
GORONTALO — Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) terus mendorong inovasi pelayanan kesehatan berbasis kebutuhan masyarakat melalui pembelajaran lapangan dokter muda. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui DEKAP (Deteksi Dini dan Skrining Balita Penyakit TBC), sebuah inovasi untuk memperkuat deteksi dini tuberkulosis (TBC) pada balita di wilayah kerja Puskesmas Hulonthalangi, Kota Gorontalo. Program ini merupakan bagian dari mini project kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas (IKM-IKK) FK UNG yang dilaksanakan pada 7 September hingga 31 Oktober 2026. Kegiatan ini turut dihadiri oleh dosen FK UNG, dr. Suliyanti Otto, M.Kes., sebagai bagian dari keterlibatan akademisi dalam pelaksanaan pembelajaran klinik berbasis masyarakat.
Inovasi DEKAP dikembangkan oleh dokter muda Alviyani Mahdalina Adzani, S.Ked., dan Reza Khumairah Lasulika, S.Ked., di bawah bimbingan dr. Suliyanti Otto, M.Kes., dan dr. Yusuf Abriyanto Lukum, dengan dukungan Puskesmas Hulonthalangi. Pengembangan program ini dilatarbelakangi oleh pentingnya deteksi dini TBC pada balita sebagai kelompok rentan. Berdasarkan data yang menjadi dasar pelaksanaan mini project, TBC menempati urutan keempat berdasarkan jumlah kasus pada sarana pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Hulonthalangi, meskipun tidak termasuk dalam daftar sepuluh penyakit terbanyak. Selain itu, tercatat tiga kasus TBC pada balita pada 2025. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kewaspadaan keluarga terhadap gejala serta faktor risiko TBC.
Melalui DEKAP, dokter muda mengembangkan sistem skrining berbasis kuesioner digital yang dapat diakses melalui QR code. Instrumen tersebut memuat sejumlah pertanyaan terkait gejala yang dialami balita, seperti batuk dan demam berkepanjangan, penurunan atau berat badan yang tidak bertambah, penurunan nafsu makan, berkurangnya aktivitas, serta riwayat kontak dengan pasien TBC. Hasil skrining dikelompokkan menggunakan kategori warna untuk membantu mengidentifikasi balita yang membutuhkan perhatian dan tindak lanjut. Namun, DEKAP merupakan sarana skrining awal, bukan alat untuk menegakkan diagnosis TBC. Balita yang menunjukkan gejala atau memiliki faktor risiko tetap memerlukan evaluasi tenaga kesehatan dan pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi.
Pelaksanaan program juga disertai edukasi kesehatan kepada orang tua, keluarga balita, dan masyarakat. Edukasi dilakukan melalui penyuluhan serta penggunaan media promosi kesehatan berupa X-banner dan leaflet yang memuat informasi tentang TBC, cara penularan, gejala yang perlu diwaspadai, faktor risiko pada balita, serta pentingnya pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin. Upaya edukasi tersebut diarahkan untuk menjangkau masyarakat melalui berbagai kegiatan pelayanan kesehatan, termasuk Posyandu, kelas ibu balita, dan Puskesmas Hulonthalangi. Dengan pendekatan ini, keluarga diharapkan memperoleh informasi yang lebih mudah dipahami sehingga mampu mengenali tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian tenaga kesehatan.
Dalam pelaksanaannya, inovasi DEKAP berhasil menjangkau 37 balita untuk menjalani skrining TBC. Berdasarkan hasil pencatatan mini project, sebanyak 28 balita tidak menunjukkan gejala berdasarkan skrining, delapan balita memiliki satu gejala yang perlu dievaluasi, dan satu balita teridentifikasi memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC terkonfirmasi BTA positif. Tidak ditemukan balita dalam kategori merah berdasarkan pengelompokan hasil skrining yang digunakan dalam program. Hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai kondisi balita yang telah menjalani skrining sekaligus membantu mengidentifikasi gejala dan faktor risiko yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Temuan ini tetap perlu ditindaklanjuti sesuai hasil evaluasi tenaga kesehatan dan tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyimpulkan status diagnosis TBC pada balita.
Melalui kegiatan ini, dokter muda tidak hanya menerapkan pengetahuan klinis, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menganalisis masalah kesehatan masyarakat, merancang intervensi, melaksanakan edukasi, serta mengevaluasi program kesehatan di tingkat pelayanan primer. Keterlibatan dosen pembimbing dan dukungan fasilitas pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam menghubungkan proses pendidikan kedokteran dengan kebutuhan nyata masyarakat. Keberlanjutan DEKAP diarahkan pada penguatan skrining aktif pada balita, pemanfaatan media edukasi di wilayah kerja Puskesmas Hulonthalangi, serta tindak lanjut terhadap hasil skrining yang menunjukkan gejala atau faktor risiko. Integrasi skrining ke dalam pelayanan kesehatan anak diharapkan dapat mendukung pelaksanaan deteksi dini secara lebih sistematis dan berkesinambungan.
Melalui inovasi DEKAP, FK UNG bersama Puskesmas Hulonthalangi menunjukkan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menjawab permasalahan kesehatan masyarakat. Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dokter muda dalam memperkuat upaya promotif dan preventif, meningkatkan kewaspadaan terhadap TBC pada balita, serta mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan primer di Kota Gorontalo. Ke depan, DEKAP diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai media pendukung skrining dan edukasi yang mudah digunakan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta berpotensi diadaptasi pada pelayanan kesehatan anak di wilayah lainnya.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran