Bukan Sekadar Apa yang Dimakan: Mengapa Cara Ibu Menyuapi Menentukan Risiko Stunting?

Oleh: Jesica Mulyadi . 25 September 2026 . 17:03:43

Di tengah upaya nasional menekan angka stunting, kita sering kali berfokus pada apa yang ada di atas piring anak. Apakah porsinya cukup? Apakah lauknya bergizi? Namun, ada satu dimensi krusial yang kerap terlewatkan dari perhatian kita: bagaimana cara makanan itu diberikan. Dunia kesehatan mengenal istilah responsive feeding atau pengasuhan makan responsif. Ini bukan sekadar rutinitas menyuapi sampai piring bersih, melainkan sebuah bentuk interaksi dua arah yang aktif dan penuh empati antara ibu dan anak. Di sini, ibu belajar mengenali dan menghargai isyarat lapar serta kenyang si kecil tanpa memberikan paksaan. Sayangnya, praktik menyuapi secara responsif ini belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan di tingkat tapak.

Ketika Pemahaman dan Sikap Masih Menjadi Tantangan

Studi yang melibatkan 83 ibu balita ini mengungkapkan potret yang cukup mengejutkan di lapangan:

  1. Pengetahuan Ibu: Sebanyak 59% ibu masih memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai responsive feeding. Banyak ibu yang belum memahami bahwa memaksa anak menghabiskan makanan justru bisa berdampak buruk bagi pola makan anak.
  2. Sikap Ibu: Sebanyak 63,9% ibu menunjukkan sikap yang cenderung negatif (kurang mendukung) terhadap praktik pemberian makan yang responsif. Emosi, rasa cemas, dan kebiasaan emosional saat anak sulit makan kerap membuat interaksi makan menjadi kurang menyenangkan.
  3. Angka Kejadian Stunting: Dari sampel yang diteliti, angka kejadian stunting pada balita tergolong tinggi, yakni mencapai 61,4%.Secara statistik, penelitian ini mengonfirmasi adanya hubungan yang sangat signifikan antara pengetahuan ibu (p = 0,000) dan sikap ibu (p = 0,011) dengan kejadian stunting pada anak.

Anak-anak yang mengalami stunting sebagian besar berasal dari ibu yang memiliki pemahaman rendah dan sikap yang kurang mendukung terhadap responsive feeding. Sebaliknya, seluruh anak dari kelompok ibu yang berpengetahuan baik berada dalam kondisi tidak stunting.

Mengapa Beban Psikologis Menyapa di Meja Makan?

Mengapa interaksi saat makan sangat memengaruhi tumbuh kembang anak? Ketika proses makan dipenuhi dengan paksaan, amarah, atau suasana yang menegangkan, anak akan mengasosiasikan kegiatan makan sebagai momen yang menakutkan. Akibatnya, nafsu makan anak menurun dan asupan nutrisi harian menjadi tidak optimal. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus dalam rentang waktu yang lama—terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan—tumbuh kembang anak akan terganggu dan berujung pada kondisi stunting. Riset ini juga menggarisbawahi bahwa sebagian besar ibu berada pada rentang usia dewasa (30–39 tahun) dan mengasuh balita usia 1–2 tahun. Kebiasaan menyuapi dengan paksaan sering kali merupakan warisan pengasuhan dari generasi ke generasi yang belum disesuaikan dengan edukasi kesehatan modern.

Mengubah Pendekatan: Dari Paksaan Menjadi Interaksi PositifHasil riset ini membawa pesan kuat bagi kita semua: pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan membagikan bantuan bahan pangan bergizi. Kita harus mendampingi para ibu agar mereka memiliki pengetahuan dan kesiapan mental dalam mengasuh anak saat makan. Beberapa langkah penting yang perlu kita dorong bersama meliputi:

  1. Edukasi Praktis dan Berkelanjutan: Petugas kesehatan dan kader Posyandu perlu memberikan edukasi yang tidak sekadar teori, tetapi juga simulasi praktis tentang cara merespons isyarat kenyang dan lapar anak secara sabar.
  2. Menciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan: Makan harus menjadi proses belajar yang aman bagi anak. Hargai pilihan makanan sehat anak dan hentikan kebiasaan memaksa atau memarahi anak di meja makan.
  3. Dukungan Lingkungan Keluarga: Ibu tidak boleh berjuang sendirian. Suami dan anggota keluarga lainnya perlu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung agar ibu tidak mengalami kelelahan emosional (burnout) saat mengasuh anak.
  4. Pencegahan stunting dimulai dari empati dan pemahaman di rumah sendiri. Ketika ibu dibekali pengetahuan yang tepat dan rasa tenang dalam menyuapi, piring makanan yang disajikan akan benar-benar menjadi sumber gizi dan kasih sayang yang optimal bagi tumbuh kembang si kecil.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran