Hipertensi pada Remaja: Ancaman Kesehatan yang Sering Tidak Disadari

Oleh: Jesica Mulyadi . 30 Maret 2026 . 16:59:21

Selama ini hipertensi sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang dewasa atau lanjut usia. Namun, perkembangan penelitian kesehatan menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam beberapa dekade terakhir, hipertensi mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk remaja. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam kesehatan masyarakat karena tekanan darah tinggi yang muncul sejak usia muda berpotensi berkembang menjadi penyakit kardiovaskular kronis pada masa dewasa. Hipertensi merupakan kondisi medis ketika tekanan darah berada di atas batas normal, yaitu ≥140 mmHg untuk tekanan sistolik dan ≥90 mmHg untuk tekanan diastolik. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka mengalami peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, hipertensi sering disebut sebagai silent disease atau penyakit yang berkembang secara diam-diam.

Secara global, hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa kondisi ini berkaitan dengan sekitar 9,4 juta kematian setiap tahun, terutama akibat komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Dalam beberapa tahun terakhir, tren peningkatan kasus hipertensi tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa, tetapi juga mulai terlihat pada kelompok usia remaja. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada remaja di berbagai negara berkisar antara 5,4 hingga 19,4 persen. Angka ini bahkan mengalami peningkatan sekitar 5–10 persen dalam satu dekade terakhir. Di Indonesia sendiri, survei kesehatan nasional menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai sekitar 9,3 persen, yang menunjukkan bahwa masalah ini tidak lagi terbatas pada populasi usia tua.

Fenomena meningkatnya hipertensi pada remaja tidak dapat dilepaskan dari perubahan gaya hidup yang terjadi dalam masyarakat modern. Perkembangan teknologi, perubahan pola konsumsi makanan, serta berkurangnya aktivitas fisik menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan generasi muda saat ini. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, memberikan gambaran yang cukup komprehensif mengenai berbagai faktor yang memengaruhi kejadian hipertensi pada remaja. Penelitian tersebut melibatkan 262 responden remaja usia 15–23 tahun yang dipilih secara acak menggunakan metode simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan statistik seperti uji Chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap hipertensi pada remaja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipertensi pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Setidaknya terdapat 13 faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi, yaitu faktor genetik, jenis kelamin, indeks massa tubuh, pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, akses terhadap layanan kesehatan, kualitas tidur, peran petugas kesehatan, dukungan teman sebaya, tingkat pengetahuan remaja, serta akses terhadap makanan sehat. Salah satu faktor penting yang ditemukan dalam penelitian ini adalah riwayat keluarga hipertensi. Remaja yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat hipertensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah. Faktor genetik memengaruhi berbagai mekanisme fisiologis dalam tubuh, termasuk regulasi hormon, sensitivitas terhadap garam, serta fungsi pembuluh darah.

Selain faktor genetik, status gizi dan obesitas juga menjadi determinan penting dalam perkembangan hipertensi pada remaja. Remaja dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah. Hal ini terjadi karena penumpukan jaringan lemak dapat memicu gangguan metabolisme, meningkatkan resistensi insulin, serta memengaruhi regulasi sistem saraf simpatis yang berperan dalam pengaturan tekanan darah. Pola makan juga memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap tekanan darah pada remaja. Konsumsi makanan tinggi garam, lemak jenuh, serta gula berlebih dapat meningkatkan volume darah dan resistensi pembuluh darah. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, minuman manis, serta makanan olahan yang tinggi natrium menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko hipertensi pada generasi muda.

Selain pola makan, aktivitas fisik yang rendah juga berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah. Remaja yang jarang melakukan aktivitas fisik cenderung memiliki metabolisme tubuh yang lebih rendah dan risiko obesitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, aktivitas fisik yang teratur dapat membantu meningkatkan elastisitas pembuluh darah, menurunkan berat badan, serta memperbaiki fungsi kardiovaskular.

Faktor perilaku lain yang berperan dalam meningkatkan risiko hipertensi adalah kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Zat nikotin dalam rokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan aktivitas saraf simpatis, yang pada akhirnya memicu peningkatan tekanan darah. Sementara itu, konsumsi alkohol dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan meningkatkan stres oksidatif yang berdampak pada sistem kardiovaskular. Selain faktor biologis dan perilaku, faktor sosial juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Dukungan teman sebaya dan peran petugas kesehatan terbukti berkontribusi terhadap perilaku kesehatan remaja. Remaja yang mendapatkan edukasi kesehatan secara rutin serta memiliki lingkungan sosial yang mendukung cenderung memiliki risiko hipertensi yang lebih rendah.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa peran petugas kesehatan menjadi faktor yang paling dominan dalam menurunkan risiko hipertensi pada remaja. Remaja yang memperoleh edukasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah secara rutin, serta bimbingan mengenai gaya hidup sehat memiliki peluang lebih besar untuk menghindari faktor risiko hipertensi. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah hipertensi sejak usia muda. Program promosi kesehatan yang dilakukan melalui puskesmas, sekolah, serta komunitas remaja dapat membantu meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pencegahan hipertensi pada remaja perlu dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif. Edukasi mengenai pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengendalian berat badan, serta pencegahan perilaku berisiko seperti merokok dan konsumsi alkohol menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan generasi muda. Selain itu, skrining tekanan darah secara rutin pada remaja juga perlu ditingkatkan agar hipertensi dapat dideteksi sejak dini. Dengan deteksi yang lebih cepat, intervensi kesehatan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi penyakit kronis pada usia dewasa.

Pada akhirnya, meningkatnya kasus hipertensi pada remaja menjadi pengingat bahwa penyakit tidak menular tidak lagi terbatas pada kelompok usia tertentu. Perubahan gaya hidup modern menuntut adanya kesadaran baru bahwa menjaga kesehatan jantung harus dimulai sejak usia muda. Dengan upaya edukasi yang berkelanjutan dan dukungan sistem kesehatan yang kuat, risiko hipertensi pada remaja dapat dikendalikan sehingga generasi muda dapat tumbuh dengan kondisi kesehatan yang lebih baik di masa depan.

Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2440/1265

Author: Noval Y. DJ. Polapa, Muhammad Isman Jusuf, Chairunnisah J. Lamangantjo, Vivien Novarina A. Kasim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran