Masalah kesehatan mata masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di daerah dengan angka penyakit kronis yang tinggi. Salah satu kondisi yang kini menjadi sorotan adalah ulkus kornea infeksius, yaitu luka terbuka pada kornea mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen. Sebuah penelitian terbaru di Gorontalo mengungkap fakta penting: diabetes melitus yang tidak terkontrol secara signifikan meningkatkan tingkat keparahan penyakit ini.
Hubungan Kuat antara Gula Darah dan Kerusakan Mata
Penelitian yang dilakukan di dua rumah sakit rujukan di Gorontalo menunjukkan bahwa pasien dengan kadar gula darah tinggi (≥200 mg/dL) memiliki risiko lebih dari tujuh kali lipat untuk mengalami ulkus kornea berat dibandingkan dengan mereka yang kadar gulanya terkontrol. Temuan ini memperkuat pemahaman ilmiah bahwa hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi bukan hanya berdampak pada organ seperti jantung dan ginjal, tetapi juga sangat berbahaya bagi kesehatan mata. Secara biologis, kondisi gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak jaringan kornea melalui proses yang disebut keratopati diabetik. Proses ini melibatkan stres oksidatif, peradangan kronis, serta gangguan regenerasi sel, sehingga mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan sulit sembuh.
Gaya Hidup Jadi Faktor Penentu
Menariknya, sebagian besar pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki usia produktif dengan aktivitas kerja tinggi. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti:
Tidak Hanya Soal Gula Darah
Meski kadar gula darah menjadi faktor utama, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa pasien dengan gula darah relatif terkontrol tetap mengalami ulkus kornea berat. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bersifat multifaktorial. Beberapa faktor lain yang turut berperan antara lain:
Tantangan dan Kebutuhan Penanganan
Penelitian ini juga menyoroti bahwa dua dari tiga pasien memiliki diabetes yang tidak terkontrol. Angka ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam pengelolaan penyakit kronis di tingkat masyarakat. Kondisi ini menjadi peringatan penting bahwa pencegahan komplikasi diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada perubahan gaya hidup.
Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan
Berdasarkan temuan ilmiah tersebut, beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:
Kesimpulan
Penelitian ini memberikan pesan yang jelas: diabetes yang tidak terkontrol bukan hanya masalah metabolik, tetapi juga ancaman serius bagi penglihatan. Upaya pencegahan melalui kontrol gula darah dan deteksi dini gangguan mata menjadi kunci utama untuk menekan risiko kebutaan akibat ulkus kornea infeksius.
Sources: https://www.jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2391/1748
Author: Tsabita Zahra Potutu, Nanang Roswita Paramata, Naning Suleman, Edwina Rugaiah Monayo, Nelyan Helma Mokoginta
#FKUNG
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran