Indonesia masih menghadapi satu ironi besar dalam dunia kesehatan: ketika dampak buruk rokok semakin jelas, jutaan orang tetap sulit melepaskan diri dari kebiasaan merokok. Bukan sekadar gaya hidup, merokok telah berkembang menjadi bentuk ketergantungan yang serius, bahkan pada mereka yang sudah mengalami penyakit paru. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta yang patut menjadi perhatian nasional. Studi yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe menunjukkan bahwa sebagian besar pasien pria dengan penyakit paru ternyata masih mengalami ketergantungan nikotin pada tingkat sedang hingga tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa penyakit paru belum tentu cukup kuat untuk menghentikan seseorang dari merokok.
Penelitian terhadap 100 pasien pria dengan penyakit paru menemukan bahwa 42 persen responden berada pada tingkat kecanduan merokok sedang, 14 persen mengalami kecanduan tinggi, dan 2 persen termasuk kategori sangat tinggi. Artinya, lebih dari separuh responden masih berada dalam kondisi ketergantungan nikotin yang bermakna secara klinis. Kondisi ini menggambarkan betapa kuatnya efek adiktif nikotin.
Nikotin bekerja langsung pada sistem saraf pusat, memicu pelepasan dopamin yang menciptakan sensasi nyaman, tenang, dan “lega” sesaat. Namun, di balik rasa nyaman itu, tubuh perlahan membangun ketergantungan. Akibatnya, ketika kadar nikotin menurun, muncul dorongan kuat untuk kembali merokok. Inilah yang membuat berhenti merokok menjadi jauh lebih sulit daripada sekadar mengandalkan niat. Yang lebih memprihatinkan, penelitian ini menemukan 53 persen pasien tetap merokok meski sedang sakit. Fakta ini menunjukkan bahwa pada banyak kasus, penyakit belum otomatis mengubah perilaku. Bahkan ketika paru-paru sudah terganggu, dorongan adiktif tetap lebih dominan.
Secara nasional, kondisi ini mencerminkan masalah yang lebih luas. Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan prevalensi perokok tertinggi di dunia. Data menunjukkan sekitar 70 juta penduduk Indonesia merupakan perokok aktif, dengan mayoritas laki-laki. Pada kelompok pria dewasa, prevalensinya bahkan mencapai lebih dari 60 persen. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada beban penyakit kronis yang terus meningkat—mulai dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), tuberkulosis, pneumonia, asma, hingga kanker paru. Semua penyakit ini memiliki satu benang merah yang kuat: paparan asap rokok.
Penelitian di Gorontalo menunjukkan tuberkulosis paru (TB) menjadi diagnosis terbanyak pada pasien, yakni 58 persen, disusul PPOK 21 persen, bronkopneumonia 11 persen, asma 6 persen, dan efusi pleura 4 persen. Temuan ini memperlihatkan bahwa rokok berkaitan erat dengan berbagai spektrum gangguan pernapasan, baik infeksi maupun penyakit kronis. Hal lain yang tak kalah penting adalah usia. Mayoritas responden berada pada rentang usia 26–35 tahun, yakni usia produktif ketika seseorang sedang aktif bekerja dan menopang ekonomi keluarga. Ini menjadi sinyal bahwa dampak rokok kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Penyakit paru justru semakin banyak menyerang kelompok usia produktif.
Lebih mengkhawatirkan lagi, 90 persen responden telah merokok selama lebih dari lima tahun. Semakin lama seseorang merokok, semakin kuat ketergantungan yang terbentuk dan semakin besar kerusakan paru yang terjadi. Ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan Indonesia. Upaya pengendalian rokok tidak cukup hanya melalui peringatan bahaya pada bungkus rokok atau kampanye berhenti merokok yang bersifat umum. Dibutuhkan pendekatan yang lebih kuat mulai dari konseling berhenti merokok, terapi pengganti nikotin, regulasi iklan, hingga edukasi sejak usia sekolah. Masyarakat juga perlu memahami satu hal penting: kecanduan merokok adalah masalah kesehatan, bukan sekadar kebiasaan.
Seseorang yang sudah kecanduan nikotin membutuhkan dukungan yang sistematis, bukan sekadar nasihat “berhenti saja.” Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun sangat kuat: rokok tidak menunggu sampai paru-paru benar-benar rusak untuk memberi dampak buruk; kerusakan sudah dimulai sejak hisapan pertama. Karena pada akhirnya, setiap batang rokok mungkin hanya terbakar beberapa menit, tetapi dampaknya dapat menetap bertahun-tahun dalam tubuh. Dan sering kali, ketika sesak napas mulai datang, penyesalan sudah terlambat.
Sources: https://www.researchgate.net/profile/Maryadi-Maryadi-4/publication/392402079_GAMBARAN_SMOKING_ADDICTION_PADA_PASIEN_PRIA_DENGAN_PENYAKIT_PARU_DI_RSUD_PROF_DR_H_ALOEI_SABOE_KOTA_GORONTALO/links/68409442d1054b0207f9a294/GAMBARAN-SMOKING-ADDICTION-PADA-PASIEN-PRIA-DENGAN-PENYAKIT-PARU-DI-RSUD-PROF-DR-H-ALOEI-SABOE-KOTA-GORONTALO.pdf?origin=publication_detail&_tp=eyJjb250ZXh0Ijp7ImZpcnN0UGFnZSI6InB1YmxpY2F0aW9uIiwicGFnZSI6InB1YmxpY2F0aW9uRG93bmxvYWQiLCJwcmV2aW91c1BhZ2UiOiJwdWJsaWNhdGlvbiJ9fQAuthor: Della Paramita Kadir, Nanang Roswita Paramata, Gusti Pandi Liputo, Zulkifli B. Pomalango, Maryadi#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran