Video Edukasi Terbukti Tingkatkan Pengetahuan Remaja tentang Anemia, Penelitian di Gorontalo Beri Harapan Baru

Oleh: Jesica Mulyadi . 24 Juli 2026 . 12:16:42

Gorontalo – Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami remaja Indonesia, terutama remaja putri. Kondisi yang sering dianggap sepele ini ternyata dapat menurunkan konsentrasi belajar, prestasi akademik, daya tahan tubuh, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kabar baiknya, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan video edukasi mampu meningkatkan pengetahuan remaja mengenai anemia secara signifikan. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest yang melibatkan 82 siswa kelas X dan XI. Sebelum memperoleh materi, seluruh peserta mengerjakan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai anemia. Selanjutnya, siswa menyaksikan video edukasi berdurasi tujuh menit yang membahas pengertian anemia, penyebab, gejala, dampak, pencegahan, hingga pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Setelah itu, pengetahuan siswa kembali diukur melalui post-test menggunakan kuesioner yang sama.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan siswa dari 86,46 sebelum intervensi menjadi 88,17 setelah intervensi. Meskipun kenaikannya terlihat tidak terlalu besar, analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan hasil yang bermakna dengan nilai p = 0,009, yang berarti video edukasi memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan siswa mengenai anemia. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa materi mengenai Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi aspek yang paling dipahami oleh siswa. Persentase penguasaan materi ini meningkat dari 86,8 persen menjadi 88,4 persen setelah intervensi. Sebaliknya, pemahaman mengenai dampak jangka panjang anemia masih menjadi materi yang paling rendah dikuasai meskipun tetap mengalami peningkatan setelah penyampaian video edukasi.

Menurut para peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa media audiovisual mampu membantu siswa memahami materi kesehatan dengan lebih baik dibandingkan dengan penyampaian informasi secara konvensional. Video menghadirkan kombinasi gambar, suara, animasi, dan narasi yang memudahkan remaja dalam menerima sekaligus mengingat informasi kesehatan. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar responden telah memiliki pengetahuan dasar yang cukup baik sebelum intervensi. Hal tersebut diduga dipengaruhi oleh berbagai program kesehatan sekolah, termasuk edukasi gizi dan pemberian Tablet Tambah Darah yang selama ini telah dilaksanakan di lingkungan sekolah. Namun demikian, video edukasi tetap berhasil memperkuat pemahaman siswa serta mengurangi kesenjangan pengetahuan antarpeserta.

Anemia sendiri masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip dalam penelitian, sekitar 32 persen remaja usia 15–24 tahun mengalami anemia. Pada remaja putri, risiko menjadi lebih tinggi karena meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan akibat kehilangan darah saat menstruasi. Apabila tidak ditangani, anemia dapat menyebabkan mudah lelah, menurunnya daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, hingga prestasi belajar yang kurang optimal. Penelitian ini juga mengungkap adanya beberapa miskonsepsi yang masih dimiliki siswa, misalnya anggapan bahwa anemia sama dengan tekanan darah rendah atau merupakan penyakit menular. Oleh karena itu, edukasi kesehatan tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi perlu disertai metode pembelajaran yang interaktif agar berbagai mitos tersebut dapat diluruskan secara berkelanjutan.

Para peneliti merekomendasikan agar sekolah bersama puskesmas mulai mengintegrasikan media digital sebagai bagian dari promosi kesehatan remaja. Selain video edukasi, kegiatan diskusi, kuis interaktif, simulasi, dan evaluasi berkala dinilai penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh benar-benar bertahan dalam jangka panjang dan mendorong perubahan perilaku sehat. Bagi remaja, pencegahan anemia dapat dimulai melalui langkah sederhana seperti mengonsumsi makanan kaya zat besi, memperbanyak sumber protein hewani, mengonsumsi buah yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi, membatasi konsumsi teh atau kopi setelah makan, serta rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Penelitian ini memperkuat bukti bahwa inovasi pembelajaran berbasis teknologi memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan generasi muda. Dengan penyampaian informasi yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital, video edukasi berpotensi menjadi salah satu strategi efektif dalam mendukung pencegahan anemia di kalangan remaja Indonesia.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran