Saat Krisis Melanda, Bagaimana Nasib Kesehatan Reproduksi Keluarga?

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 September 2026 . 19:55:16

Bencana alam, wabah penyakit, hingga situasi darurat sering kali datang tanpa permisi. Ketika krisis terjadi, perhatian utama masyarakat dan pemerintah biasanya tertuju pada evakuasi, pencarian bahan pangan, atau penanganan luka fisik. Namun, ada satu hal vital yang kerap terabaikan di tengah kepanikan: kesehatan reproduksi keluarga. Bagi pasangan usia subur (PUS), situasi darurat dapat memicu bahaya laten. Layanan kesehatan esensial seperti pemeriksaan kehamilan (antenatal care), akses terhadap alat kontrasepsi, hingga penanganan kegawatdaruratan persalinan sering kali terhenti atau terhambat akibat rusaknya fasilitas medis. Dampaknya tidak main-main: risiko kehamilan yang tidak direncanakan meningkat, keterlambatan penanganan komplikasi persalinan, hingga mengancam keselamatan ibu dan bayi. Lantas, bagaimana cara membangun benteng pertahanan kesehatan reproduksi yang kokoh langsung dari tingkat keluarga?

Menjangkau Pasangan Usia Subur di Gorontalo

Kegiatan ini melibatkan 26 pasangan usia subur di Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Wilayah ini dipilih mengingat kondisi geografis serta keterbatasan akses layanan kesehatan yang membuat masyarakatnya memiliki kerentanan lebih tinggi saat terjadi gangguan fasilitas medis. Bukannya menerapkan edukasi satu arah yang membosankan seperti ceramah kaku, para peneliti mengajak warga terlibat aktif melalui diskusi kelompok dan simulasi krisis kesehatan. Pembelajaran untuk orang dewasa (andragogi) ini dirancang agar setiap pasangan tidak hanya mendengarkan teori, melainkan diajak bersimulasi mengambil keputusan cepat dan tepat saat situasi darurat terjadi. Materi yang dibahas mencakup empat pilar utama:

  1. Perencanaan Keluarga Berencana (KB)
  2. Kehamilan Aman
  3. Mengenali Tanda Bahaya Kehamilan & Persalinan
  4. Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kesehatan

Hasil yang Membuka Mata: Dari Tidak Tahu Menjadi Siap Siaga

Efektivitas dari edukasi partisipatif ini diukur sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) kegiatan berlangsung. Hasilnya sangat signifikan:

  1. Lompatan Skor Pemahaman: Rata-rata nilai pengetahuan peserta melonjak drastis dari 56,4 sebelum edukasi menjadi 82,3 setelah edukasi—mengalami peningkatan hingga 45,9%.
  2. Pergeseran Kategori: Sebelum pelatihan, mayoritas warga (62%) memiliki pengetahuan yang berada pada kategori rendah. Namun, setelah simulasi dan interaksi aktif, sebesar 70% peserta berhasil naik ke kategori pemahaman tinggi.
  3. Pemahaman Merata: Tingkat variasi nilai antarpeserta makin mengecil (terlihat dari penurunan standar deviasi dari 8,7 menjadi 6,5). Artinya, edukasi berhasil merata dan diserap dengan baik oleh hampir seluruh peserta tanpa ada yang tertinggal.
  4. Secara terperinci, kenaikan pemahaman tertinggi terjadi pada topik Keluarga Berencana (naik 54,0%) dan Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan (naik 47,7%).

Mengapa hasil ini sangat penting bagi kita semua?

Temuan dari Telaga Jaya ini memberikan pesan kunci bagi masyarakat luas dan penentu kebijakan:

  1. Suami dan istri adalah Tim Utama: Keputusan kesehatan reproduksi—mulai dari memilih kontrasepsi hingga menentukan rujukan darurat saat hamil—harus didiskusikan bersama oleh pasangan. Ketika kedua belah pihak paham akan tanda bahaya, keterlambatan mencari pertolongan medis dapat dicegah.
  2. Kesiapsiagaan Krisis Dimulai dari Rumah: Fasilitas kesehatan bisa saja lumpuh saat bencana, tetapi keluarga yang berdaya dan memiliki rencana cadangan (mitigasi) akan jauh lebih tangguh menghadapi situasi darurat.
  3. Edukasi yang efektif adalah yang melibatkan: metode belajar sambil bersimulasi dan berdiskusi, terbukti jauh lebih manjur mengubah pemahaman warga dibanding sekadar memberikan brosur atau ceramah searah.
  4. Kesehatan reproduksi bukan hanya urusan ruang dokter atau bidan, melainkan investasi ketahanan bagi setiap keluarga. Dengan membekali pasangan usia subur dengan pemahaman yang memadai, kita sedang membangun masyarakat yang tangguh dan siap siaga menghadapi krisis apa pun di masa depan.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran