Sentuhan Empati Perawat dan Perjuangan Sembuh Pasien TB Paru: Seberapa Besar Pengaruhnya?

Oleh: Jesica Mulyadi . 21 September 2026 . 22:47:22

Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Data dari World Health Organization (WHO) menempatkan negara kita di posisi kedua dengan kasus TB terbanyak di dunia. Bahkan di tingkat lokal, prevalensi TB paru di Provinsi Gorontalo mencatatkan angka 0,34%, berada di atas rata-rata nasional. Meskipun obat antituberkulosis (OAT) disediakan secara gratis oleh pemerintah, kunci utama kesembuhan TB bukan sekadar ketersediaan obat, melainkan kepatuhan pasien untuk meminumnya secara teratur selama minimal 6 bulan tanpa putus. Lupa satu hari saja atau berhenti di tengah jalan bisa berisiko fatal: kuman menjadi kebal obat (resistensi), penyakit berulang, dan penularan ke keluarga terdekat terus terjadi. Lantas, bagaimana peran tenaga kesehatan—khususnya perawat—dalam mendampingi perjalanan panjang pasien menuju kesembuhan?

Ketika Perhatian Perawat Berhadapan dengan Realita Lapangan

Penelitian ini melibatkan 62 pasien TB paru dan mengukur dua hal utama: perilaku caring (sikap peduli, empati, serta perhatian) dari perawat dan tingkat kepatuhan minum obat para pasien. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan menarik yang cukup kontras:

  1. Perawat Dinilai Sangat Peduli: Mayoritas pasien (74,2%) menilai perawat di Puskesmas Tilango memiliki perilaku caring yang tinggi. Pasien merasa nyaman, aman, serta mendapat perhatian dan komunikasi yang baik dari para perawat.
  2. Kepatuhan Minum Obat Masih Rendah: Di sisi lain, sebagian besar pasien (71,0%) ternyata masih memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Banyak pasien yang mengaku masih sering lupa, tidak konsisten saat beraktivitas di luar rumah, atau merasa jenuh dengan durasi pengobatan yang lama.
  3. Uji statistik dalam penelitian ini mengonfirmasi adanya hubungan yang positif dan signifikan antara perilaku caring perawat dengan kepatuhan minum obat pasien (p = 0,019). Artinya, semakin baik dan peduli pelayanan yang diberikan perawat, semakin bersemangat pula pasien untuk mematuhi jadwal pengobatannya.

Namun, riset ini juga mencatat bahwa kekuatan hubungan tersebut berada pada kategori lemah (r = 0,296). Mengapa demikian?

Mengapa Perhatian Perawat Saja Tidak Cukup?

Pengobatan TB paru adalah "maraton", bukan "lari cepat". Masa terapi yang memakan waktu 6 bulan hingga lebih dari satu tahun sering kali memicu rasa bosan, lelah, hingga frustrasi pada pasien. Hasil studi ini menegaskan bahwa meskipun dorongan moral dan keramahan perawat sangat berharga, kepatuhan pasien TB dipengaruhi oleh jaring-jaring faktor yang jauh lebih kompleks:

  1. Faktor Usia dan Aktivitas Harian: Mayoritas pasien berada pada usia produktif dan lansia awal (46–55 tahun) dengan dominasi laki-laki (64,5%) yang bekerja sebagai pedagang, buruh, atau nelayan. Kesibukan mencari nafkah di luar rumah sering kali membuat jadwal minum obat terabaikan.
  2. Efek Samping Obat: Rasa mual, pusing, atau ketidaknyamanan fisik setelah mengonsumsi OAT kerap membuat pasien enggan melanjutkan terapi secara konsisten.
  3. Dukungan Keluarga sebagai Benteng Utama: Perawat berinteraksi dengan pasien saat kunjungan ke puskesmas, namun keluargalah yang berada di samping pasien selama 24 jam di rumah. Tanpa pengawasan dan pengingat dari anggota keluarga (Pengawas Menelan Obat/PMO), risiko lupa minum obat tetap tinggi.

Langkah Bersama: Menautkan Empati Medis dan Dukungan Keluarga

Riset dari Universitas Negeri Gorontalo ini membawa pesan penting bahwa penanganan TB tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Perilaku caring tenaga kesehatan adalah fondasi awal yang membangun rasa percaya pasien. Namun untuk memastikan pasien tuntas berobat hingga sembuh total, diperlukan kolaborasi yang lebih erat:

  1. Penguatan Peran Pengawas Menelan Obat (PMO): Anggota keluarga terdekat harus aktif mengingatkan dan dibekali edukasi agar konsisten mendampingi serta mengingatkan jadwal minum obat pasien setiap hari.
  2. Edukasi Berkelanjutan tentang Efek Samping: Perawat dan tim medis perlu terus memberikan pemahaman bahwa efek samping obat adalah hal yang wajar dan dapat dikonsultasikan, bukan alasan untuk berhenti berobat.
  3. Pemanfaatan Pengingat Digital: Penggunaan pengingat di ponsel atau aplikasi pemantauan dapat membantu pasien yang memiliki mobilitas tinggi agar tidak melewatkan dosis obat saat beraktivitas di luar rumah.
  4. Menyembuhkan TB paru butuh napas panjang, komitmen, dan kepedulian bersama. Dengan paduan antara empati tenaga medis, keteguhan pasien, dan kehangatan dukungan keluarga, rantai penularan TB pasti bisa diputus.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran