Pengetahuan Ibu dan Cara Memberi Makan Anak Jadi Kunci Cegah Stunting, Studi di Gorontalo Ungkap Fakta Penting

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 Juli 2026 . 12:11:50

Gorontalo – Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia tidak hanya bergantung pada kecukupan pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh pengetahuan ibu dan cara memberikan makan kepada anak. Penelitian terbaru yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah, Kota Gorontalo, menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan rendah dan sikap kurang tepat dalam menerapkan responsive feeding cenderung memiliki anak dengan risiko stunting yang lebih tinggi. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama. Dampaknya tidak hanya menyebabkan anak memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan dengan usianya, tetapi juga menghambat perkembangan otak, menurunkan kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis saat dewasa. Kondisi ini masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59 persen ibu memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai responsive feeding, sementara 63,9 persen menunjukkan sikap yang negatif terhadap praktik pemberian makan yang responsif. Di sisi lain, angka stunting pada balita dalam penelitian ini masih tergolong tinggi, yakni 61,4 persen. Responsive feeding merupakan pendekatan pemberian makan yang menekankan interaksi positif antara orang tua dan anak. Dalam praktiknya, orang tua diharapkan mampu mengenali tanda lapar dan kenyang anak, memberikan makanan sesuai kebutuhan usia, tidak memaksa anak menghabiskan makanan, serta menciptakan suasana makan yang nyaman dan menyenangkan.

Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dan kejadian stunting (p = 0,000). Selain itu, terdapat pula hubungan signifikan antara sikap ibu terhadap responsive feeding dengan kejadian stunting (p = 0,011). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik pengetahuan dan sikap ibu mengenai pemberian makan yang responsif, semakin kecil risiko anak mengalami stunting. Peneliti menjelaskan bahwa masih banyak ibu yang belum memahami konsep dasar responsive feeding. Sebagian besar responden belum mampu mengenali tanda kenyang pada anak, masih menganggap anak harus menghabiskan makanan, atau cenderung memaksa anak makan ketika menolak makanan. Kebiasaan tersebut justru dapat menurunkan nafsu makan anak dan mengganggu pemenuhan kebutuhan gizinya dalam jangka panjang.

Sebaliknya, ibu yang memiliki pengetahuan baik cenderung mampu memberikan makanan sesuai kebutuhan anak, lebih sabar ketika anak menolak makan, serta membangun interaksi positif selama waktu makan. Pendekatan ini membantu anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami sehingga asupan gizi dapat terpenuhi dengan lebih optimal. Penelitian juga menegaskan bahwa stunting tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kekurangan gizi dan pola pengasuhan yang kurang tepat dalam jangka panjang, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Oleh karena itu, pendidikan kesehatan kepada calon ibu dan ibu balita menjadi salah satu strategi penting dalam mencegah stunting sejak dini.

Para peneliti merekomendasikan agar tenaga kesehatan, khususnya di fasilitas pelayanan primer, terus memperkuat edukasi mengenai responsive feeding melalui posyandu, puskesmas, kelas ibu balita, maupun kegiatan penyuluhan masyarakat. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan mendorong praktik pemberian makan yang lebih baik di lingkungan keluarga. Masyarakat juga diimbau untuk lebih aktif mencari informasi mengenai gizi anak dan pola asuh yang tepat. Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lingkungan, dan pemerintah agar setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Melalui penelitian ini, para peneliti menegaskan bahwa meningkatkan pengetahuan ibu dan membangun kebiasaan responsive feeding merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak besar dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Indonesia.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran