Mahasiswa kedokteran kerap dipandang sebagai kelompok yang paling memahami pentingnya gizi dan pola hidup sehat. Namun, sebuah penelitian di Program Studi Sarjana Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo justru mengungkap kenyataan yang lebih kompleks: pengetahuan manajemen gizi yang dimiliki mahasiswa belum sepenuhnya tercermin dalam status gizi maupun pola makan sehari-hari. Temuan ini memberi pesan penting bagi dunia pendidikan kesehatan dan masyarakat luas, bahwa pengetahuan saja tidak otomatis mengubah perilaku.
Separuh Mahasiswa Masih Lemah dalam Manajemen Gizi
Penelitian yang melibatkan 130 mahasiswa kedokteran dari angkatan 2022–2024 menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen mahasiswa memiliki pengetahuan manajemen gizi pada kategori kurang. Padahal, mereka berada di lingkungan akademik kesehatan yang setiap hari bersentuhan dengan isu medis dan kesehatan. Di sisi lain, 53,8 persen mahasiswa memiliki status gizi normal, sementara sisanya berada pada kategori kurus hingga gemuk. Untuk pola makan, 66,2 persen mahasiswa berada pada kategori cukup, dan hanya sepertiga yang tergolong baik. Sekilas, angka ini tampak tidak mengkhawatirkan. Namun, analisis lebih lanjut justru mengungkap paradoks menarik.
Pengetahuan Tidak Selalu Berjalan Seiring dengan Status Gizi
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan manajemen gizi dan status gizi mahasiswa. Artinya, mahasiswa dengan pengetahuan gizi baik tidak selalu memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan mereka yang pengetahuannya rendah. Temuan ini menegaskan bahwa status gizi dipengaruhi banyak faktor, seperti aktivitas fisik, stres akademik, pola tidur, kebiasaan makan cepat saji, hingga gaya hidup sedentari. Pengetahuan gizi hanya salah satu bagian dari puzzle besar kesehatan mahasiswa. Dengan jadwal kuliah yang padat, tuntutan akademik tinggi, dan waktu istirahat yang terbatas, mahasiswa sering kali mengorbankan kualitas makan demi kepraktisan.
Pola Makan Sehat Justru Lebih Banyak pada yang Pengetahuannya Rendah?
Fakta paling menarik dari penelitian ini adalah ditemukannya hubungan signifikan namun negatif antara pengetahuan manajemen gizi dan pola makan. Secara sederhana, mahasiswa dengan pengetahuan gizi lebih rendah justru cenderung memiliki pola makan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa dengan pengetahuan gizi tinggi. Fenomena ini tampak bertolak belakang dengan logika umum, tetapi bisa dijelaskan secara realistis. Mahasiswa dengan pengetahuan tinggi sering kali memiliki beban akademik lebih berat, sehingga lebih sering melewatkan waktu makan atau memilih makanan cepat saji. Sebaliknya, mahasiswa dengan beban akademik lebih ringan memiliki rutinitas makan yang lebih teratur. Artinya, kesibukan dan tekanan akademik dapat mengalahkan pengetahuan yang dimiliki.
Kesenjangan antara Teori dan Praktik
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa lebih menguasai aspek teknis seperti pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) dibandingkan pemahaman praktis tentang kebutuhan gizi harian dan penerapan pedoman Isi Piringku. Hal ini mencerminkan kesenjangan antara literasi gizi teoritis dan literasi gizi aplikatif. Mahasiswa tahu cara menghitung status gizi, tetapi belum tentu mampu menerapkan prinsip gizi seimbang secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan makan yang terbentuk sejak keluarga, kondisi ekonomi, lingkungan kos, serta keterbatasan waktu memasak turut membentuk pola makan mahasiswa, sering kali lebih kuat daripada pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.
Opini Ilmiah: Kampus Sehat Tidak Cukup dengan Kurikulum
Temuan ini membawa pesan penting: edukasi gizi di perguruan tinggi kesehatan perlu melampaui ruang kelas. Pengetahuan gizi harus dikemas lebih aplikatif dan didukung oleh lingkungan kampus yang kondusif, seperti:
Dari Mahasiswa ke Masyarakat
Mahasiswa kedokteran adalah calon tenaga kesehatan dan panutan masyarakat. Jika mereka sendiri mengalami kesulitan menerapkan gizi seimbang, tantangan edukasi gizi di masyarakat tentu jauh lebih besar. Penelitian ini mengingatkan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan, tetapi membutuhkan sistem pendukung yang nyata. Dari kampus, kebiasaan ini akan terbawa ke praktik profesional dan kehidupan bermasyarakat. Karena pada akhirnya, gizi yang baik bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa konsisten kita menerapkannya dalam keseharian.
Source: https://journal.scitechgrup.com/index.php/jrski/article/view/607/562
Author: Rendi Afriyanto Lahabu, Vivien Novarina A. Kasim, Cecy Rahma Karim, Dian Pratiwi Iman, Sri Manovita Pateda
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran