Anemia pada Remaja Putri: Bukan Sekadar Kurang Darah, Tapi Masalah Gizi yang Serius

Oleh: Jesica Mulyadi . 30 April 2026 . 16:59:21

Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dianggap sepele, terutama di kalangan remaja putri. Padahal, kondisi ini dapat berdampak besar terhadap kesehatan, konsentrasi belajar, hingga kualitas generasi masa depan. Sebuah penelitian di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengungkap bahwa sekitar 34,2 persen remaja putri mengalami anemia, sementara sisanya berada dalam kondisi normal. Angka ini menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah nyata yang perlu mendapat perhatian serius.

Apa itu anemia dan mengapa berbahaya?

Secara medis, anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal. Akibatnya, tubuh kekurangan oksigen yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi secara optimal. Gejala yang sering muncul antara lain:

  • Mudah lelah
  • Pucat
  • Pusing
  • Sulit berkonsentrasi
  • Bagi remaja, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan fisik.

Fakta Utama: Zat Besi Jadi Penentu Kunci

Penelitian ini menemukan satu hal penting: asupan zat besi (Fe) merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian anemia. Remaja putri dengan asupan zat besi yang cukup memiliki risiko sekitar 51 persen lebih rendah untuk mengalami anemia dibandingkan dengan mereka yang kekurangan zat besi. Secara ilmiah, hal ini masuk akal karena zat besi adalah komponen utama dalam pembentukan hemoglobin. Jika tubuh kekurangan zat besi, produksi sel darah merah akan terganggu.

Ironisnya, Mayoritas Remaja Kekurangan Zat Besi

Penelitian menunjukkan bahwa: 71,5 persen remaja memiliki asupan zat besi yang tidak cukup dan 87,1 persen tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan gizi dan pola konsumsi sehari-hari.

Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Pola makan tidak seimbang
  • Kurangnya konsumsi makanan sumber zat besi (seperti daging, hati, sayuran hijau)
  • Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji
  • Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya zat besi

Bukan Semua Nutrisi Berpengaruh Langsung

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa faktor lain ternyata tidak berhubungan signifikan dengan anemia, seperti:

  • Protein
  • Vitamin C
  • Vitamin B12
  • Zinc
  • Frekuensi makan
  • Keanekaragaman makanan

Hal ini menunjukkan bahwa anemia pada remaja putri lebih spesifik berkaitan dengan kekurangan zat besi, bukan sekadar pola makan secara umum. Namun secara biologis, zat gizi lain tetap penting sebagai pendukung, meski bukan faktor utama.

Kenapa Tablet Tambah Darah Kurang Efektif?

Meskipun pemerintah telah menyediakan tablet tambah darah, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tablet ini tidak berhubungan secara signifikan dengan anemia. Hal ini diduga karena:

  • Remaja tidak rutin mengonsumsi tablet
  • Efek samping seperti mual
  • Rasa yang kurang disukai
  • Kurangnya kesadaran dan kepatuhan

Artinya, masalahnya bukan pada programnya, tetapi pada implementasi dan perilaku konsumsi.

Faktor Lain yang Tidak Bisa Diabaikan

Selain asupan zat besi, beberapa faktor lain juga dapat memicu anemia, seperti:

  • Menstruasi (kehilangan darah rutin)
  • Pola makan tidak teratur
  • Konsumsi teh/kopi yang menghambat penyerapan zat besi
  • Gaya hidup modern yang tinggi makanan instan
  • Bahkan, kondisi sosial seperti tinggal di kos atau jauh dari keluarga juga dapat memengaruhi pola makan remaja.

Solusi: Edukasi dan Perubahan Pola Makan

Berdasarkan temuan ini, langkah pencegahan anemia harus lebih fokus pada:

  • Peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi
  • Edukasi gizi sejak usia remaja
  • Peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah
  • Perbaikan pola makan sehari-hari

Contoh makanan tinggi zat besi:

  • Daging merah
  • Hati ayam/sapi
  • Bayam dan sayuran hijau
  • Kacang-kacangan

KesimpulanAnemia pada remaja putri bukan sekadar masalah kurang darah, tetapi merupakan indikator penting dari kualitas gizi. Penelitian ini menegaskan bahwa: zat besi adalah faktor kunci dalam mencegah anemia, dan faktor lain bersifat pendukung, bukan penentu utama

Tanpa intervensi yang tepat, anemia dapat berdampak pada kualitas generasi mendatang.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34999/pdf

Author: Amanda Iin Melisa P.H. Harun, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim

#FKUNG

#kedokteranung

Informasi

Agenda