Alarm bagi Penyandang Diabetes: Riset Ungkap Banyak Pasien Abai Pilih Alas Kaki, Risiko Luka Amputasi Mengintai

Oleh: Jesica Mulyadi . 21 Mei 2026 . 22:59:44

BONE BOLANGO – Sebuah studi kesehatan preventif terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Kolaboratif Sains memberikan peringatan penting bagi para penyandang diabetes melitus (DM) di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan pasien DM dalam memilih alas kaki yang tepat untuk mencegah komplikasi fatal masih sangat perlu dievaluasi dan ditingkatkan. Luka kaki diabetik atau ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis yang paling ditakuti oleh penderita diabetes. Kondisi ini dipicu oleh kerusakan saraf (mati rasa) dan penyumbatan aliran darah di area kaki. Akibatnya, gesekan kecil dari sandal yang keras atau luka goresan ringan yang tidak dirasakan oleh pasien dapat berkembang cepat menjadi infeksi parah, membusuk, hingga berakhir pada tindakan amputasi.

Penelitian deskriptif ini menguji tingkat pemahaman puluhan pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kabila mengenai kriteria alas kaki medis yang aman. Pengumpulan data dilakukan secara terstruktur menggunakan kuesioner validasi yang mencakup pengetahuan tentang fungsi, anatomi, serta bentuk alas kaki yang ideal. Hasil pemetaan data menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan terkait kesadaran preventif pasien:

  1. Tingkat Pengetahuan Cukup: Mendominasi hasil survei, di mana sebagian besar pasien memahami dasar-dasar perawatan kaki, namun belum mengetahui spesifikasi detail alas kaki yang aman bagi penderita diabetes.
  2. Tingkat Pengetahuan Kurang: Sebagian responden lainnya masih berada di kategori literasi rendah. Kelompok ini secara terang-terangan mengaku masih sering bertelanjang kaki di luar rumah atau menggunakan sandal jepit konvensional yang tipis dan keras.
  3. Tingkat Pengetahuan Baik: Hanya sebagian kecil dari total pasien yang benar-benar memahami cara memproteksi kaki mereka secara komprehensif dari risiko trauma mekanis.

Karakteristik responden dalam riset ini didominasi oleh kelompok usia lanjut (lansia) dan pasien dengan masa menderita diabetes yang sudah menahun. Penurunan fungsi penglihatan dan sensitivitas kulit pada lansia membuat pemahaman tentang proteksi kaki ini menjadi semakin krusial.

Mengapa alas kaki yang salah bisa menjadi petaka bagi pasien DM? Bagi masyarakat sehat, memilih sepatu atau sandal mungkin hanya urusan estetika. Namun bagi penderita diabetes, salah memilih alas kaki bisa berujung pada meja operasi. Berikut penjelasan medis mengapa alas kaki memegang peran hidup-mati bagi pasien diabetes:

  1. Dampak Mati Rasa (Neuropati): Gula darah yang tidak terkontrol merusak serabut saraf kaki. Pasien sering kali kehilangan sensasi nyeri. Jika mereka menggunakan sepatu yang terlalu sempit atau sandal jepit dengan jepitan yang kasar, luka lecet akan terbentuk tanpa mereka sadari karena kaki tidak merasakan sakit.
  2. Bahaya Sandal Jepit Terbuka dan Telanjang Kaki: Berjalan tanpa alas kaki atau menggunakan sandal jepit biasa membuka risiko kaki terbentur, tertusuk kerikil, atau tergores benda tajam. Pada penderita diabetes, luka sekecil jarum sekalipun sulit sembuh karena buruknya sirkulasi darah dan tingginya kadar gula yang menjadi makanan empuk bagi bakteri.
  3. Tekanan tidak merata memicu callus (Kapalan): alas kaki yang memiliki sol keras tidak mampu meredam hentakan kaki saat berjalan. Hal ini menimbulkan tekanan berlebih pada titik-titik tertentu di telapak kaki, memicu terbentuknya kapalan tebal (callus). Di bawah kapalan tersebut, jaringan kulit rentan pecah, mengalami pendarahan dalam, dan berubah menjadi ulkus/borok diabetes.

Guna meminimalkan angka komplikasi luka kaki di tingkat nasional, para peneliti melalui studi di Puskesmas Kabila ini merekomendasikan panduan praktis bagi pasien diabetes dalam memilih dan menggunakan alas kaki:

  1. Ukuran yang Longgar dan Pas: Pilih sepatu yang berukuran sedikit lebih longgar (disarankan dibeli pada sore hari saat ukuran kaki mencapai volume maksimal) agar tidak menjepit jari-jari kaki.
  2. Bahan yang Lembut dan Lentur: Hindari sepatu berbahan kulit kaku atau plastik. Gunakan sepatu berbahan kain rajut atau kulit lembut yang memiliki bantalan dalam (insole) yang empuk untuk menyerap tekanan.
  3. Desain Tertutup: Sangat disarankan menggunakan sepatu atau sandal slop yang tertutup di bagian depan untuk melindungi jari kaki dari benturan fisik.
  4. Gunakan Kaus Kaki Khusus: Selalu gunakan kaus kaki berbahan katun tebal tanpa jahitan tepi yang ketat agar tidak menyumbat aliran darah vena di pergelangan kaki.
  5. Selalu Periksa Bagian Dalam: Sebelum memasukkan kaki, biasakan memeriksa bagian dalam sepatu dengan tangan untuk memastikan tidak ada kerikil, staples, atau lipatan bahan yang bisa menggores kulit.

Penelitian ini menjadi pengingat berharga bagi dunia tata laksana kesehatan informal di Indonesia bahwa mengobati diabetes tidak hanya soal menyuntik insulin atau meminum obat penurun gula, melainkan juga tentang bagaimana mengedukasi pasien agar tetap waspada menjaga kaki mereka tetap utuh melalui pemilihan alas kaki yang benar.

Author: Indah Sulistiowati Putri, Vivien Novarina A Kasim, Ita Sulistiani Basir

Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/7696/5497

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda