
Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak terjadi di kalangan remaja, terutama remaja putri. Kondisi ini terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari normal, sehingga tubuh tidak mampu mengangkut oksigen secara optimal ke seluruh jaringan tubuh. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, dan aktivitas sehari-hari remaja.
Menurut data kesehatan global, anemia merupakan masalah yang masih banyak ditemukan di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, prevalensi anemia pada remaja menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa angka anemia pada remaja meningkat dari 6,9 persen pada tahun 2007 menjadi 18,4 persen pada tahun 2013, dan mencapai 32 persen pada tahun 2018. Kondisi ini menunjukkan bahwa anemia pada remaja masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Remaja putri menjadi kelompok yang paling rentan mengalami anemia. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah menstruasi. Ketika menstruasi terjadi, tubuh kehilangan darah yang mengandung zat besi. Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi melalui makanan atau suplemen, maka remaja putri berisiko mengalami anemia.
Selain faktor biologis, kondisi sosial ekonomi juga dapat memengaruhi risiko anemia. Pendapatan keluarga, misalnya, dapat berpengaruh terhadap kualitas dan kecukupan gizi yang dikonsumsi oleh remaja. Keluarga dengan pendapatan rendah sering kali memiliki keterbatasan dalam menyediakan makanan yang bergizi seimbang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi pada remaja putri.
Penelitian yang dilakukan di SMAN 1 Paguyaman, Gorontalo, memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko anemia pada remaja putri. Penelitian ini melibatkan 170 responden remaja putri berusia 15 hingga 18 tahun yang dipilih melalui metode simple random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki pola menstruasi yang tergolong tidak berisiko. Berdasarkan data penelitian, sekitar 81,2 persen responden memiliki siklus menstruasi yang normal, sementara 52,9 persen memiliki durasi menstruasi yang tidak berisiko, dan 88,2 persen memiliki volume menstruasi yang normal. Data ini menunjukkan bahwa secara umum pola menstruasi remaja putri di sekolah tersebut berada dalam kategori yang relatif sehat.
Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar responden berasal dari keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah. Sekitar 94,1 persen responden memiliki orang tua dengan penghasilan di bawah upah minimum regional. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas asupan gizi yang diterima oleh remaja.
Selain faktor ekonomi, tingkat pengetahuan remaja mengenai anemia juga menjadi faktor penting. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki tingkat pengetahuan yang berada pada kategori cukup. Sekitar 55,3 persen responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai anemia, sementara 38,2 persen memiliki pengetahuan yang baik, dan 6,5 persen memiliki pengetahuan yang masih rendah.
Tingkat pengetahuan yang masih terbatas ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya edukasi kesehatan yang lebih intensif di kalangan remaja. Informasi mengenai anemia, faktor risiko, serta cara pencegahannya perlu disampaikan secara lebih luas melalui program pendidikan kesehatan di sekolah maupun melalui media informasi lainnya.
Anemia pada remaja tidak boleh dianggap sebagai masalah kesehatan yang sepele. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang, termasuk pada kesehatan reproduksi perempuan di masa depan. Remaja putri yang mengalami anemia berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan ketika memasuki masa kehamilan di kemudian hari.
Oleh karena itu, pencegahan anemia perlu dilakukan sejak usia remaja. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti sayuran hijau, daging, ikan, dan kacang-kacangan. Selain itu, program suplementasi zat besi serta edukasi kesehatan juga dapat menjadi strategi penting dalam menurunkan angka anemia pada remaja putri.
Dengan pengetahuan yang lebih baik mengenai anemia dan cara pencegahannya, diharapkan remaja putri dapat menjaga kesehatan mereka sejak dini. Upaya ini tidak hanya penting bagi kesehatan individu, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas generasi masa depan.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/29643/pdf
Author: Putri Mega Anjali, Suliyanti Otto, Sri Andriani Ibrahim, Sitti Rahma, Vivien Novarina A Kasim
#FKUNGgul
#kedokteranung