POHUWATO – Sebuah studi kesehatan anak terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Medical and Health Science Journal (Agustus 2026) memberikan peta jalan krusial bagi penanganan kasus gizi buruk di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo ini membongkar determinan atau faktor penentu utama yang paling berkontribusi signifikan dalam memicu kejadian gagal tumbuh anak atau stunting pada balita.
Stunting merupakan manifestasi klinis dari kegagalan pertumbuhan linier tubuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun (1.000 Hari Pertama Kehidupan). Dampak negatif stunting tidak hanya merugikan penampilan fisik anak secara kosmetik (tubuh pendek), melainkan jauh lebih berbahaya bagi masa depan karena mengganggu perkembangan struktur sel otak secara permanen, menurunkan kemampuan kognitif, serta meningkatkan kerentanan terhadap serangan penyakit metabolik saat dewasa.
Penelitian kuantitatif analitik ini melibatkan populasi ibu dan anak balita yang berdomisili di wilayah pesisir dan pedesaan Kecamatan Buntulia. Menggunakan uji statistik mutakhir untuk memisahkan variabel pengganggu, hasil pemodelan data akhir memetakan tiga pemicu utama yang memiliki hubungan kausalitas paling kuat terhadap angka kejadian stunting:
Sebaliknya, analisis riset mencatat bahwa variabel ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga secara umum serta indikator sanitasi lingkungan makro tidak menunjukkan pengaruh yang dominan secara statistik pada kelompok sampel spesifik ini. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sekalipun bahan pangan tersedia di dapur atau lingkungan bersih, stunting tetap dapat terjadi jika pola asuh dari orang tua dalam mengolah menu dan menjaga kesehatan anak dari infeksi masih lemah.
Secara medis, pertumbuhan tulang balita dikontrol oleh interaksi hormon pertumbuhan (Growth Hormone) dan faktor pertumbuhan mirip insulin (Insulin-like Growth Factor 1/IGF-1) yang diproduksi di hati. Ketika balita mengalami defisit nutrisi (terutama asam amino esensial dari protein hewani) dan tubuhnya terus-menerus mengalami peradangan akibat penyakit infeksi, organ hati akan mengalami resistensi terhadap hormon pertumbuhan. Akibatnya, produksi IGF-1 menurun drastis, sehingga sel-sel di lempeng pertumbuhan tulang (epiphyseal plate) berhenti membelah dan menyebabkan pertambahan tinggi badan anak terhenti total.
Berdasarkan temuan ilmiah di Kabupaten Pohuwato ini, para peneliti merumuskan rekomendasi taktis bagi jajaran pemerintah daerah dan kader kesehatan nasional untuk merevolusi strategi penurunan stunting di hulu:
Studi nasional dari Bumi Gorontalo ini menegaskan kembali bahwa keberhasilan menekan angka stunting menuju target nasional bukan sekadar membagikan paket sembako, melainkan tentang bagaimana mengubah perilaku pengasuhan di dalam rumah tangga demi memastikan setiap suapan makanan balita bernilai gizi tinggi dan tubuh mereka terlindung dari infeksi pembatas pertumbuhan.
Author: Nur Istiqoma Suja, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34584/pdf
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran