri perut kanan atas atau gangguan pencernaan berulang. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun sangat penting: diabetes yang tidak terkontrol dapat membuka pintu bagi banyak penyakit lain, termasuk batu empedu. Karena pada akhirnya, diabetes bukan sekadar soal mengurangi gula dalam makanan. Ia adalah penyakit metabolik kompleks yang menuntut perubahan gaya hidup secara menyeluruh. Dan sering kali, komplikasi yang paling berbahaya justru datang bukan dari gejala yang besar, melainkan dari masalah yang diam-diam tumbuh di dalam tubuh.

Sources: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3319/2845Author: Sevilaningsih, Sitti Rahma, AbdiDzul Ikram Hasanuddin, Sri Andriani Ibrahim, Nanang Roswita Paramata#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran