Diabetes Tak Terkontrol Picu Risiko Kebutaan: Fakta di Balik Ulkus Kornea di Gorontalo

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 April 2026 . 22:47:38

Masalah kesehatan mata masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di daerah dengan angka penyakit kronis yang tinggi. Salah satu kondisi yang kini menjadi sorotan adalah ulkus kornea infeksius, yaitu luka terbuka pada kornea mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen. Sebuah penelitian terbaru di Gorontalo mengungkap fakta penting: diabetes melitus yang tidak terkontrol secara signifikan meningkatkan tingkat keparahan penyakit ini.

Hubungan Kuat antara Gula Darah dan Kerusakan Mata

Penelitian yang dilakukan di dua rumah sakit rujukan di Gorontalo menunjukkan bahwa pasien dengan kadar gula darah tinggi (≥200 mg/dL) memiliki risiko lebih dari tujuh kali lipat untuk mengalami ulkus kornea berat dibandingkan dengan mereka yang kadar gulanya terkontrol. Temuan ini memperkuat pemahaman ilmiah bahwa hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi bukan hanya berdampak pada organ seperti jantung dan ginjal, tetapi juga sangat berbahaya bagi kesehatan mata. Secara biologis, kondisi gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak jaringan kornea melalui proses yang disebut keratopati diabetik. Proses ini melibatkan stres oksidatif, peradangan kronis, serta gangguan regenerasi sel, sehingga mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan sulit sembuh.

Gaya Hidup Jadi Faktor Penentu

Menariknya, sebagian besar pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki usia produktif dengan aktivitas kerja tinggi. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti:

  • Pola makan tinggi karbohidrat sederhana (misalnya nasi putih berlebih)
  • Konsumsi makanan cepat saji
  • Kurangnya kontrol rutin gula darah
  • Tingkat stres kerja yang tinggi
  • Kombinasi faktor tersebut berkontribusi pada tingginya angka diabetes yang tidak terkontrol, yang pada akhirnya memperparah kondisi mata.

Tidak Hanya Soal Gula Darah

Meski kadar gula darah menjadi faktor utama, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa pasien dengan gula darah relatif terkontrol tetap mengalami ulkus kornea berat. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bersifat multifaktorial. Beberapa faktor lain yang turut berperan antara lain:

  • Kerusakan saraf pada kornea (neuropati diabetik)
  • Penurunan sistem imun akibat usia
  • Mata kering kronis
  • Paparan lingkungan atau mikrotrauma berulang
  • Dengan kata lain, kesehatan mata pada penderita diabetes tidak bisa dinilai hanya dari satu parameter saja.

Tantangan dan Kebutuhan Penanganan

Penelitian ini juga menyoroti bahwa dua dari tiga pasien memiliki diabetes yang tidak terkontrol. Angka ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam pengelolaan penyakit kronis di tingkat masyarakat. Kondisi ini menjadi peringatan penting bahwa pencegahan komplikasi diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada perubahan gaya hidup.

Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan

Berdasarkan temuan ilmiah tersebut, beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  • Mengontrol kadar gula darah secara rutin
  • Melakukan pemeriksaan mata berkala, terutama bagi penderita diabetes
  • Mengurangi konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi
  • Menjaga pola makan seimbang dan aktivitas fisik
  • Mengelola stres dengan baik

Kesimpulan

Penelitian ini memberikan pesan yang jelas: diabetes yang tidak terkontrol bukan hanya masalah metabolik, tetapi juga ancaman serius bagi penglihatan. Upaya pencegahan melalui kontrol gula darah dan deteksi dini gangguan mata menjadi kunci utama untuk menekan risiko kebutaan akibat ulkus kornea infeksius.

Sources: https://www.jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2391/1748

Author: Tsabita Zahra Potutu, Nanang Roswita Paramata, Naning Suleman, Edwina Rugaiah Monayo, Nelyan Helma Mokoginta

#FKUNG

#kedokteranung

Informasi

Agenda