GORONTALO – Gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim tidak hanya meningkatkan risiko dehidrasi, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung dan sistem peredaran darah. Penelitian terbaru yang melibatkan akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) mengungkap bahwa heat stroke atau sengatan panas dapat memicu kegagalan fungsi kardiovaskular melalui kombinasi hipertermia, peradangan sistemik, dan gangguan pembekuan darah.
Penelitian berjudul "Cardiovascular Dysregulation in Heat Stroke Driven by Climate Change: Pathophysiology and Clinical Implications" dipublikasikan dalam Jurnal Kolaboratif Sains Volume 8 Nomor 12 Tahun 2025. Tim peneliti terdiri atas Nayla Prima Dyta, Ativa Muthia Diniyah, Andi Safa Natasya Lukman, Nadine Khaira Zahratunnisa Abdul, Fatmawati Adelia Pakaya, serta Sri Manovita Pateda dari Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo.
Penelitian ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Laporan berbagai organisasi internasional menunjukkan bahwa suhu Bumi terus meningkat, disertai gelombang panas yang lebih sering, lebih lama, dan lebih ekstrem. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan paparan panas, terutama gangguan pada sistem kardiovaskular.
Heat stroke merupakan bentuk paling berat dari penyakit akibat paparan panas. Kondisi ini ditandai dengan suhu inti tubuh melebihi 40 derajat Celsius disertai gangguan fungsi sistem saraf pusat, seperti penurunan kesadaran, kejang, hingga koma. Apabila tidak ditangani secara cepat, heat stroke dapat menyebabkan kegagalan multiorgan dan berujung pada kematian.
Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini menggabungkan analisis deret waktu ekologis selama 20 tahun dengan kohort klinis prospektif untuk memahami bagaimana peningkatan suhu lingkungan memengaruhi kesehatan jantung. Analisis menggunakan Distributed Lag Non-linear Models (DLNM) menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu lingkungan sebesar 1°C di atas ambang batas lokal meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 2,1 persen.
Selain itu, penelitian menemukan berbagai perubahan biologis yang menjadi penanda memburuknya kondisi pasien heat stroke. Sekitar 70 persen pasien mengalami peningkatan kadar troponin di atas persentil ke-99, yang menunjukkan adanya cedera pada otot jantung. Sebanyak 55 persen pasien juga mengalami peningkatan Brain Natriuretic Peptide (BNP), biomarker yang sering digunakan untuk menilai gangguan fungsi jantung.
Tidak hanya itu, peningkatan Interleukin-6 (IL-6) lebih dari 80 pg/mL dan D-dimer di atas 1,5 μg/mL terbukti berkaitan erat dengan berkembangnya disfungsi multiorgan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa heat stroke bukan sekadar kondisi tubuh yang terlalu panas, tetapi juga memicu respons inflamasi hebat dan gangguan pembekuan darah yang dapat memperburuk kerusakan organ vital.
Penelitian juga mengungkap adanya perubahan hemodinamik yang khas pada pasien heat stroke. Pada fase awal, tubuh mengalami kondisi hiperdinamik, yaitu jantung bekerja sangat cepat untuk mempertahankan sirkulasi darah akibat pelebaran pembuluh darah. Namun dalam waktu 24 hingga 36 jam, fungsi pompa jantung mulai menurun sehingga muncul hipotensi dan penurunan fraksi ejeksi yang dikenal sebagai myocardial stunning, yaitu penurunan sementara kemampuan otot jantung untuk berkontraksi.
Menurut tim peneliti, kondisi tersebut terjadi karena paparan panas ekstrem menyebabkan kerusakan langsung pada sel otot jantung, disertai stres oksidatif, disfungsi endotel, aktivasi sitokin inflamasi, dan gangguan mikrosirkulasi. Kombinasi berbagai mekanisme tersebut meningkatkan risiko aritmia, syok sirkulasi, hingga kegagalan multiorgan.
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah adanya kasus heat stroke dengan suhu permukaan tubuh yang masih tampak normal, meskipun pasien telah mengalami gangguan irama jantung berat seperti ventricular fibrillation. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer biasa tidak selalu mampu mendeteksi heat stroke secara akurat. Oleh karena itu, peneliti menekankan pentingnya pemeriksaan suhu inti tubuh (core temperature) sebagai standar dalam menegakkan diagnosis.
Penelitian ini juga menyoroti kelompok masyarakat yang paling rentan mengalami heat stroke, antara lain lansia, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruangan seperti petani, buruh konstruksi, penambang, personel militer, hingga masyarakat perkotaan yang tinggal di kawasan dengan efek urban heat island dan keterbatasan fasilitas pendingin.
Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti merekomendasikan pemanfaatan biomarker jantung dan inflamasi sebagai alat untuk stratifikasi risiko sehingga pasien dengan kemungkinan komplikasi berat dapat dikenali lebih dini. Selain itu, sistem kesehatan juga perlu memperkuat strategi mitigasi melalui sistem peringatan dini gelombang panas, edukasi masyarakat, penyediaan tempat pendinginan darurat, serta perlindungan kesehatan bagi kelompok berisiko tinggi.
Penelitian ini menegaskan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tidak lagi menjadi ancaman di masa depan, tetapi telah dirasakan saat ini. Heat stroke merupakan salah satu konsekuensi nyata yang memerlukan perhatian serius dari tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Dengan memahami mekanisme terjadinya cedera kardiovaskular akibat paparan panas ekstrem, diharapkan upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan heat stroke dapat dilakukan secara lebih efektif sehingga mampu menekan angka kesakitan dan kematian akibat perubahan iklim.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran