Gorontalo – Banyak orang menganggap hipertensi hanya dialami oleh lansia atau mereka yang memiliki riwayat penyakit keturunan. Padahal, kebiasaan makan sehari-hari justru menjadi salah satu faktor terbesar yang menentukan apakah seseorang akan mengalami tekanan darah tinggi atau tidak. Konsumsi makanan tinggi garam, lemak, dan rendah serat yang berlangsung dalam waktu lama perlahan dapat merusak kesehatan pembuluh darah tanpa disadari. Fenomena tersebut kembali ditegaskan melalui penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Kolaboratif Sains edisi Januari 2026 menemukan adanya hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa hipertensi bukan hanya persoalan usia, tetapi juga erat kaitannya dengan pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Kebiasaan sederhana seperti terlalu sering mengonsumsi ikan asin, makanan instan, gorengan, atau makanan yang kaya penyedap rasa ternyata dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi secara bertahap. Hipertensi sendiri merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang berada di atas 140/90 mmHg. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena pada sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak penderita baru mengetahui bahwa mereka mengalami hipertensi setelah terjadi komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari satu miliar penduduk dunia hidup dengan hipertensi, dan jumlah tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia, hipertensi juga masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit tidak menular. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian hipertensi tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan, tetapi harus dimulai dari perubahan gaya hidup. Penelitian di Bonepantai memberikan gambaran nyata mengenai kondisi tersebut. Dari 71 peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang menjadi responden, lebih dari separuh memiliki pola makan yang tergolong kurang baik. Hampir separuh responden juga diketahui menderita hipertensi. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi, yang berarti semakin buruk pola makan seseorang, semakin besar pula peluang mengalami tekanan darah tinggi.
Menurut peneliti, kondisi ini tidak terlepas dari karakteristik masyarakat pesisir yang relatif mudah memperoleh makanan dengan kandungan garam tinggi, seperti ikan asin, maupun makanan yang digoreng dan menggunakan penyedap rasa dalam jumlah besar. Konsumsi makanan tersebut secara terus-menerus menyebabkan asupan natrium menjadi berlebihan.
Ketika natrium masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang tinggi, ginjal akan kesulitan membuang kelebihannya. Akibatnya, tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga volume darah meningkat. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan tekanan pada pembuluh darah pun meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, pembuluh darah dapat mengalami kerusakan dan memicu berbagai penyakit kardiovaskular.
Selain garam, tingginya konsumsi makanan berlemak juga memperbesar risiko hipertensi. Lemak jenuh yang dikonsumsi secara berlebihan dapat mempercepat terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak membuat aliran darah menjadi tidak lancar sehingga tekanan darah semakin meningkat.
Sebaliknya, penelitian ini juga mengingatkan pentingnya memperbanyak konsumsi buah dan sayuran. Kandungan kalium, serat, vitamin, dan antioksidan pada bahan pangan tersebut berperan dalam membantu menjaga elastisitas pembuluh darah serta menyeimbangkan efek natrium di dalam tubuh. Sayangnya, konsumsi buah dan sayuran masih tergolong rendah pada sebagian masyarakat sehingga manfaat perlindungan terhadap tekanan darah belum diperoleh secara optimal.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam pola makan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Mengurangi konsumsi garam, membatasi makanan olahan dan gorengan, memperbanyak sayuran, buah, serta memilih metode memasak yang lebih sehat merupakan langkah sederhana yang terbukti membantu menurunkan risiko hipertensi.
Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini menjadi masukan penting bagi tenaga kesehatan, khususnya di layanan kesehatan primer. Edukasi mengenai pola makan sehat perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya kepada pasien hipertensi, tetapi juga kepada masyarakat yang masih sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan. Program seperti Prolanis dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga tekanan darah melalui perubahan gaya hidup.
Pada akhirnya, hipertensi bukanlah penyakit yang muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini berkembang perlahan sebagai akumulasi dari berbagai kebiasaan yang dilakukan setiap hari, termasuk pilihan makanan di meja makan. Karena itu, menjaga pola makan seimbang sejak dini merupakan investasi kesehatan yang sangat penting untuk menurunkan risiko hipertensi sekaligus mencegah komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal di kemudian hari.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran