FK UNG: Edukasi Rapid Health Assessment Tingkatkan Kesiapsiagaan Mahasiswa Hadapi Bencana

Oleh: Jesica Mulyadi . 13 Juli 2026 . 22:45:13

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Kondisi geografis yang berada di kawasan cincin api (Ring of Fire) menjadikan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga tsunami sebagai ancaman yang dapat terjadi kapan saja. Dalam situasi tersebut, kecepatan tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi kebutuhan korban menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan darurat. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa edukasi Rapid Health Assessment (RHA) mampu meningkatkan secara signifikan pengetahuan mahasiswa kesehatan dalam merespons bencana.

Penelitian berjudul "Mengatasi Ilusi Pengetahuan: Edukasi RHA Mengubah Pemahaman menjadi Kompetensi Operasional dalam Respons Bencana" dilakukan oleh Taqi Akilah Halid bersama tim peneliti yang terdiri atas Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes., Romy Abdul, Sri Manovita Pateda, dan Muhamad Nur Syukriani Yusuf. Penelitian ini dipublikasikan dalam Galen: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan Volume 2 Nomor 1 Tahun 2026.

Rapid Health Assessment (RHA) merupakan proses pengkajian kesehatan secara cepat yang dilakukan segera setelah terjadi bencana. Tujuannya adalah mengidentifikasi dampak kesehatan, kebutuhan pelayanan medis, kondisi lingkungan, serta menentukan prioritas intervensi agar penanganan korban dapat dilakukan secara cepat dan tepat. RHA menjadi salah satu komponen penting pada fase tanggap darurat karena menjadi dasar pengambilan keputusan dalam penanggulangan bencana.

Penelitian menggunakan desain quasi-pre-experimental dengan pendekatan one-group pre-test and post-test. Sebanyak 30 mahasiswa angkatan 2022 dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Intervensi dilakukan melalui metode ceramah dan diskusi interaktif mengenai konsep serta implementasi Rapid Health Assessment.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, mayoritas mahasiswa hanya memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup (53,3 persen), sedangkan kategori baik sebesar 43,3 persen dan kurang baik 3,3 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun seluruh responden mengaku telah mengenal konsep RHA, pemahaman mereka masih belum mendalam.

Setelah mengikuti edukasi, terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Sebanyak 93,3 persen mahasiswa mencapai kategori pengetahuan baik, sementara hanya 6,7 persen yang masih berada pada kategori cukup. Tidak ada lagi mahasiswa dengan kategori pengetahuan kurang baik setelah intervensi diberikan.

Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test memperkuat temuan tersebut. Penelitian memperoleh nilai p < 0,001, yang menunjukkan bahwa edukasi memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap peningkatan pengetahuan mahasiswa mengenai Rapid Health Assessment. Dengan kata lain, pembelajaran yang terstruktur mampu meningkatkan kapasitas kognitif mahasiswa dalam memahami konsep dan prosedur penanganan kesehatan pada situasi bencana.

Peneliti juga mengidentifikasi adanya fenomena "illusion of knowing" atau ilusi pengetahuan. Sebelum edukasi, seluruh responden merasa telah mengetahui RHA, namun hasil pengukuran objektif menunjukkan bahwa sebagian besar pemahaman mereka masih berada pada tingkat sedang. Setelah mendapatkan materi secara sistematis melalui ceramah interaktif dan diskusi, pemahaman mahasiswa meningkat secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa mengenal suatu konsep belum tentu berarti mampu menerapkannya dalam situasi nyata.

Menurut peneliti, keberhasilan edukasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penyampaian materi yang terstruktur, metode pembelajaran yang interaktif, serta kompetensi pemateri yang mampu menjelaskan konsep secara komprehensif. Diskusi dua arah memungkinkan mahasiswa membangun pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan dengan hanya menerima informasi secara pasif.

Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah keterbatasan. Intervensi yang dilakukan masih berfokus pada peningkatan aspek pengetahuan (kognitif) tanpa mengukur keterampilan praktik maupun sikap mahasiswa saat menghadapi bencana. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengombinasikan edukasi dengan simulasi lapangan, pelatihan berbasis skenario, serta evaluasi jangka panjang guna memastikan kompetensi mahasiswa benar-benar siap diterapkan pada kondisi darurat.

Melalui penelitian ini, tim peneliti berharap institusi pendidikan dan pemerintah daerah dapat memperkuat pendidikan kebencanaan melalui integrasi materi Rapid Health Assessment ke dalam kurikulum, pelaksanaan simulasi secara berkala, serta kolaborasi lintas profesi kesehatan. Dengan demikian, lulusan tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kompetensi operasional yang siap diterapkan ketika bencana terjadi.    

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran