Memutus Rantai Gagal Tumbuh: Riset Ungkap Tiga Faktor Utama Penyebab Stunting pada Balita

Oleh: Jesica Mulyadi . 24 Mei 2026 . 23:22:05

POHUWATO – Sebuah studi kesehatan anak terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Medical and Health Science Journal (Agustus 2026) memberikan peta jalan krusial bagi penanganan kasus gizi buruk di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo ini membongkar determinan atau faktor penentu utama yang paling berkontribusi signifikan dalam memicu kejadian gagal tumbuh anak atau stunting pada balita.

Stunting merupakan manifestasi klinis dari kegagalan pertumbuhan linier tubuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun (1.000 Hari Pertama Kehidupan). Dampak negatif stunting tidak hanya merugikan penampilan fisik anak secara kosmetik (tubuh pendek), melainkan jauh lebih berbahaya bagi masa depan karena mengganggu perkembangan struktur sel otak secara permanen, menurunkan kemampuan kognitif, serta meningkatkan kerentanan terhadap serangan penyakit metabolik saat dewasa.

Penelitian kuantitatif analitik ini melibatkan populasi ibu dan anak balita yang berdomisili di wilayah pesisir dan pedesaan Kecamatan Buntulia. Menggunakan uji statistik mutakhir untuk memisahkan variabel pengganggu, hasil pemodelan data akhir memetakan tiga pemicu utama yang memiliki hubungan kausalitas paling kuat terhadap angka kejadian stunting:

  1. Pola Makan dan Asupan Zat Gizi yang Defisit: Faktor utama yang paling mendominasi adalah rendahnya pemenuhan kecukupan energi, protein, dan zat gizi mikro harian pada menu balita. Sebagian besar balita yang terdiagnosis stunting tercatat memiliki pola konsumsi di bawah standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) nasional, yang menyebabkan tubuh kekurangan bahan baku untuk membangun struktur tulang panjang.
  2. Riwayat Paparan Penyakit Infeksi Berulang: Riset ini menemukan adanya lingkaran setan (vicious cycle) antara infeksi dan stunting. Balita yang sering mengalami episode diare menahun, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), atau demam kronis secara berulang menunjukkan risiko stunting yang melonjak tajam. Secara biologis, ketika tubuh balita diserang infeksi, zat gizi yang masuk tidak digunakan untuk pertumbuhan, melainkan dialihkan secara paksa oleh sistem imun untuk melawan penyakit.
  3. Pola Asuh dan Praktik Pemberian Makan (Feeding Practices): Faktor ketiga yang tidak kalah krusial adalah rendahnya kualitas pola asuh ibu, terutama dalam praktik pemberian makan sejak bayi lahir. Studi ini mengidentifikasi masih maraknya kegagalan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama serta kekeliruan dalam tekstur maupun ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi seimbang.

Sebaliknya, analisis riset mencatat bahwa variabel ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga secara umum serta indikator sanitasi lingkungan makro tidak menunjukkan pengaruh yang dominan secara statistik pada kelompok sampel spesifik ini. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sekalipun bahan pangan tersedia di dapur atau lingkungan bersih, stunting tetap dapat terjadi jika pola asuh dari orang tua dalam mengolah menu dan menjaga kesehatan anak dari infeksi masih lemah.

Secara medis, pertumbuhan tulang balita dikontrol oleh interaksi hormon pertumbuhan (Growth Hormone) dan faktor pertumbuhan mirip insulin (Insulin-like Growth Factor 1/IGF-1) yang diproduksi di hati. Ketika balita mengalami defisit nutrisi (terutama asam amino esensial dari protein hewani) dan tubuhnya terus-menerus mengalami peradangan akibat penyakit infeksi, organ hati akan mengalami resistensi terhadap hormon pertumbuhan. Akibatnya, produksi IGF-1 menurun drastis, sehingga sel-sel di lempeng pertumbuhan tulang (epiphyseal plate) berhenti membelah dan menyebabkan pertambahan tinggi badan anak terhenti total.

Berdasarkan temuan ilmiah di Kabupaten Pohuwato ini, para peneliti merumuskan rekomendasi taktis bagi jajaran pemerintah daerah dan kader kesehatan nasional untuk merevolusi strategi penurunan stunting di hulu:

  1. Gerakan Masif Protein Hewani: Sosialisasi gizi harus digeser dari sekadar mengenyangkan menjadi pemenuhan protein hewani berkualitas tinggi (seperti telur, ikan lokal, dan daging ayam) yang kaya akan asam amino esensial untuk memicu sekresi hormon pertumbuhan.
  2. Penguatan Layanan Posyandu dan Imunisasi: Menurunkan angka infeksi anak dengan memperketat cakupan imunisasi dasar lengkap dan deteksi dini penyakit anak di Posyandu, sehingga setiap anak yang mengalami diare atau ISPA langsung ditangani sebelum mengganggu status gizinya.
  3. Kelas Pengasuhan Edukatif bagi Ibu: Mengintensifkan edukasi tatap muka mengenai teknik pemberian makan (feeding rules) yang benar, konsistensi MP-ASI, serta pentingnya menjaga kebersihan alat makan bayi guna mencegah transmisi bakteri patogen penyebab infeksi usus.

Studi nasional dari Bumi Gorontalo ini menegaskan kembali bahwa keberhasilan menekan angka stunting menuju target nasional bukan sekadar membagikan paket sembako, melainkan tentang bagaimana mengubah perilaku pengasuhan di dalam rumah tangga demi memastikan setiap suapan makanan balita bernilai gizi tinggi dan tubuh mereka terlindung dari infeksi pembatas pertumbuhan.

Author: Nur Istiqoma Suja, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34584/pdf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda