
Olahraga bulu tangkis dikenal luas sebagai cabang olahraga yang menyehatkan sekaligus kompetitif. Namun di balik gerakannya yang lincah dan cepat, bulu tangkis menyimpan risiko cedera yang tidak kecil, terutama pada persendian kaki, lutut, pinggang, dan bahu. Cedera ini tidak hanya dialami atlet profesional, tetapi juga pemain rekreasional di berbagai klub olahraga. Sebuah penelitian yang dilakukan pada pemain bulu tangkis di Trisaka Sport Kota Gorontalo mengungkap fakta penting: indeks massa tubuh (IMT) memiliki hubungan yang kuat dengan risiko cedera olahraga. Temuan ini mempertegas bahwa kondisi fisik dasar, khususnya status gizi dan postur tubuh, berperan besar dalam keselamatan saat berolahraga.
Bulu Tangkis dan Risiko Cedera Tinggi
Bulu tangkis menuntut gerakan eksplosif seperti jumping smash, lunge, dan perubahan arah secara mendadak. Gerakan ini memberi beban besar pada otot dan sendi. Tidak mengherankan jika cedera muskuloskeletal menjadi jenis cedera yang paling sering dialami pemain. Penelitian mencatat bahwa sebagian besar pemain berada pada kategori risiko cedera tinggi, yang diukur menggunakan metode Functional Movement Screening (FMS). Skor FMS yang rendah menunjukkan adanya ketidakseimbangan otot, keterbatasan fleksibilitas, atau gangguan pola gerak yang dapat memicu cedera.
IMT sebagai Faktor Penentu
Indeks Massa Tubuh digunakan untuk menggambarkan status gizi seseorang, mulai dari underweight, normal, overweight, hingga obesitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemain dengan IMT obesitas dan overweight mendominasi kelompok berisiko cedera tinggi. Secara statistik, ditemukan hubungan yang signifikan dan kuat antara IMT dan risiko cedera, dengan tingkat korelasi yang tinggi. Artinya, semakin jauh IMT seseorang dari kategori normal—baik ke arah kekurangan maupun kelebihan berat badan—semakin besar risiko cedera yang dihadapi.
Risiko Cedera Tidak Hanya pada Obesitas
Menariknya, risiko cedera tidak hanya meningkat pada pemain dengan berat badan berlebih. Pemain dengan IMT rendah (underweight) juga memiliki risiko cedera yang cukup besar. Kekurangan berat badan sering berkaitan dengan massa otot dan kekuatan tulang yang rendah, sehingga tubuh kurang mampu menahan beban dan benturan saat bergerak cepat. Sementara itu, pemain dengan IMT normal cenderung memiliki stabilitas tubuh dan keseimbangan otot yang lebih baik. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa IMT normal bukan jaminan bebas cedera jika tidak disertai teknik bermain yang benar, pemanasan yang cukup, dan kebugaran fisik yang baik.
Makna Penting bagi Pemain dan Pelatih
Temuan ini memberikan pesan jelas bahwa pencegahan cedera harus dimulai dari pengelolaan kondisi tubuh. Menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan seimbang, dan meningkatkan kekuatan serta fleksibilitas otot menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko cedera. Bagi pelatih dan pengelola klub, pengukuran IMT dan skrining risiko cedera dapat dijadikan bagian dari evaluasi rutin. Pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan performa pemain, tetapi juga menjaga keberlanjutan aktivitas olahraga tanpa gangguan cedera berulang.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa indeks massa tubuh berhubungan erat dengan risiko cedera pada pemain bulu tangkis. Baik kelebihan maupun kekurangan berat badan sama-sama meningkatkan potensi cedera. Oleh karena itu, menjaga IMT dalam rentang normal, disertai latihan fisik yang tepat dan teknik bermain yang benar, merupakan kunci utama dalam menciptakan olahraga yang aman dan berkelanjutan. Bulu tangkis bukan hanya soal kecepatan dan strategi, tetapi juga tentang kesiapan tubuh. Dengan memperhatikan status gizi dan kondisi fisik, pemain dapat menikmati olahraga ini dengan lebih aman, sehat, dan optimal.
Source: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/7710/5697
Author: Sri Wahyuni Gaga, Vivien Novarina A. Kasim, Ibrahim Suleman
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran