Gorontalo – Jatuh merupakan salah satu komplikasi yang paling sering dialami oleh lansia penyintas stroke. Namun, yang sering luput dari perhatian bukan hanya cedera fisiknya, melainkan juga dampak psikologis berupa Fear of Falling (FOF) atau ketakutan untuk jatuh kembali. Kondisi ini dapat membuat lansia semakin membatasi aktivitas sehari-hari, kehilangan kepercayaan diri, hingga menurunkan kualitas hidup. Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa selama hampir dua dekade terakhir angka kejadian stroke terus meningkat secara global. Selain menyebabkan gangguan fungsi otak, stroke juga meninggalkan berbagai dampak jangka panjang, terutama pada kelompok lanjut usia. Gangguan keseimbangan, kelemahan otot, penurunan koordinasi gerak, hingga gangguan fungsi kognitif membuat penyintas stroke memiliki risiko jatuh yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lansia sehat. Di Indonesia sendiri, stroke masih menjadi masalah kesehatan yang serius. Data Riskesdas menunjukkan prevalensi stroke di Provinsi Gorontalo mencapai 10,9%, setara dengan rata-rata nasional.
Jatuh Bukan Sekadar CederaBanyak orang menganggap jatuh hanya menyebabkan luka fisik. Padahal, bagi lansia pascastroke, pengalaman jatuh sering meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Perasaan takut untuk kembali terjatuh atau Fear of Falling (FOF) membuat lansia menjadi enggan berjalan, berolahraga, bahkan melakukan aktivitas sederhana seperti mandi, memasak, atau keluar rumah. Akibatnya, aktivitas fisik semakin berkurang, otot semakin melemah, keseimbangan menurun, dan risiko jatuh justru menjadi semakin besar. Kondisi tersebut menciptakan lingkaran yang sulit diputus apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Mengapa Fear of Falling Berbahaya?Fear of Falling sebenarnya merupakan mekanisme perlindungan diri yang wajar. Namun, apabila ketakutan muncul secara berlebihan, dampaknya justru merugikan kesehatan lansia. Lansia yang mengalami Fear of Falling cenderung: mengurangi aktivitas fisik; lebih banyak duduk atau berbaring; kehilangan kepercayaan diri; mengalami penurunan kekuatan otot; kehilangan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut meningkatkan risiko disabilitas, depresi, isolasi sosial, hingga ketergantungan terhadap keluarga.
Faktor yang Memengaruhi Risiko JatuhPenelitian menjelaskan bahwa risiko jatuh pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: pertambahan usia; kelemahan otot akibat stroke; gangguan keseimbangan; gangguan koordinasi gerak; penyakit kronis; penggunaan obat-obatan tertentu; kondisi lingkungan yang tidak aman, seperti lantai licin, pencahayaan yang kurang, atau tidak tersedianya pegangan di rumah. Karena itu, pencegahan jatuh memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mencakup kondisi fisik, psikologis, maupun lingkungan tempat tinggal pasien.
Rehabilitasi Tidak Hanya Memulihkan FisikPeneliti menekankan bahwa pelayanan kesehatan bagi lansia pascastroke perlu mengintegrasikan rehabilitasi fisik dengan pendampingan psikologis. Tenaga kesehatan di poli saraf dapat berperan melalui: edukasi mengenai pencegahan jatuh; latihan keseimbangan dan kekuatan otot; rehabilitasi yang disesuaikan dengan kemampuan pasien; konseling untuk mengurangi rasa takut berlebihan; pelibatan keluarga sebagai pendamping utama selama proses pemulihan. Dengan pendekatan tersebut, lansia tidak hanya lebih aman dari risiko jatuh, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Membangun Lansia yang Lebih MandiriPenelitian ini memberikan pesan penting bahwa keberhasilan rehabilitasi stroke tidak cukup diukur dari pulihnya kemampuan berjalan atau bergerak. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan pasien untuk kembali merasa aman, percaya diri, dan mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Fear of Falling bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan kondisi psikologis yang dapat memperburuk pemulihan apabila tidak ditangani sejak dini. Oleh karena itu, skrining risiko jatuh, edukasi pasien, rehabilitasi fisik, dukungan psikologis, serta keterlibatan keluarga perlu menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan bagi lansia pascastroke agar kualitas hidup mereka dapat terus terjaga.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran