
GORONTALO — Dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) menghadirkan inovasi edukasi dan skrining tuberkulosis (TBC) ramah anak melalui program Duta Paru Ceria di SDN 16 Dungingi, Kota Gorontalo, Kamis (1/10/2026). Program ini mengintegrasikan pemeriksaan awal kesehatan anak dengan pemanfaatan teknologi edukasi berupa DUDUNG-AI, buku skrining, dan video edukasi yang dapat diakses melalui kode QR. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari mini project Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas (IKM-IKK), Program Studi Profesi Dokter FK UNG. Program dilaksanakan oleh dokter muda Nadzwa Maulana Lynn, S.Ked., dan Indah Pibrian Balqis, S.Ked., di bawah bimbingan Dr. dr. Serly Daud, M.Kes., serta dr. Sandra L. Dunggio, dengan berkoordinasi bersama Puskesmas Dungingi dan pihak sekolah.
Duta Paru Ceria dikembangkan sebagai upaya mendukung penemuan dini terduga TBC di wilayah kerja Puskesmas Dungingi, sekaligus meningkatkan pemahaman anak dan orang tua mengenai pentingnya menjaga kesehatan paru. Berdasarkan data pelayanan tahun 2025 yang dianalisis dalam laporan mini project, pelayanan terhadap orang terduga TBC tercatat sebanyak 155 dari target 470 sasaran atau 32,98 persen. Data tersebut menjadi salah satu dasar perlunya penguatan skrining aktif, termasuk melalui lingkungan sekolah. Untuk menciptakan suasana pemeriksaan yang nyaman, kegiatan dikemas melalui konsep “Misi Duta Paru Ceria”. Siswa mengikuti rangkaian aktivitas menggunakan kartu misi, sehingga proses pengenalan gejala dan skrining awal dapat berlangsung secara lebih interaktif.
Skrining mencakup pertanyaan mengenai keluhan batuk, demam, perubahan berat badan, serta riwayat kontak dengan pasien TBC. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan awal, meliputi pengukuran berat badan, suhu tubuh, dan pemeriksaan paru menggunakan stetoskop. Pendekatan ramah anak ini diharapkan membantu siswa mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman sekaligus mengenali pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini. Melalui keterlibatan sekolah dan tenaga kesehatan, lingkungan pendidikan juga dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat kewaspadaan terhadap TBC pada anak.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini adalah DUDUNG-AI, asisten edukasi yang dikemas melalui karakter ramah anak. Media tersebut dirancang untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kesehatan paru, pengenalan TBC, dan pentingnya pemeriksaan dini menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami siswa. DUDUNG-AI berfungsi sebagai media pendamping pembelajaran kesehatan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan klinis atau penilaian tenaga kesehatan. Kehadirannya diharapkan dapat membuat edukasi kesehatan lebih menarik dan mendorong anak untuk lebih aktif mengenali gejala yang perlu diperhatikan.
Selain itu, tim mengembangkan buku skrining untuk membantu proses penapisan gejala dan faktor risiko TBC secara lebih terstruktur. Media ini mendukung pencatatan keluhan, riwayat kontak, serta informasi kesehatan awal yang dapat menjadi bahan pertimbangan tenaga kesehatan dalam menentukan kebutuhan evaluasi lanjutan. Untuk memperluas jangkauan edukasi hingga ke lingkungan keluarga, tim juga menyediakan kode QR yang mengarahkan pengguna ke video edukasi kesehatan paru bagi anak dan orang tua. Melalui media tersebut, siswa dapat mengulang informasi kesehatan yang diperoleh di sekolah, sementara orang tua diharapkan semakin memahami gejala TBC, pentingnya pemeriksaan, dan peran keluarga dalam menjaga kesehatan anak.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan edukasi mengenai etika batuk dan bersin, kebersihan tangan, serta kebiasaan menjaga kesehatan paru. Kartu misi, stiker apresiasi, dan media interaktif turut digunakan untuk menumbuhkan semangat siswa menjadi “Duta Paru Ceria” yang dapat menyebarkan pesan hidup sehat kepada teman dan keluarga. Dari 47 siswa kelas V dan VI yang menjadi sasaran program, sebanyak 44 siswa mengikuti skrining, dengan cakupan mencapai 93,6 persen. Hasil pengelompokan risiko menunjukkan 32 siswa atau 72,7 persen berada dalam kategori risiko rendah, sembilan siswa atau 20,5 persen dalam kategori risiko sedang, dan tiga siswa atau 6,8 persen dalam kategori risiko tinggi.
Ketiga siswa yang masuk kelompok risiko tinggi dianjurkan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Puskesmas Dungingi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memastikan anak yang menunjukkan indikasi risiko memperoleh evaluasi kesehatan sesuai kebutuhan. Sebagai bagian dari tindak lanjut, sebanyak 14 spesimen yang memenuhi persyaratan kelayakan diperiksa menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) Xpert MTB/RIF Ultra. Seluruh spesimen yang diperiksa menunjukkan hasil MTB not detected atau materi genetik bakteri penyebab TBC tidak terdeteksi pada pemeriksaan tersebut.
Sementara itu, sebanyak 30 bahan pemeriksaan lainnya tidak memenuhi persyaratan kelayakan sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai hasil negatif. Hasil TCM yang tidak mendeteksi MTB juga tidak serta-merta menyingkirkan kemungkinan TBC pada anak. Apabila gejala atau faktor risiko tetap mengarah pada TBC, evaluasi klinis dan pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi tetap diperlukan.
Penyajian hasil tersebut menegaskan bahwa skrining merupakan tahap awal untuk mengenali anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, bukan dasar tunggal untuk menetapkan atau menyingkirkan diagnosis TBC. Program Duta Paru Ceria menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran kedokteran berbasis masyarakat oleh dokter muda FK UNG. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan klinis, tetapi juga mengembangkan pendekatan edukasi kesehatan, melaksanakan skrining awal, dan berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendukung tindak lanjut.
Kolaborasi antara dokter muda, tenaga kesehatan Puskesmas Dungingi, pihak sekolah, dan keluarga menjadi unsur penting dalam pelaksanaan program. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat literasi kesehatan paru pada anak sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala dan faktor risiko TBC. Melalui integrasi DUDUNG-AI, buku skrining, dan video edukasi berbasis kode QR, FK UNG mendorong pemanfaatan inovasi digital untuk mendukung pendidikan kesehatan yang lebih interaktif dan mudah diakses. Ke depan, pendekatan ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif serta mendukung deteksi dini TBC pada anak melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, sekolah, keluarga, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran