Makan Bergizi Gratis: Sudah Baik, Tapi Belum Cukup untuk Anak Sekolah

Oleh: Jesica Mulyadi . 6 Januari 2026 . 23:50:36

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai salah satu tonggak penting pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Lewat program ini, negara hadir memastikan anak sekolah memperoleh makanan sehat tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah makanan yang diberikan sudah benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak? Penelitian yang dilakukan di Kota Gorontalo memberikan jawaban jujur sekaligus reflektif. Program MBG dinilai berkualitas dari sisi penyajian, tetapi belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan gizi harian anak sekolah dasar.

Anak Menyukai Makanannya, Tapi Kandungan Gizinya Masih Kurang

Penelitian terhadap 147 siswa sekolah dasar penerima MBG menunjukkan bahwa mayoritas anak menilai makanan yang disajikan rapi, bersih, matang, dan rasanya enak. Lebih dari 78 persen siswa menyatakan puas terhadap porsi dan rasa makanan. Ini menandakan bahwa secara visual dan sensori, program MBG diterima dengan baik oleh anak-anak. Namun, ketika isi piring dianalisis lebih dalam, hasilnya mengundang perhatian. Rata-rata energi makanan hanya 377 kilokalori, sementara standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk anak usia 10–12 tahun mencapai 531 kilokalori per sekali makan. Artinya, ada kekurangan hampir 30 persen dari kebutuhan energi ideal. Kondisi serupa juga terlihat pada protein dan lemak, dua zat gizi penting untuk pertumbuhan. Kandungan protein dan lemak dalam menu MBG belum memenuhi standar AKG, meskipun asupan karbohidrat sudah tergolong cukup.

Masalah Gizi Anak Tak Lagi Satu Wajah

Selama ini, masalah gizi sering diidentikkan dengan kekurangan gizi dan stunting. Padahal, data di Kota Gorontalo menunjukkan masalah gizi anak jauh lebih kompleks. Selain gizi kurang, overweight dan obesitas pada anak sekolah dasar juga cukup tinggi. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan asupan gizi. Anak mungkin mendapatkan makanan yang mengenyangkan, tetapi belum tentu seimbang dan berkualitas secara nutrisi. Inilah tantangan utama program MBG: bukan hanya memberi makan, tetapi memberi makan dengan komposisi gizi yang tepat.

Mikronutrien: Ada, Tapi Belum Merata

Penelitian ini juga menyoroti kandungan vitamin dan mineral dalam menu MBG. Hasilnya menunjukkan bahwa mikronutrien memang tersedia, tetapi belum merata dan sebagian masih jauh di bawah kebutuhan harian. Vitamin A, kalsium, zat besi, dan seng—zat gizi mikro yang krusial untuk tumbuh kembang anak—belum tercukupi secara optimal. Padahal, kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat berdampak serius, mulai dari gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, hingga menurunnya kemampuan belajar anak.

Opini Ilmiah: MBG Harus Naik Kelas

Temuan ini tidak dimaksudkan untuk melemahkan program MBG, justru sebaliknya. MBG adalah langkah besar yang patut diapresiasi, tetapi perlu diperkuat agar benar-benar berdampak. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama:

  1. Diversifikasi menu berbasis pangan lokal, terutama sumber protein hewani dan nabati.
  2. Peningkatan porsi dan keseimbangan zat gizi, bukan hanya karbohidrat.
  3. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan, tidak hanya pada rasa dan kebersihan, tetapi juga kandungan gizi.
  4. Kolaborasi lintas sektor, terutama antara Badan Gizi Nasional dan satuan pelayanan pemenuhan gizi di daerah.
  5. Program makan sekolah yang berhasil di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh keberlanjutan program, tetapi juga oleh kualitas gizi yang benar-benar sesuai kebutuhan anak.

Dari Piring Makan ke Masa Depan Bangsa

Anak sekolah dasar hari ini adalah tenaga produktif Indonesia dua dekade mendatang. Jika sejak sekarang kebutuhan gizinya tidak terpenuhi secara optimal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan individu, tetapi juga kualitas sumber daya manusia nasional. Program Makan Bergizi Gratis telah berada di jalur yang benar. Kini saatnya melangkah lebih jauh: dari sekadar memberi makan, menuju memberi gizi yang benar. Karena masa depan bangsa, sesungguhnya, sedang disusun dari piring makan anak-anak kita.

Source: https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1773/1739

Author: Nanda Dwi Fakhriyyah Moridu, Vivien Novarina A. Kasim, Nanang Roswita Paramata, Cecy Rahma Karim, Serly Daud

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran