Tekanan Darah yang Tidak Stabil Bisa Melemahkan Otot Mahasiswa Kedokteran

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 Februari 2026 . 15:35:55

Gorontalo — Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Selama ini, tekanan darah tinggi sering menjadi sorotan utama. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya angka tekanan darah yang penting, melainkan juga seberapa stabil tekanan darah tersebut dari waktu ke waktu. Sebuah studi terhadap 132 mahasiswa kedokteran Universitas Negeri Gorontalo menemukan bahwa fluktuasi tekanan darah sistolik (systolic blood pressure variability/SBPV) berkorelasi dengan kekuatan otot tangan (handgrip strength/HGS) — indikator sederhana namun kuat untuk menilai kesehatan kardiovaskular dan kebugaran umum

Mengapa Kekuatan Genggaman Penting?

Kekuatan menggenggam bukan sekadar ukuran kekuatan tangan. Dalam dunia medis, HGS telah diakui sebagai “biomarker fungsional” yang dapat memprediksi risiko penyakit jantung, gangguan metabolik, hingga mortalitas. Semakin lemah genggaman seseorang, semakin tinggi kemungkinan adanya gangguan kesehatan sistemik — termasuk masalah pada pembuluh darah dan jantung.Dalam penelitian ini, rata-rata kekuatan genggaman mahasiswa adalah 29 kg. Namun, yang menarik, mahasiswa dengan fluktuasi tekanan darah lebih tinggi cenderung memiliki kekuatan genggaman yang lebih rendah.

Lebih dari Sekadar Tekanan Darah Tinggi

Sebagian besar responden memang belum masuk kategori hipertensi berat. Namun, lebih dari setengahnya berada pada kondisi hipertensi. Artinya, secara kasat mata mereka tampak sehat, tetapi sebenarnya sudah berada di zona risiko. Penelitian menunjukkan:

  1. Semakin tinggi variabilitas tekanan darah → semakin rendah kekuatan otot
  2. Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi → berkorelasi dengan kekuatan genggaman lebih besar
  3. Namun, pada kelompok mahasiswa dengan kekuatan otot rendah, kombinasi IMT tinggi dan tekanan darah tidak stabil justru memperburuk kondisi
  4. Dengan kata lain, massa tubuh yang besar tidak selalu menguntungkan bila tekanan darahnya tidak stabil.

Instabilitas Hemodinamik: Ancaman Tersembunyi

Secara fisiologis, fluktuasi tekanan darah yang berlebihan dapat mengganggu aliran darah mikro ke jaringan otot. Ketika suplai oksigen dan nutrisi tidak stabil, performa otot ikut menurun. Fenomena ini disebut sebagai gangguan mikrosirkulasi. Pada individu dengan kapasitas otot rendah, kondisi ini lebih berdampak signifikan. Penelitian menggunakan pendekatan regresi kuantil menemukan bahwa efek negatif ini paling kuat pada kelompok dengan kekuatan otot terendah. Artinya, mahasiswa yang secara fisik lebih lemah lebih rentan terhadap dampak tekanan darah yang tidak stabil

Paradoks Mahasiswa Kedokteran

Menariknya, penelitian ini menyoroti fenomena paradoks: mahasiswa kedokteran memiliki literasi kesehatan tinggi, tetapi gaya hidup mereka sering kali sedentari, kurang tidur, dan penuh tekanan akademik. Stres kronis dapat mengganggu sistem saraf otonom, meningkatkan hormon kortisol, serta memicu instabilitas tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat risiko kardiovaskular — bahkan sejak usia muda.

Implikasi Klinis: Genggaman Sebagai “Tanda Vital Kelima”

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kekuatan genggaman dapat diposisikan sebagai indikator kesehatan tambahan, selain tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan. Bila seseorang memiliki genggaman lemah disertai tekanan darah yang fluktuatif, evaluasi kardiovaskular lebih lanjut perlu dipertimbangkan, meskipun tekanan darah rata-ratanya masih dalam batas normal.

Kesimpulan: Stabilitas Lebih Penting dari Sekadar Angka

Penelitian ini menyimpulkan bahwa:

  1. Variabilitas tekanan darah sistolik berhubungan negatif dengan kekuatan otot
  2. IMT berhubungan positif dengan kekuatan, tetapi manfaatnya melemah bila tekanan darah tidak stabil
  3. Dampak paling signifikan terjadi pada individu dengan kapasitas otot rendah
  4. Artinya, menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal menurunkan tekanan darah, tetapi juga memastikan tekanan darah tetap stabil.

Di usia muda, pencegahan harus dimulai dari sekarang: aktivitas fisik rutin, tidur cukup, manajemen stres, dan pemeriksaan kesehatan berkala.Karena terkadang risiko terbesar bukan yang terlihat dari angka tinggi — melainkan dari fluktuasi yang diam-diam melemahkan tubuh.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/36157/pdf

Authors: Chairul Abdul Jamal Ghazali Tome, Jufri Febriyanto Poetra, Sri Manovita Pateda, Nanang Roswita Paramata, Yuniarty Antu

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran