Ketika Keluarga Menghadapi ICU: Pentingnya Dukungan Psikologis dan Terapi Relaksasi

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Maret 2026 . 13:38:57

Bagi banyak keluarga, ruang Intensive Care Unit (ICU) bukan hanya tempat perawatan medis bagi pasien dalam kondisi kritis, tetapi juga ruang penuh kecemasan, ketidakpastian, dan tekanan emosional. Ketika seseorang yang dicintai harus menjalani perawatan intensif dengan berbagai alat medis seperti ventilator, monitor jantung, atau kateter, keluarga sering kali diliputi rasa takut akan kemungkinan terburuk. Kondisi ini menjadikan kecemasan sebagai respons psikologis yang sangat umum dialami oleh keluarga pasien. Kecemasan merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan rasa khawatir, ketegangan, dan perasaan tidak nyaman yang muncul akibat tekanan fisik maupun psikologis. Dalam konteks perawatan intensif, kecemasan keluarga pasien dapat muncul karena berbagai faktor, seperti kondisi pasien yang kritis, ketidakpastian prognosis, serta lingkungan ICU yang asing dan menegangkan. Situasi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan mental keluarga, tetapi juga dapat berdampak pada kemampuan mereka dalam memberikan dukungan emosional kepada pasien. Padahal, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam proses penyembuhan dan pemulihan pasien yang sedang menjalani perawatan intensif.

Kecemasan yang Dialami Keluarga Pasien

Penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Kota Gorontalo, memberikan gambaran nyata mengenai kondisi psikologis keluarga pasien di ruang ICU. Penelitian ini melibatkan 30 keluarga pasien yang menjadi responden dalam penelitian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan intervensi terapi, sebagian besar keluarga pasien mengalami kecemasan pada tingkat sedang. Dari total responden, 25 orang (83,3%) mengalami kecemasan sedang, sementara 5 orang (16,7%) mengalami kecemasan ringan. Kondisi ini mencerminkan betapa beratnya tekanan psikologis yang dialami keluarga pasien yang menunggu proses perawatan di ICU. Gejala kecemasan yang muncul tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan perilaku sehari-hari. Beberapa keluarga pasien melaporkan kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, merasa gelisah, serta mengalami ketegangan yang berkepanjangan. Bahkan, sebagian responden juga merasakan gejala fisik seperti jantung berdebar, nyeri dada, dan perasaan lelah yang terus-menerus. Selain itu, faktor demografis juga turut memengaruhi tingkat kecemasan. Penelitian tersebut menemukan bahwa responden perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikaitkan dengan faktor hormonal dan kecenderungan perempuan dalam mengekspresikan emosi serta merespons stres secara lebih intens. Usia dan tanggung jawab keluarga juga berperan dalam meningkatkan kecemasan. Keluarga pasien yang masih berusia muda cenderung memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi karena kurangnya pengalaman dalam menghadapi situasi krisis kesehatan. Selain itu, keluarga yang merawat pasien anak atau anggota keluarga yang masih muda juga cenderung merasa lebih cemas karena harapan besar terhadap masa depan pasien.

Terapi Relaksasi sebagai Solusi Nonfarmakologis

Melihat tingginya tingkat kecemasan pada keluarga pasien ICU, pendekatan psikologis menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Selain terapi obat, berbagai metode nonfarmakologis dapat digunakan untuk membantu mengurangi kecemasan. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah Progressive Muscle Relaxation (PMR) atau terapi relaksasi otot progresif. Terapi ini merupakan teknik relaksasi yang mengombinasikan latihan pernapasan dalam dengan gerakan menegangkan dan merilekskan kelompok otot secara bergantian. Tujuan utama dari terapi ini adalah membantu tubuh mencapai kondisi relaksasi dengan cara mengurangi ketegangan otot serta menenangkan sistem saraf. Ketika otot tubuh berada dalam keadaan relaks, otak akan menerima sinyal bahwa tubuh berada dalam kondisi aman dan tenang, sehingga tingkat kecemasan dapat menurun. PMR termasuk terapi yang relatif mudah dilakukan karena tidak membutuhkan alat khusus dan dapat dilakukan di berbagai tempat. Selain itu, teknik ini juga dapat dipelajari dengan cepat sehingga cocok diterapkan sebagai bagian dari intervensi keperawatan.

Bukti Efektivitas Terapi PMR

Penelitian yang dilakukan di ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe menunjukkan hasil yang cukup signifikan setelah keluarga pasien diberikan terapi PMR. Setelah intervensi dilakukan, tingkat kecemasan responden mengalami penurunan yang cukup jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberikan terapi PMR, sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan. Dari total responden, 25 orang (83,3%) berada pada kategori kecemasan ringan, sementara 5 orang (16,7%) bahkan tidak lagi mengalami kecemasan. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000, yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari terapi PMR terhadap penurunan tingkat kecemasan keluarga pasien. Penurunan kecemasan ini terjadi karena terapi PMR membantu menstimulasi sistem saraf parasimpatis yang berperan dalam menciptakan kondisi relaksasi pada tubuh. Selain itu, teknik pernapasan dalam yang digunakan dalam terapi ini juga dapat meningkatkan oksigenasi tubuh serta merangsang pelepasan hormon endorfin yang memberikan rasa nyaman dan tenang.

Pentingnya Pendekatan Holistik dalam Perawatan

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perawatan pasien di ruang ICU tidak hanya berfokus pada kondisi medis pasien, tetapi juga harus memperhatikan kondisi psikologis keluarga. Keluarga yang mengalami kecemasan tinggi dapat mengalami kelelahan emosional yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan mereka dalam memberikan dukungan kepada pasien. Oleh karena itu, pendekatan perawatan yang holistik menjadi sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan tidak hanya berperan dalam merawat pasien, tetapi juga membantu keluarga pasien menghadapi tekanan psikologis selama masa perawatan intensif. Penerapan terapi relaksasi seperti PMR dapat menjadi salah satu intervensi sederhana yang efektif dalam membantu keluarga pasien mengelola kecemasan mereka. Dengan memberikan edukasi dan latihan relaksasi yang tepat, keluarga pasien dapat lebih tenang dalam menghadapi situasi sulit.

Menuju Pelayanan Kesehatan yang Lebih Humanis

Pengalaman keluarga pasien di ruang ICU sering kali menjadi momen yang penuh tekanan emosional. Ketika sistem pelayanan kesehatan mampu memberikan dukungan psikologis yang memadai, keluarga pasien tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi juga lebih siap dalam mendampingi proses penyembuhan pasien. Terapi relaksasi otot progresif menunjukkan bahwa pendekatan sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan mental. Dengan integrasi terapi nonfarmakologis dalam pelayanan kesehatan, rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis pasien dan keluarganya. Pada akhirnya, perawatan kesehatan yang baik bukan hanya tentang teknologi medis yang canggih, tetapi juga tentang empati, dukungan, dan perhatian terhadap kondisi emosional manusia yang terlibat di dalamnya.

Sources: https://www.jurnal.karyakesehatan.ac.id/K/article/view/1415/520

Author: Abdurrahim Sy. Saidi, Nanang Roswita Paramata, Siti Hajar Salawali

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda