GORONTALO – Selama ini tongkol dan daun jagung umumnya hanya dianggap sebagai limbah pertanian yang dibuang atau dibakar setelah panen. Namun, penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa limbah jagung menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan herbal kaya antioksidan yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pencegahan malaria. Studi ini mengevaluasi efektivitas ekstraksi tongkol dan daun jagung (Zea mays L.), kandungan senyawa bioaktifnya, serta aktivitas antioksidan yang dimiliki sebagai dasar ilmiah pemanfaatan limbah pertanian untuk mendukung promosi kesehatan.
Malaria hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular yang memberikan beban besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara tropis. Meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan melalui pengobatan, pengendalian vektor, dan program kesehatan masyarakat, penyakit ini masih menjadi tantangan akibat munculnya resistensi obat, perubahan lingkungan, serta kesenjangan akses layanan kesehatan.
Salah satu mekanisme yang berperan dalam perjalanan penyakit malaria adalah stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kemampuan sistem antioksidan alami untuk menetralisirnya. Pada penderita malaria, stres oksidatif meningkat akibat respons imun tubuh dan aktivitas metabolisme parasit, sehingga dapat memperparah kerusakan sel dan meningkatkan keparahan penyakit.
Karena itu, berbagai bahan alami yang mengandung antioksidan mulai mendapat perhatian sebagai terapi pendukung dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat di daerah endemis malaria. Antioksidan diketahui mampu menangkap radikal bebas sehingga membantu mengurangi kerusakan oksidatif pada jaringan tubuh. Melalui penelitian ini, tim peneliti UNG memanfaatkan tongkol dan daun jagung, dua limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kedua bagian tanaman jagung tersebut mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan cukup tinggi.
Dalam penelitian laboratorium, sampel diekstraksi menggunakan tiga jenis pelarut dengan tingkat kepolaran berbeda, yaitu etanol, aseton, dan n-heksana. Selanjutnya dilakukan uji fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) yang banyak digunakan dalam penelitian farmasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan rendemen ekstraksi paling tinggi sekaligus menghasilkan aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan pelarut lainnya. Nilai IC50 yang rendah pada ekstrak etanol menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menangkap radikal bebas.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa senyawa-senyawa polar, terutama fenolik dan flavonoid, merupakan komponen utama yang berkontribusi terhadap tingginya aktivitas antioksidan pada limbah jagung. Dengan kata lain, pemilihan pelarut menjadi faktor penting dalam memperoleh ekstrak herbal yang memiliki kualitas biologis terbaik.
Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, studi ini juga mengangkat pendekatan sosial-humaniora. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan herbal dinilai dapat mendukung konsep ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Bagi masyarakat di wilayah pertanian maupun daerah endemis malaria, inovasi ini membuka peluang pengembangan produk herbal berbasis sumber daya lokal yang lebih mudah diakses. Selain meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, pendekatan tersebut juga berpotensi mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan kekayaan hayati lokal secara ilmiah dan berkelanjutan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini tidak menyatakan limbah jagung sebagai obat malaria. Potensi yang ditemukan lebih diarahkan sebagai bahan herbal pendukung yang kaya antioksidan untuk membantu mengatasi stres oksidatif yang berkaitan dengan penyakit, termasuk malaria. Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas biologis, keamanan, serta uji praklinis dan klinis sebelum dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan.
Melalui penelitian ini, Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa inovasi di bidang kesehatan tidak selalu harus berasal dari bahan baku mahal. Limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif alami. Temuan ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan produk herbal berbasis sumber daya lokal yang mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mewujudkan pertanian yang lebih berkelanjutan.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran