
Kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius di berbagai daerah di Indonesia. Masa remaja, yang ditandai dengan perubahan fisik, emosi, dan sosial, merupakan fase rentan terhadap stres dan gangguan psikologis. Di tengah derasnya pengaruh lingkungan dan tekanan akademik, pola asuh orang tua terbukti memainkan peran kunci dalam menjaga kesehatan mental remaja. Sebuah penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 2 Limboto, Kabupaten Gorontalo, memberikan gambaran kuat tentang bagaimana cara orang tua mendidik dan berinteraksi dengan anak berhubungan langsung dengan kondisi kesehatan mental remaja.
Mayoritas Remaja Diasuh Secara Demokratis
Penelitian yang melibatkan 285 siswa ini menemukan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis. Pola asuh ini ditandai dengan sikap terbuka, pemberian dukungan, komunikasi dua arah, serta adanya aturan yang disepakati bersama antara orang tua dan anak. Remaja yang tumbuh dalam pola asuh demokratis cenderung merasa dihargai, didengar, dan didukung. Kondisi ini membantu mereka mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan mengelola stres, serta keterampilan sosial yang lebih baik.
Kesehatan Mental Remaja: Mayoritas Normal, Tapi Tak Bisa Diabaikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah remaja berada pada kondisi kesehatan mental normal. Mereka umumnya merasa bahagia, mampu mengendalikan emosi, memiliki hubungan sosial yang baik, serta dapat berfungsi optimal di lingkungan sekolah dan keluarga. Namun, temuan lain yang patut menjadi perhatian adalah masih adanya remaja yang berada pada kategori ambang (borderline) dan bahkan abnormal. Kelompok ini menunjukkan gejala seperti kecemasan berlebihan, mudah marah, kesulitan berkonsentrasi, menarik diri dari pergaulan, hingga perasaan sedih yang berkepanjangan.
Hubungan Kuat antara Pola Asuh dan Kesehatan Mental
Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara pola asuh orang tua dan kesehatan mental remaja. Semakin baik pola asuh yang diterapkan, semakin baik pula kondisi kesehatan mental anak. Remaja yang diasuh secara demokratis paling banyak berada pada kategori kesehatan mental normal. Sebaliknya, pola asuh otoriter—yang cenderung menuntut kepatuhan tanpa dialog dan permisif yang memberi kebebasan tanpa batas dan pengawasan—lebih banyak ditemukan pada remaja dengan masalah kesehatan mental. Secara ilmiah, hal ini dapat dijelaskan melalui mekanisme psikologis. Pola asuh otoriter sering menimbulkan tekanan, rasa takut, dan rendahnya harga diri. Sementara pola asuh permisif dapat membuat remaja kesulitan mengatur emosi, mengambil keputusan, dan memahami batasan sosial.
Faktor Usia dan Jenis Kelamin Turut Berperan
Penelitian ini juga mencatat bahwa remaja usia 17 tahun merupakan kelompok yang paling banyak mengalami masalah kesehatan mental. Usia ini termasuk fase remaja tengah, ketika perubahan emosi dan pencarian jati diri berada pada puncaknya. Dari sisi jenis kelamin, remaja perempuan lebih banyak teridentifikasi mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan laki-laki. Hal ini sejalan dengan berbagai kajian yang menyebutkan bahwa perempuan cenderung lebih sensitif secara emosional dan lebih rentan terhadap stres psikologis.
Sekolah dan Keluarga Perlu Bergerak Bersama
Temuan ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan pada sekolah atau keluarga saja. Kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Sekolah dapat berperan melalui skrining kesehatan mental rutin, layanan konseling, serta edukasi psikososial. Sementara itu, orang tua perlu dibekali pemahaman tentang pola asuh yang sehat dan adaptif, agar mampu menjadi sistem pendukung utama bagi anak di rumah.
Kesimpulan
Penelitian ini memperkuat bukti bahwa pola asuh orang tua memiliki hubungan yang kuat dan searah dengan kesehatan mental remaja. Pola asuh demokratis terbukti paling mendukung kesehatan mental, sementara pola asuh otoriter dan permisif meningkatkan risiko gangguan psikologis. Kesehatan mental remaja bukan hanya isu individu, tetapi cerminan kualitas relasi dalam keluarga. Dengan pola asuh yang tepat, komunikasi yang terbuka, dan dukungan yang konsisten, remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/7452/5316
Author: Regita Eka Putri Ishak, Sitti Rahma, Siti Hajar Salawali
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran