Kolaborasi Buah Naga dan Jahe Berpotensi Tingkatkan Hemoglobin Remaja Putri, Penelitian Ungkap Manfaat Ganda sebagai Minuman Fungsional

Oleh: Jesica Mulyadi . 18 Juli 2026 . 23:27:44

GORONTALO – Anemia masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang banyak dialami remaja putri di Indonesia maupun di dunia. Kondisi yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah ini tidak hanya menyebabkan tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, hingga produktivitas pada masa pertumbuhan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jambura Journal of Food Technology (JJFT) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026 menunjukkan bahwa kombinasi jus buah naga merah dengan penambahan ekstrak jahe berpotensi menjadi minuman fungsional yang mampu meningkatkan kadar hemoglobin sekaligus memberikan aktivitas antioksidan yang tinggi.

Masa remaja merupakan periode penting yang ditandai dengan pertumbuhan pesat dan meningkatnya kebutuhan zat gizi, terutama zat besi. Pada remaja putri, kebutuhan tersebut semakin tinggi karena adanya menstruasi yang menyebabkan kehilangan darah setiap bulan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari separuh remaja perempuan di negara berkembang berisiko mengalami anemia. Rendahnya kadar hemoglobin dapat mengganggu distribusi oksigen ke seluruh tubuh sehingga berdampak pada kemampuan belajar, aktivitas fisik, hingga kesehatan jangka panjang. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap anemia adalah pola makan yang kurang memenuhi kebutuhan zat besi. Oleh karena itu, pemanfaatan pangan lokal yang kaya zat besi dan antioksidan menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan sebagai upaya pencegahan.

Buah naga merah dikenal memiliki kandungan zat besi, vitamin C, flavonoid, antosianin, betalain, serta berbagai senyawa antioksidan yang berperan menangkal radikal bebas. Kandungan zat besi dalam buah naga membantu pembentukan hemoglobin, sedangkan vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh. Sementara itu, jahe merupakan rempah yang kaya akan senyawa bioaktif seperti gingerol, shogaol, zingeron, flavonoid, alkaloid, dan saponin yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Selain memberikan efek antiinflamasi, jahe juga berpotensi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat stres oksidatif. Melalui kombinasi kedua bahan tersebut, peneliti berupaya menghasilkan minuman fungsional yang tidak hanya bernilai gizi, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang lebih optimal.

Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan empat perlakuan penambahan ekstrak jahe, yaitu 0 persen, 10 persen, 20 persen, dan 30 persen ke dalam jus buah naga merah. Setiap perlakuan menggunakan 200 gram buah naga merah sebagai bahan utama. Selain menganalisis karakteristik fisik dan kimia produk seperti aktivitas antioksidan, kadar air, pH, serta uji organoleptik, penelitian juga mengevaluasi perubahan kadar hemoglobin pada 30 remaja putri SMP Negeri 1 Botupingge. Responden dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri atas 15 orang. Kelompok pertama mengonsumsi jus buah naga, sedangkan kelompok kedua mengonsumsi jus buah naga dengan penambahan ekstrak jahe selama tujuh hari. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak jahe yang ditambahkan, semakin tinggi pula aktivitas antioksidan minuman yang dihasilkan. Perlakuan dengan 30 persen ekstrak jahe menghasilkan nilai inhibisi tertinggi sebesar 92,95 persen, menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menangkal radikal bebas. Nilai IC50 yang diperoleh juga berada pada kisaran 23,57–35,52 ppm, yang mengindikasikan aktivitas antioksidan sangat kuat. Analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan ekstrak jahe memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan aktivitas antioksidan jus buah naga.

Selain meningkatkan aktivitas antioksidan, penambahan ekstrak jahe juga memengaruhi karakteristik fisik minuman. Kadar air meningkat dari sekitar 86,4 persen menjadi 89,8 persen, seiring bertambahnya konsentrasi jahe. Nilai pH juga meningkat dari 5,34 menjadi 6,47, yang menunjukkan perubahan tingkat keasaman akibat penambahan ekstrak jahe. Perubahan tersebut dinilai masih sesuai dengan karakteristik bahan baku, mengingat jahe memiliki kandungan air tinggi dan tingkat keasaman yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan buah naga.

Dari sisi organoleptik, warna jus relatif tetap disukai panelis karena pigmen merah alami buah naga tetap mendominasi meskipun ditambahkan ekstrak jahe. Namun, peningkatan konsentrasi jahe menyebabkan tingkat kesukaan terhadap aroma dan rasa menurun. Aroma khas serta sensasi pedas dari senyawa gingerol dan shogaol membuat panelis lebih menyukai jus buah naga tanpa tambahan jahe atau dengan konsentrasi jahe yang lebih rendah. Sementara itu, tekstur minuman tidak mengalami perubahan yang bermakna meskipun terdapat sedikit penurunan tingkat kesukaan pada konsentrasi jahe yang lebih tinggi.

Temuan paling penting dalam penelitian ini terlihat pada perubahan kadar hemoglobin remaja putri. Kelompok yang hanya mengonsumsi jus buah naga mengalami peningkatan rata-rata hemoglobin sebesar 0,34 g/dL. Sebaliknya, kelompok yang mengonsumsi jus buah naga dengan penambahan ekstrak jahe mengalami peningkatan yang jauh lebih besar, yakni 1,96 g/dL setelah tujuh hari konsumsi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi buah naga merah dan ekstrak jahe memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kadar hemoglobin dibandingkan dengan jus buah naga tanpa tambahan jahe. Peneliti menilai efek tersebut kemungkinan didukung oleh kombinasi kandungan zat besi, vitamin C, serta senyawa antioksidan yang bekerja membantu pembentukan hemoglobin dan meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan buah naga merah dan jahe tidak hanya memberikan nilai tambah pada hasil pertanian lokal, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai minuman fungsional untuk membantu pencegahan anemia, khususnya pada remaja putri. Meski demikian, peneliti juga mencatat bahwa formulasi produk tetap perlu mempertimbangkan aspek cita rasa agar manfaat kesehatan dapat diimbangi dengan tingkat penerimaan konsumen. Pengembangan komposisi yang lebih seimbang diharapkan dapat menghasilkan minuman fungsional yang efektif, bergizi, sekaligus disukai masyarakat. Temuan ini memperkuat pentingnya inovasi pangan berbasis bahan lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan status gizi remaja dan mendukung pencegahan anemia melalui pendekatan yang lebih alami, mudah diakses, dan berkelanjutan.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran