
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan jantung layanan rumah sakit yang bekerja tanpa henti selama 24 jam. Di ruang inilah keputusan medis harus diambil secara cepat dan tepat, sering kali dalam kondisi penuh tekanan. Di balik layanan darurat tersebut, perawat menjadi garda terdepan yang memikul beban kerja tinggi sekaligus tekanan emosional yang tidak ringan. Sebuah penelitian di IGD RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto, Kabupaten Gorontalo, mengungkap fakta penting bahwa beban kerja dan stres kerja memiliki hubungan erat dengan kinerja perawat. Temuan ini mempertegas bahwa kualitas pelayanan kegawatdaruratan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan teknologi, tetapi juga oleh kondisi kerja tenaga kesehatan di dalamnya.
IGD: Lingkungan Kerja dengan Tekanan Tinggi
Dalam praktik sehari-hari, perawat IGD tidak hanya menjalankan asuhan keperawatan, tetapi juga terlibat dalam berbagai tugas tambahan, mulai dari koordinasi lintas profesi, pendampingan pasien, hingga menghadapi tuntutan keluarga pasien. Kompleksitas tugas ini membuat IGD menjadi unit dengan dinamika kerja paling tinggi di rumah sakit. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun hampir setengah perawat menilai beban kerja mereka tergolong ringan, sebagian lainnya mengalami beban kerja sedang hingga berat. Ketidakseimbangan jumlah pasien dan tenaga perawat menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan tekanan kerja.
Stres Kerja Tidak Bisa Dianggap Sepele
Stres kerja muncul sebagai respons terhadap tuntutan pekerjaan yang melebihi kemampuan fisik dan mental. Dalam penelitian ini, mayoritas perawat mengalami stres kerja ringan. Namun, sebagian lainnya telah berada pada tingkat stres sedang hingga berat, ditandai dengan kelelahan fisik, nyeri otot, mudah tersinggung, hingga kecemasan dalam mengambil keputusan klinis. Secara ilmiah, stres ringan masih dapat bersifat positif (eustress) karena mendorong kewaspadaan dan fokus kerja. Namun, ketika stres meningkat dan tidak terkelola, ia berubah menjadi distress yang justru menurunkan konsentrasi, motivasi, dan kualitas pelayanan.
Kinerja Perawat Menjadi Taruhan
Kinerja perawat diukur dari ketepatan tindakan, tanggung jawab, disiplin, kerja sama tim, serta kepatuhan terhadap standar pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat IGD memiliki kinerja yang baik. Namun, penurunan kinerja mulai terlihat seiring meningkatnya beban kerja dan stres. Analisis statistik memperlihatkan bahwa semakin berat beban kerja dan semakin tinggi stres yang dialami perawat, semakin rendah kinerjanya. Hubungan ini bersifat negatif dan cukup kuat, menandakan bahwa tekanan kerja yang tidak terkendali berpotensi mengganggu keselamatan pasien dan mutu layanan rumah sakit.
Mengapa Beban Kerja dan Stres Menurunkan Kinerja?
Beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental, menurunkan konsentrasi, serta meningkatkan risiko kesalahan. Sementara itu, stres kerja yang berkepanjangan memicu gangguan emosional, menurunkan motivasi, dan melemahkan kerja sama tim. Dalam konteks IGD, kondisi ini sangat berisiko. Keterlambatan tindakan, kesalahan komunikasi, atau penurunan empati dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien yang berada dalam kondisi kritis.
Perlu Manajemen Kerja yang Lebih Manusiawi
Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya manajemen beban kerja dan pengelolaan stres sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu layanan kesehatan. Rumah sakit perlu memastikan distribusi tugas yang proporsional, jumlah tenaga yang memadai, serta sistem kerja yang mendukung kesejahteraan perawat. Program manajemen stres, pelatihan coping, serta penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dinilai penting untuk menjaga stabilitas kinerja perawat. Dukungan dari pimpinan dan rekan kerja juga menjadi faktor kunci dalam membantu perawat menghadapi tekanan di ruang gawat darurat.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa beban kerja dan stres kerja berhubungan signifikan dengan kinerja perawat di IGD RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto. Semakin tinggi tekanan kerja yang dialami, semakin besar risiko penurunan kinerja. IGD bukan hanya ruang penyelamatan pasien, tetapi juga ruang kerja dengan tuntutan tinggi bagi perawat. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara tuntutan kerja dan kapasitas tenaga kesehatan menjadi kunci utama dalam mewujudkan pelayanan kegawatdaruratan yang aman, cepat, dan bermutu.
Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/9976/6653
Author: Sri Aryanti Yusuf, Siti Rahma, Rachmawaty D. Hunawa
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran