BONE BOLANGO – Sebuah penelitian kesehatan masyarakat terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Medical and Health Science Journal (Agustus 2026) membawa pesan krusial bagi masa depan generasi muda Indonesia. Studi yang dilakukan di wilayah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini mengidentifikasi bahwa asupan zat gizi harian serta pemenuhan mikronutrien memegang peranan paling determinan dalam memicu atau mencegah kejadian anemia di kalangan remaja putri sekolah menengah atas (SMA). Anemia, atau kondisi kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah ($< 12\text{ g/dL}$ bagi remaja putri), hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan berat dalam agenda pembenahan gizi nasional. Remaja putri merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami anemia akibat kehilangan darah rutin setiap bulan melalui siklus menstruasi, ditambah dengan adanya fase pertumbuhan cepat (growth spurt) yang membutuhkan pasokan zat besi dua kali lipat lebih banyak.
Penelitian kuantitatif kuasalitas ini melibatkan ratusan remaja putri usia reproduktif di beberapa sekolah di Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Menggunakan metode analisis data regresi logistik ganda, para peneliti membedah berbagai faktor risiko yang meliputi asupan energi, protein, zat besi (Fe), Vitamin B6, Vitamin B12, Vitamin C, tingkat keragaman pangan, hingga faktor pola menstruasi harian. Hasil pemodelan statistik akhir membongkar akar masalah yang sangat spesifik mengenai penyebab tingginya kasus anemia pada siswi sekolah:
Mengapa perhatian nasional harus tertuju pada anemia remaja putri? Secara klinis, pasokan oksigen yang minim ke otak akibat rendahnya hemoglobin akan memicu gejala 5L (Lemas, Letih, Lesu, Lelah, Lalai), yang secara langsung menurunkan konsentrasi belajar dan merosotkan prestasi akademik siswi di sekolah. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya bagi siklus kehidupan. Remaja putri yang menderita anemia di masa sekolah berisiko tinggi tumbuh menjadi calon ibu hamil yang anemia. Kondisi ini meningkatkan potensi melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), melahirkan secara prematur, dan menjadi pemicu utama lahirnya anak dengan kondisi gagal tumbuh atau stunting. Dengan kata lain, mengatasi anemia pada remaja putri hari ini adalah langkah hulu untuk memutus mata rantai stunting nasional di masa depan.
Menindaklanjuti temuan riset di Kabupaten Bone Bolango ini, para ahli kesehatan merekomendasikan tiga langkah strategis terpadu yang harus digalakkan di tingkat sekolah maupun rumah tangga:
Studi ilmiah ini menegaskan kembali secara nasional bahwa pemenuhan hak gizi bagi remaja putri bukan sekadar urusan kesehatan individu, melainkan investasi strategis jangka panjang demi mencetak generasi emas Indonesia yang cerdas, produktif, dan bebas stunting.
Author: Amanda Iin Melisa P.H. Harun, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34999/pdf
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran