Kata-Kata Positif yang Menenangkan: Cara Sederhana Mengurangi Kecemasan Anak di Rumah Sakit

Oleh: Jesica Mulyadi . 6 Januari 2026 . 14:09:08

Bagi orang dewasa, rawat inap di rumah sakit mungkin sudah menjadi pengalaman yang bisa diterima dengan logika. Namun bagi anak-anak, rumah sakit sering kali dipersepsikan sebagai tempat yang menakutkan: penuh orang asing, suara alat medis, serta tindakan yang menimbulkan rasa nyeri. Tidak mengherankan jika kecemasan menjadi respons paling umum pada anak yang menjalani hospitalisasi. Penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto, Gorontalo, memberikan gambaran menarik bahwa kata-kata sederhana yang bersifat positif—dikenal sebagai afirmasi positif—dapat menurunkan tingkat kecemasan anak secara signifikan selama dirawat di rumah sakit.

Hospitalisasi dan Trauma Psikologis Anak

Data nasional menunjukkan bahwa ribuan anak Indonesia menjalani rawat inap setiap tahun. Proses ini sering kali memicu kecemasan, terutama pada anak usia prasekolah yang belum mampu memahami alasan mereka harus dirawat. Anak menjadi mudah menangis, menolak tindakan medis, sulit makan, dan sangat bergantung pada orang tua. Penelitian ini mencatat bahwa sebelum intervensi, sebagian besar anak berada pada tingkat kecemasan sedang hingga berat, ditandai dengan ekspresi takut, napas cepat, gelisah, hingga tantrum. Kondisi ini bukan hanya menyulitkan anak, tetapi juga menghambat proses perawatan medis.

Afirmasi Positif: Intervensi Nonobat yang Efektif

Afirmasi positif adalah kalimat sederhana yang diucapkan secara berulang untuk membentuk pikiran dan persepsi yang lebih tenang dan optimis. Dalam penelitian ini, afirmasi diberikan melalui media flashcard bergambar yang dibacakan orang tua kepada anak tiga kali sehari. Contoh afirmasi yang digunakan antara lain kalimat tentang rumah sakit sebagai tempat aman, perawat dan dokter sebagai penolong, serta tindakan medis sebagai bagian dari proses penyembuhan. Hasilnya sangat jelas. Anak-anak yang menerima afirmasi positif menunjukkan penurunan kecemasan yang bermakna secara statistik. Beberapa anak bahkan kembali ke tingkat kecemasan normal. Sebaliknya, kelompok anak yang tidak menerima afirmasi tidak menunjukkan perbaikan signifikan, bahkan sebagian mengalami peningkatan kecemasan.

Peran Orang Tua Sangat Menentukan

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran sentral orang tua. Afirmasi tidak diberikan oleh tenaga medis, melainkan oleh orang tua yang mendampingi anak. Kedekatan emosional inilah yang membuat pesan positif lebih mudah diterima anak. Wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak menjadi lebih tenang, lebih kooperatif, dan tidak lagi takut berinteraksi dengan perawat atau dokter. Lingkungan rumah sakit yang semula terasa asing perlahan menjadi lebih ramah di mata anak. Sebaliknya, penelitian juga menemukan bahwa kecemasan anak justru meningkat ketika orang tua tanpa sadar menakut-nakuti anak, misalnya dengan ancaman “nanti disuntik dokter” atau “jangan nakal, ada perawat”.

Opini Ilmiah: Saatnya Pendekatan Humanis Diperkuat

Temuan ini menegaskan bahwa penanganan kecemasan anak tidak selalu membutuhkan obat atau teknologi canggih. Pendekatan psikologis sederhana, murah, dan mudah diterapkan justru bisa memberikan dampak besar. Dalam konteks pelayanan kesehatan anak, afirmasi positif layak dipertimbangkan sebagai bagian dari standar asuhan keperawatan pediatrik, terutama di rumah sakit daerah dengan keterbatasan sumber daya. Intervensi ini tidak memerlukan biaya besar, tidak memiliki efek samping, dan dapat dilakukan siapa saja. Lebih jauh, pendekatan ini sejalan dengan prinsip family-centered care, di mana keluarga dilibatkan secara aktif dalam proses penyembuhan pasien.

Mengubah Pengalaman Rumah Sakit Menjadi Lebih Ramah Anak

Hospitalisasi tidak harus selalu menjadi pengalaman traumatis bagi anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa mengubah cara anak memandang rumah sakit adalah kunci untuk menurunkan kecemasan. Kata-kata positif, pengulangan yang konsisten, serta dukungan emosional dari orang tua mampu membentuk persepsi yang lebih aman dan menenangkan. Jika diterapkan secara luas, afirmasi positif tidak hanya membantu anak menjalani perawatan dengan lebih baik, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Pada akhirnya, menenangkan anak bisa dimulai dari hal paling sederhana: kata-kata yang penuh makna dan kasih sayang.

Source: https://jos.unsoed.ac.id/index.php/mhj/article/view/14871/7262

Author: Dewi Carlina Parawouw, Nanang Roswita Paramata, Mihrawaty Antu

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran