Etika Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Pemerintah: Komunikasi Jadi Kunci Utama Pelayanan Bermutu

Oleh: Jesica Mulyadi . 13 Februari 2026 . 16:48:45

Palu — Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat medis atau ketepatan diagnosis. Sikap, etika, dan cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan pasien ternyata memegang peranan yang jauh lebih besar. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang menelaah faktor-faktor penentu nilai etika tenaga kesehatan di rumah sakit pemerintah. Penelitian yang dilakukan di tiga rumah sakit pemerintah di Kota Palu—RS Undata, RS Anutapura, dan RS Madani—menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi, budaya organisasi rumah sakit, serta pengetahuan dan keterampilan medis merupakan faktor utama yang membentuk etika tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan.

Etika Bukan Sekadar Aturan, tapi Wajah Pelayanan Kesehatan

Dalam praktik sehari-hari, tenaga kesehatan berada di garis depan pelayanan publik. Mereka berinteraksi langsung dengan pasien dan keluarga, sering kali dalam situasi darurat dan penuh tekanan. Penelitian ini menegaskan bahwa tindakan medis yang benar sekalipun dapat kehilangan makna apabila tidak disertai sikap etis, empati, dan komunikasi yang baik. Pasien tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga ingin diperlakukan dengan hormat, didengar keluhannya, serta mendapatkan penjelasan yang jelas. Sikap ramah, bahasa yang mudah dipahami, dan kesediaan menjawab pertanyaan pasien terbukti sangat memengaruhi kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.

Komunikasi Jadi Faktor Paling Berpengaruh

Dari tujuh faktor yang dianalisis, kemampuan komunikasi tenaga kesehatan muncul sebagai faktor paling dominan. Faktor ini menyumbang hampir 40 persen pengaruh terhadap pembentukan nilai etika tenaga kesehatan. Artinya, cara tenaga medis berbicara, menjelaskan tindakan, dan merespons pasien menjadi penentu utama apakah pelayanan dirasakan etis atau tidak. Penelitian juga menemukan hubungan erat antara kemampuan komunikasi dengan budaya kerja rumah sakit. Lingkungan kerja yang suportif, terbuka, dan menjunjung nilai profesionalisme mendorong tenaga kesehatan untuk berkomunikasi lebih baik dengan pasien maupun rekan kerja.

Budaya Organisasi dan Kompetensi Medis Tak Kalah Penting

Selain komunikasi, norma organisasi dan budaya kerja rumah sakit turut berperan besar. Rumah sakit yang menanamkan nilai etika, disiplin, dan tanggung jawab profesional secara konsisten cenderung memiliki tenaga kesehatan dengan sikap pelayanan yang lebih baik. Sementara itu, pengetahuan dan keterampilan medis tetap menjadi fondasi penting. Tenaga kesehatan yang kompeten dan percaya diri dalam keahliannya akan lebih tenang, lebih komunikatif, dan mampu mengambil keputusan secara etis dalam situasi sulit. Sebaliknya, keterbatasan kompetensi dan tekanan kerja yang tinggi dapat memicu sikap acuh, komunikasi yang buruk, dan menurunnya kualitas pelayanan.

Dampak Langsung pada Kepercayaan Publik

Penelitian ini menegaskan bahwa banyak keluhan masyarakat terhadap rumah sakit bukan semata karena fasilitas atau lamanya antrean, melainkan karena aspek non-medis, seperti komunikasi yang tidak jelas, sikap kurang empatik, dan kurangnya penghargaan terhadap pasien. Ketika tenaga kesehatan mampu memadukan keterampilan medis dengan etika dan komunikasi yang baik, kepuasan pasien meningkat, citra rumah sakit membaik, dan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan pemerintah semakin kuat.

Perlunya Pelatihan Berkelanjutan

Para peneliti merekomendasikan agar manajemen rumah sakit secara aktif memperkuat pelatihan komunikasi, etika profesi, serta pengembangan budaya organisasi yang sehat. Pendidikan berkelanjutan dinilai penting agar tenaga kesehatan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga matang secara moral dan etis. Menjaga etika tenaga kesehatan bukan hanya soal kepatuhan pada aturan, melainkan investasi jangka panjang dalam mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, etika, komunikasi, dan profesionalisme menjadi fondasi utama rumah sakit yang dipercaya masyarakat.

Source: https://www.populationmedicine.eu/pdf-207891-128431?filename=Determining-factors-influ.pdf

Author: Muhammad Ardi Munir, Muhammad Asep Dwitama Cyio, Pascal Adventra Tandiabang

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran