GORONTALO – Gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung bawah, osteoarthritis, cedera olahraga, hingga ketegangan otot masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia. Di tengah tingginya angka kasus tersebut, terapi nonfarmakologis semakin mendapat perhatian sebagai bagian penting dalam rehabilitasi medis. Salah satunya adalah terapi inframerah, metode pemanasan superfisial yang terbukti membantu mengurangi nyeri dan mempercepat pemulihan fungsi gerak.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Volume 4 Nomor 5 Tahun 2026, tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) menunjukkan bahwa edukasi berbasis observasi klinis mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai terapi inframerah sekaligus memperkuat keterampilan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain di rumah sakit.
Kegiatan yang dipimpin oleh Astri Anita bersama Dr. dr. Vivien Novarina A. Kasim, M.Kes., Serly Daud, dan Muhamad Nur Syukriani Yusuf melibatkan 44 mahasiswa mata kuliah pilihan Kedokteran Komplementer yang melakukan pembelajaran di empat rumah sakit mitra. Program dirancang menggunakan pendekatan observational-based educational intervention dengan metode one-group post-test evaluation, mengombinasikan pembekalan teori di kelas, diskusi interaktif, serta observasi langsung praktik terapi infrared di unit rehabilitasi medik yang didampingi fisioterapis.Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1,71 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan muskuloskeletal. Kondisi ini menjadi penyebab utama disabilitas jangka panjang dan berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat. Di Indonesia, gangguan muskuloskeletal juga menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Penyakit ini menempati urutan kedua sebagai penyakit akibat kerja yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi nasional sekitar 7,3 persen. Keluhan seperti nyeri punggung bawah dan osteoarthritis menjadi diagnosis yang paling banyak dirujuk ke layanan rehabilitasi medik.
Selain menurunkan kemampuan bergerak, gangguan muskuloskeletal juga menyebabkan meningkatnya angka ketidakhadiran kerja, hilangnya produktivitas, serta beban ekonomi yang besar. Secara global, kerugian ekonomi akibat penyakit muskuloskeletal diperkirakan mencapai USD 2,1 triliun pada tahun 2021, sehingga diperlukan strategi penanganan yang lebih komprehensif.
Terapi infrared merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang memanfaatkan radiasi gelombang elektromagnetik untuk menghasilkan efek panas pada jaringan tubuh. Panas tersebut bekerja untuk meningkatkan aliran darah lokal, memperbaiki metabolisme jaringan, mengurangi ketegangan otot, serta membantu meredakan nyeri melalui mekanisme gate control dan pelepasan endorfin alami tubuh. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa terapi panas superfisial, termasuk infrared, efektif sebagai terapi pendukung pada berbagai kondisi seperti nyeri kronis, spasme otot, cedera olahraga, hingga pemulihan pascatrauma. Selain mengurangi rasa nyeri, terapi ini juga membantu meningkatkan rentang gerak sendi, memperbaiki fleksibilitas jaringan, dan mempercepat relaksasi otot.
Meski demikian, penggunaan terapi infrared harus dilakukan sesuai indikasi medis dan memperhatikan kontraindikasi, dosis, serta teknik aplikasi yang benar agar manfaatnya optimal dan risiko efek samping dapat diminimalkan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap pelaksanaan terapi infrared pada pasien di unit rehabilitasi medik. Melalui pendampingan fisioterapis, mahasiswa mempelajari prinsip kerja alat, indikasi dan kontraindikasi terapi, prosedur pelaksanaan, hingga aspek keselamatan pasien. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata mengenai bagaimana terapi nonfarmakologis diterapkan dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.
Evaluasi dilakukan menggunakan post-test terstruktur yang menilai pemahaman mahasiswa mengenai tata laksana terapi, indikasi, kontraindikasi, serta aspek keselamatan pasien. Hasilnya menunjukkan seluruh 44 mahasiswa memperoleh kategori pemahaman baik, dengan rentang nilai 80–90. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis observasi klinis efektif menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di rumah sakit. Selain meningkatkan pemahaman akademik, metode ini juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam mengambil keputusan klinis serta memahami pentingnya kerja sama antarprofesi kesehatan.
Penelitian ini menyoroti bahwa pelayanan rehabilitasi modern tidak dapat dilakukan oleh satu profesi saja. Penanganan pasien dengan gangguan muskuloskeletal membutuhkan kolaborasi erat antara dokter, fisioterapis, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya agar proses pemulihan berlangsung optimal. Oleh karena itu, pengenalan terapi rehabilitatif sejak masa pendidikan dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk dokter yang memiliki kompetensi holistik dan mampu bekerja secara kolaboratif di fasilitas pelayanan kesehatan.
Tim peneliti menilai bahwa pembelajaran berbasis observasi klinis memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan dengan pembelajaran teori semata. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep ilmiah mengenai terapi inframerah, tetapi juga dapat melihat langsung penerapannya pada pasien serta memahami peran masing-masing profesi dalam proses rehabilitasi.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo berharap pendidikan kedokteran semakin mengedepankan pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan klinis, dan kolaborasi interprofesional. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern serta memberikan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan dan kualitas hidup pasien.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran