
Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan hiburan anak. Namun di sisi lain, kemudahan akses gawai, televisi, dan permainan berbasis layar secara perlahan mengubah pola aktivitas anak usia sekolah. Anak kini lebih banyak duduk, menonton, dan bermain gawai, dibandingkan bergerak aktif seperti bermain di luar rumah. Kebiasaan inilah yang dikenal sebagai aktivitas sedentari, dan dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Sebuah penelitian yang dilakukan di SDN 27 Kota Selatan, Kota Gorontalo, menunjukkan bahwa aktivitas sedentari memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian obesitas pada anak usia sekolah. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa gaya hidup kurang gerak menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya obesitas pada anak.
Obesitas Anak, Masalah Global yang Meningkat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa ratusan juta anak dan remaja di dunia mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas. Indonesia termasuk negara dengan laju peningkatan obesitas anak yang tergolong cepat. Data nasional bahkan menunjukkan bahwa prevalensi obesitas anak terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di Provinsi Gorontalo. Obesitas pada anak tidak hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga berpengaruh serius terhadap kesehatan jangka pendek dan panjang. Anak obesitas berisiko mengalami gangguan pernapasan, diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung, hingga masalah kesehatan mental seperti rendahnya kepercayaan diri dan depresi.
Setengah Anak Menghabiskan Waktu dengan Aktivitas Sedentari Tinggi
Penelitian ini melibatkan 151 siswa kelas IV, V, dan VI. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir separuh anak (49 persen) berada pada kategori aktivitas sedentari tinggi, yaitu menghabiskan banyak waktu duduk, menonton televisi, bermain gawai, atau aktivitas minim gerak lainnya. Dari kelompok anak dengan aktivitas sedentari tinggi tersebut, lebih dari dua pertiga mengalami obesitas. Sebaliknya, seluruh anak dengan aktivitas sedentari rendah tidak ditemukan mengalami obesitas. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara lamanya waktu sedentari dan kejadian obesitas.
Mengapa Terlalu Lama Duduk Membuat Anak Gemuk?
Secara ilmiah, tubuh anak membutuhkan keseimbangan antara energi yang masuk dari makanan dan energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik. Ketika anak terlalu lama duduk dan jarang bergerak, energi yang dikonsumsi tidak terbakar dengan optimal dan akhirnya disimpan dalam bentuk lemak. Selain itu, aktivitas sedentari sering disertai kebiasaan makan tidak sehat, seperti ngemil sambil menonton atau bermain gawai. Kombinasi rendahnya aktivitas fisik dan tingginya asupan kalori inilah yang mempercepat terjadinya obesitas. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua anak dengan aktivitas sedentari tinggi mengalami obesitas. Beberapa anak tetap memiliki berat badan normal karena masih aktif berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lain di luar waktu sedentari. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik rutin dapat menekan dampak negatif sedentari, meskipun anak tetap terpapar layar.
Peran Orang Tua dan Sekolah Sangat Menentukan
Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan obesitas anak tidak bisa dibebankan pada anak semata. Orang tua dan sekolah memegang peran kunci dalam mengatur pola aktivitas dan gaya hidup anak. Orang tua perlu membatasi waktu penggunaan gawai, mendorong anak bermain aktif, serta menjadi teladan dalam menerapkan gaya hidup sehat. Di sisi lain, sekolah dapat berperan melalui penyediaan waktu olahraga yang cukup, aktivitas fisik di sela pembelajaran, serta edukasi tentang pentingnya bergerak aktif.
Gerak Aktif sebagai Investasi Kesehatan Anak
WHO merekomendasikan agar anak usia sekolah melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. Aktivitas ini tidak harus selalu berupa olahraga berat, tetapi bisa berupa bermain, bersepeda, berjalan kaki, atau kegiatan aktif lainnya yang menyenangkan. Penelitian ini menegaskan bahwa mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah obesitas anak. Gaya hidup aktif bukan hanya menjaga berat badan ideal, tetapi juga mendukung tumbuh kembang fisik, mental, dan sosial anak secara optimal.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi aktivitas sedentari, semakin besar risiko obesitas pada anak usia sekolah. Anak yang terlalu lama duduk dan jarang bergerak memiliki peluang lebih besar mengalami kelebihan berat badan. Obesitas anak bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kebiasaan sehari-hari yang terbentuk sejak dini. Dengan membatasi aktivitas sedentari dan mendorong gerak aktif, keluarga dan sekolah dapat bersama-sama melindungi anak dari ancaman obesitas dan menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.
Source: https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/jhest/article/view/11253
Author: Amanda Rizki Poloalo, Vivien Novarina A. Kasim, Cindy Puspita Sari Haji Jafar, Jesica Mulyadi, Sri Andriani Ibrahim, Rini Wahyuni Mohamad
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran