Bersin berulang saat pagi hari, hidung tersumbat, pilek tanpa sebab jelas, atau rasa gatal di hidung sering dianggap keluhan ringan yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Banyak orang memilih membiarkannya, menganggap itu sekadar alergi biasa atau masalah musiman. Padahal, di balik gejala yang tampak sepele itu, ada dampak yang jauh lebih besar terhadap kualitas hidup—terutama bagi mahasiswa yang dituntut tetap produktif setiap hari.
Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta yang patut menjadi perhatian. Rinitis alergi, penyakit peradangan kronis pada saluran napas atas akibat reaksi terhadap alergen, ternyata memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup mahasiswa Fakultas Kedokteran. Temuan ini menjadi pengingat bahwa gangguan kesehatan yang tampak “ringan” sekalipun dapat berdampak besar pada aktivitas sehari-hari.
Penelitian yang melibatkan 131 mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG ini menunjukkan bahwa 46,6 persen responden mengalami rinitis alergi. Artinya, hampir 1 dari 2 mahasiswa hidup dengan gejala alergi yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan produktivitas mereka. Angka ini cukup tinggi, terlebih jika mengingat mahasiswa kedokteran termasuk kelompok usia produktif yang memiliki beban akademik berat. Jadwal kuliah padat, tugas menumpuk, praktik laboratorium, serta tekanan akademik tinggi menuntut konsentrasi dan stamina optimal setiap hari. Masalahnya, rinitis alergi tidak berhenti pada gejala bersin atau pilek.
Gejala seperti hidung tersumbat kronis, rinore (hidung berair), bersin berulang, dan gatal pada hidung dapat mengganggu kualitas tidur. Saat tidur terganggu, efek berantai mulai muncul: tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, suasana hati memburuk, hingga performa akademik ikut terdampak. Penelitian ini menemukan bahwa dari 61 mahasiswa yang mengalami rinitis alergi, 17 mahasiswa (13%) memiliki kualitas hidup buruk, 23 mahasiswa (17,6%) memiliki kualitas hidup sedang, dan hanya 21 mahasiswa (16%) yang tetap memiliki kualitas hidup baik. Sementara itu, mahasiswa yang tidak mengalami rinitis alergi cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik.
Secara statistik, hasilnya sangat jelas. Uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,000, yang berarti terdapat hubungan yang sangat signifikan antara rinitis alergi dan kualitas hidup mahasiswa. Dengan kata lain, semakin berat gejala rinitis alergi yang dialami, semakin besar pula risiko penurunan kualitas hidup. Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Secara medis, rinitis alergi terjadi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap alergen seperti debu, tungau, serbuk sari, bulu hewan, jamur, atau polusi udara. Saat alergen masuk ke saluran pernapasan, tubuh melepaskan histamin dan mediator inflamasi lain yang memicu gejala alergi.
Di lingkungan kampus, paparan alergen bisa datang dari banyak sumber: ruang kelas berdebu, AC yang jarang dibersihkan, polusi kendaraan, hingga stres yang dapat memperburuk respons imun. Menariknya, penelitian ini juga menyoroti bahwa faktor gaya hidup modern ikut memperparah kondisi. Kurang tidur, stres akademik, pola makan tidak sehat, dan kebiasaan merokok dapat memperburuk gejala rinitis alergi. Artinya, persoalan ini bukan semata soal alergi. Ada keterkaitan erat antara kesehatan fisik, kondisi psikologis, dan lingkungan hidup mahasiswa.
Secara nasional, temuan ini memberi pesan penting bagi dunia pendidikan dan kesehatan Indonesia. Selama ini, rinitis alergi sering dianggap keluhan ringan yang tidak membutuhkan perhatian khusus. Padahal, dampaknya terhadap produktivitas generasi muda bisa sangat nyata. Bayangkan jika hampir separuh mahasiswa di suatu institusi mengalami gangguan tidur, sulit fokus saat kuliah, dan penurunan performa akibat gejala alergi kronis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi akademik, kesehatan mental, hingga kualitas sumber daya manusia. Karena itu, edukasi mengenai rinitis alergi perlu diperkuat.
Mahasiswa perlu memahami pentingnya mengenali pemicu alergi, menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki pola tidur, mengelola stres, dan mencari pertolongan medis ketika gejala mulai mengganggu aktivitas. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun penting: hidung tersumbat bukan selalu keluhan sepele. Kadang, gejala kecil yang diabaikan setiap hari justru menjadi faktor yang perlahan menggerus kualitas hidup. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal terbebas dari penyakit berat, tetapi juga tentang kemampuan menjalani aktivitas harian dengan nyaman, fokus, dan produktif. Dan bagi generasi muda Indonesia, menjaga kualitas hidup berarti menjaga masa depan.
Sources: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3222/2763Author: Dafa Yodya Pratidina, Helen M. Y. Nazaruddin, Muhammad Nur Syukriani Yusuf, Cecy Rahma Karim, Nanang Roswita Paramata#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran