Hipotermia Pasca Operasi Caesar: Mengapa Berat Badan Ibu Perlu Diperhitungkan

Oleh: Jesica Mulyadi . 1 Januari 2026 . 17:24:02

Operasi sectio caesarea (SC) kini menjadi prosedur persalinan yang semakin umum di Indonesia. Data global menunjukkan lebih dari satu dari lima persalinan dilakukan melalui operasi caesar. Meski relatif aman, prosedur ini tetap menyimpan risiko komplikasi, salah satunya yang sering luput dari perhatian adalah hipotermia pasca operasi, yaitu penurunan suhu tubuh di bawah batas normal. Penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo, mengungkap fakta penting: Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipotermia setelah operasi caesar dengan anestesi spinal.

Hipotermia, Komplikasi yang Sering Terjadi

Hipotermia pasca anestesi spinal bukan kondisi langka. Penelitian ini mencatat bahwa 63 persen pasien mengalami hipotermia ringan setelah operasi caesar, meskipun sebelum tindakan seluruh pasien berada dalam kondisi suhu tubuh normal. Anestesi spinal bekerja dengan memengaruhi sistem saraf dan pembuluh darah, menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan perpindahan panas dari inti tubuh ke bagian perifer. Akibatnya, suhu tubuh ibu bisa turun dengan cepat tanpa disadari. Hipotermia bukan sekadar rasa dingin. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko perdarahan, memperlambat penyembuhan luka operasi, meningkatkan risiko infeksi, serta memperpanjang waktu pemulihan pasca persalinan.

Peran Berat Badan dalam Menjaga Suhu Tubuh

Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah hubungan antara status gizi ibu, yang diukur melalui IMT, dengan risiko hipotermia. Seluruh pasien dengan IMT kurus ringan dalam penelitian ini mengalami hipotermia pasca operasi. Bahkan pada kelompok IMT normal, sebagian besar juga mengalami penurunan suhu tubuh. Sebaliknya, pasien dengan IMT gemuk ringan dan gemuk berat cenderung mampu mempertahankan suhu tubuh normal setelah operasi. Secara statistik, hubungan antara IMT dan kejadian hipotermia terbukti signifikan. Secara ilmiah, temuan ini dapat dijelaskan dengan sederhana. Jaringan lemak di bawah kulit berfungsi sebagai isolator alami tubuh. Ibu dengan IMT rendah memiliki lapisan lemak yang lebih tipis, sehingga panas tubuh lebih mudah hilang selama tindakan operasi. Sebaliknya, lapisan lemak yang lebih tebal membantu mempertahankan suhu tubuh.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Selama ini, perhatian praoperasi caesar lebih banyak tertuju pada kondisi janin, tekanan darah, dan risiko perdarahan. Status gizi ibu sering kali tidak dikaitkan langsung dengan risiko hipotermia, padahal hasil penelitian ini menunjukkan sebaliknya. Menjadikan IMT sebagai salah satu indikator risiko hipotermia dapat membantu tenaga kesehatan melakukan langkah pencegahan sejak awal. Upaya sederhana seperti penggunaan selimut penghangat, pemanasan cairan infus, dan pemantauan suhu tubuh yang lebih ketat dapat dilakukan terutama pada ibu dengan IMT rendah.

Opini Ilmiah: Pencegahan Dimulai dari Perencanaan

Penelitian ini memberikan pesan kuat bahwa pencegahan komplikasi operasi tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, tetapi dimulai dari perencanaan yang matang dan perhatian pada faktor dasar pasien. Memasukkan penilaian IMT dalam evaluasi praoperasi caesar adalah langkah realistis dan mudah diterapkan, terutama di rumah sakit daerah. Dengan identifikasi risiko yang lebih baik, tenaga kesehatan dapat mencegah komplikasi sejak dini dan meningkatkan keselamatan ibu pasca persalinan.

Menjaga Ibu, Menjaga Awal Kehidupan

Keselamatan ibu adalah fondasi awal kehidupan seorang bayi. Hipotermia pasca operasi caesar mungkin terlihat ringan, tetapi dampaknya bisa berantai jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini mengingatkan bahwa berat badan dan status gizi ibu bukan sekadar angka, melainkan bagian penting dari keselamatan prosedur medis. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis data, pelayanan persalinan caesar di Indonesia dapat menjadi tidak hanya aman, tetapi juga lebih manusiawi dan berkualitas.

Source: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/4752/4097

Author: Diah Arimurty, Sri Manovita Pateda, Romdon Purwanto, Nanang Roswita Paramata, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran