Semakin Lama Menderita Diabetes, Risiko Kerusakan Saraf Kian Nyata

Oleh: Jesica Mulyadi . 27 Januari 2026 . 11:35:20

Diabetes melitus bukan sekadar penyakit gula darah tinggi. Dalam jangka panjang, penyakit kronis ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, salah satunya neuropati diabetik, yakni kerusakan saraf yang sering ditandai dengan rasa kesemutan, nyeri, panas, hingga mati rasa pada kaki dan tangan. Kondisi ini kerap luput disadari, namun berdampak besar pada kualitas hidup penderita. Sebuah penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, mengungkap fakta penting: lama seseorang menderita diabetes melitus berhubungan erat dengan kejadian neuropati diabetik. Temuan ini menegaskan bahwa durasi penyakit menjadi faktor kunci yang tidak boleh diabaikan dalam pengelolaan diabetes.

Mayoritas Pasien Sudah Mengalami Neuropati

Penelitian terhadap 116 pasien diabetes melitus menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden mengalami neuropati diabetik. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah sensasi tertusuk, kesemutan, dan nyeri pada kaki, terutama pada malam hari. Gejala ini mencerminkan gangguan saraf perifer akibat paparan gula darah tinggi yang berlangsung lama. Secara klinis, kondisi ini berbahaya karena dapat menurunkan kepekaan kaki terhadap luka. Jika tidak disadari dan ditangani, neuropati diabetik dapat berkembang menjadi luka kaki diabetik, infeksi kronis, bahkan amputasi.

Durasi Penyakit Menjadi Penentu Risiko

Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien yang telah menderita diabetes selama lima tahun atau lebih memiliki risiko jauh lebih besar mengalami neuropati diabetik dibandingkan mereka yang baru menderita diabetes kurang dari lima tahun. Uji statistik memperlihatkan hubungan yang signifikan antara lama menderita diabetes dan kejadian kerusakan saraf. Secara ilmiah, hal ini dapat dijelaskan melalui mekanisme hiperglikemia kronis. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama memicu stres oksidatif, gangguan mikrosirkulasi, serta pembentukan advanced glycation end products (AGEs). Proses ini secara perlahan merusak pembuluh darah kecil dan jaringan saraf, sehingga fungsi saraf menurun dari waktu ke waktu.

Bisa Terjadi Sejak Awal Penyakit

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa neuropati diabetik tidak hanya dialami oleh pasien dengan durasi penyakit yang lama. Sejumlah pasien yang menderita diabetes kurang dari lima tahun juga telah menunjukkan gejala neuropati. Hal ini mengindikasikan bahwa kontrol gula darah yang buruk sejak awal dapat mempercepat munculnya komplikasi, meskipun usia penyakit relatif singkat. Sebaliknya, beberapa pasien yang telah lama menderita diabetes ternyata belum mengalami neuropati. Wawancara singkat mengungkap bahwa mereka cenderung patuh menjalani pengobatan, menjaga pola makan, serta rutin melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki setiap hari.

Pentingnya Deteksi Dini di Layanan Primer

Temuan ini menegaskan pentingnya skrining neuropati diabetik secara rutin, terutama di layanan kesehatan primer seperti puskesmas. Pemeriksaan sederhana berbasis kuesioner dan penilaian gejala dapat membantu mendeteksi kerusakan saraf sejak dini, sebelum komplikasi berat terjadi. Selain itu, edukasi mengenai kepatuhan minum obat, pengaturan pola makan, dan aktivitas fisik perlu terus diperkuat sejak pasien pertama kali didiagnosis diabetes. Pencegahan komplikasi tidak menunggu penyakit menjadi lama, tetapi dimulai sejak hari pertama diagnosis.

Kesimpulan

Penelitian ini memperkuat bukti bahwa semakin lama seseorang menderita diabetes melitus, semakin besar risiko mengalami neuropati diabetik. Namun, durasi penyakit bukan satu-satunya faktor penentu. Pengendalian gula darah, gaya hidup sehat, dan kepatuhan terhadap terapi terbukti mampu menekan risiko kerusakan saraf, bahkan pada pasien dengan diabetes jangka panjang. Diabetes bukan hanya soal bertahan hidup dengan penyakit kronis, tetapi juga soal menjaga kualitas hidup. Deteksi dini dan pengelolaan yang tepat menjadi kunci agar komplikasi seperti neuropati diabetik dapat dicegah sedini mungkin.

Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10059/6702

Author: Nikma Suryana Harun, Vivien Novarina Kasim, Nirwanto Rahim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran