Bagi orang dewasa, rumah sakit mungkin identik dengan tempat untuk mencari kesembuhan. Namun bagi anak-anak, terutama usia prasekolah, rumah sakit sering kali justru menjadi tempat yang menakutkan. Bau obat, suara alat medis, jarum suntik, hingga sosok dokter dan perawat yang belum dikenal bisa memicu ketakutan besar. Tidak heran jika banyak anak menangis, menolak diperiksa, bahkan mengalami trauma selama menjalani perawatan. Fenomena ini bukan sekadar persoalan emosi sesaat. Kecemasan berlebihan pada anak selama hospitalisasi dapat mengganggu proses penyembuhan, memperburuk kerja sama saat tindakan medis, hingga meninggalkan pengalaman traumatis jangka panjang.
Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan temuan yang menarik sekaligus memberi harapan baru bagi dunia kesehatan anak di Indonesia. Studi yang dilakukan di RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto menunjukkan bahwa afirmasi positif terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasan anak selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Afirmasi positif terdengar sederhana, hanya berupa kalimat-kalimat baik yang diucapkan berulang, seperti “Adik hebat”, “Dokter akan membantu adik sembuh”, atau “Rumah sakit adalah tempat agar adik cepat sehat.” Namun, di balik kesederhanaannya, kata-kata ini ternyata memiliki dampak psikologis yang besar. Penelitian tersebut melibatkan 38 anak yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sebelum intervensi dilakukan, mayoritas anak berada pada tingkat kecemasan sedang. Mereka menunjukkan berbagai tanda kecemasan, mulai dari wajah tegang, menangis, gelisah, napas lebih cepat, hingga menolak saat didekati tenaga kesehatan. Kondisi ini sebenarnya sangat umum.
Bagi anak, hospitalisasi berarti keluar dari zona nyaman. Mereka harus beradaptasi dengan tempat asing, rutinitas yang berubah, serta prosedur medis yang sering kali menimbulkan rasa sakit. Ketika anak tidak memahami apa yang sedang terjadi, rasa takut menjadi respons yang wajar. Yang menarik, setelah anak mendapatkan afirmasi positif secara rutin menggunakan media visual seperti flashcard berwarna, tingkat kecemasan mereka menurun secara signifikan. Sebagian anak yang sebelumnya mengalami kecemasan sedang beralih ke tingkat kecemasan ringan, bahkan ada yang kembali ke kondisi normal. Secara statistik, hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,000, yang berarti perubahan tersebut sangat signifikan.
Sebaliknya, pada kelompok anak yang tidak mendapatkan afirmasi positif, tingkat kecemasan cenderung tidak berubah, bahkan pada beberapa kasus justru meningkat. Ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi psikologis yang tepat, pengalaman hospitalisasi dapat tetap menjadi sumber stres yang berat bagi anak. Lalu mengapa afirmasi positif bisa bekerja? Secara psikologis, kata-kata positif membantu membentuk persepsi aman pada anak. Saat anak mendengar kalimat yang menenangkan secara berulang, otak mulai mengurangi respons ancaman terhadap lingkungan sekitar. Tubuh menjadi lebih relaks, ketegangan otot berkurang, dan hormon stres menurun.
Dengan kata lain, afirmasi positif membantu “menerjemahkan” rumah sakit dari tempat yang menakutkan menjadi tempat yang aman. Temuan ini membawa pesan penting bagi sistem pelayanan kesehatan Indonesia. Selama ini, fokus pelayanan rumah sakit sering tertuju pada penanganan fisik pasien. Padahal pada anak, penyembuhan tidak hanya bergantung pada obat dan tindakan medis, tetapi juga pada rasa aman secara emosional. Anak yang tenang cenderung lebih kooperatif, lebih mudah menerima terapi, dan memiliki pengalaman perawatan yang lebih baik. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendampingan orang tua, cara komunikasi keluarga, dan bagaimana orang tua memperkenalkan dokter atau perawat kepada anak sangat memengaruhi tingkat kecemasan. Sayangnya, masih banyak orang tua yang tanpa sadar justru menambah rasa takut anak dengan kalimat seperti “Kalau nakal nanti disuntik dokter.” Kalimat semacam ini tampak sepele, tetapi dapat membangun citra negatif terhadap tenaga kesehatan sejak dini.
Secara nasional, temuan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan anak harus semakin ramah psikologis. Rumah sakit perlu memperkuat pendekatan child-friendly care, termasuk komunikasi yang hangat, ruang perawatan yang lebih bersahabat, hingga intervensi sederhana seperti afirmasi positif.
Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun bermakna besar: kata-kata yang baik dapat menjadi bagian dari terapi penyembuhan. Karena pada akhirnya, bagi seorang anak, keberanian menghadapi rumah sakit sering kali tidak lahir dari alat medis canggih atau obat mahal, melainkan dari rasa aman yang tumbuh melalui pelukan, pendampingan, dan kata-kata penuh kasih. Dan terkadang, kalimat sederhana seperti “Adik hebat, semuanya akan baik-baik saja” bisa menjadi obat pertama yang menenangkan hati mereka.
Sources: https://jos.unsoed.ac.id/index.php/mhj/article/view/14871/7262Author: Dewi Carlina Parawouw, Nanang Roswita Paramata, Mihrawaty Antu#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran