
Gorontalo — Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Selama ini, tekanan darah tinggi sering menjadi sorotan utama. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya angka tekanan darah yang penting, melainkan juga seberapa stabil tekanan darah tersebut dari waktu ke waktu. Sebuah studi terhadap 132 mahasiswa kedokteran Universitas Negeri Gorontalo menemukan bahwa fluktuasi tekanan darah sistolik (systolic blood pressure variability/SBPV) berkorelasi dengan kekuatan otot tangan (handgrip strength/HGS) — indikator sederhana namun kuat untuk menilai kesehatan kardiovaskular dan kebugaran umum
Mengapa Kekuatan Genggaman Penting?
Kekuatan menggenggam bukan sekadar ukuran kekuatan tangan. Dalam dunia medis, HGS telah diakui sebagai “biomarker fungsional” yang dapat memprediksi risiko penyakit jantung, gangguan metabolik, hingga mortalitas. Semakin lemah genggaman seseorang, semakin tinggi kemungkinan adanya gangguan kesehatan sistemik — termasuk masalah pada pembuluh darah dan jantung.Dalam penelitian ini, rata-rata kekuatan genggaman mahasiswa adalah 29 kg. Namun, yang menarik, mahasiswa dengan fluktuasi tekanan darah lebih tinggi cenderung memiliki kekuatan genggaman yang lebih rendah.
Lebih dari Sekadar Tekanan Darah Tinggi
Sebagian besar responden memang belum masuk kategori hipertensi berat. Namun, lebih dari setengahnya berada pada kondisi hipertensi. Artinya, secara kasat mata mereka tampak sehat, tetapi sebenarnya sudah berada di zona risiko. Penelitian menunjukkan:
Instabilitas Hemodinamik: Ancaman Tersembunyi
Secara fisiologis, fluktuasi tekanan darah yang berlebihan dapat mengganggu aliran darah mikro ke jaringan otot. Ketika suplai oksigen dan nutrisi tidak stabil, performa otot ikut menurun. Fenomena ini disebut sebagai gangguan mikrosirkulasi. Pada individu dengan kapasitas otot rendah, kondisi ini lebih berdampak signifikan. Penelitian menggunakan pendekatan regresi kuantil menemukan bahwa efek negatif ini paling kuat pada kelompok dengan kekuatan otot terendah. Artinya, mahasiswa yang secara fisik lebih lemah lebih rentan terhadap dampak tekanan darah yang tidak stabil
Paradoks Mahasiswa Kedokteran
Menariknya, penelitian ini menyoroti fenomena paradoks: mahasiswa kedokteran memiliki literasi kesehatan tinggi, tetapi gaya hidup mereka sering kali sedentari, kurang tidur, dan penuh tekanan akademik. Stres kronis dapat mengganggu sistem saraf otonom, meningkatkan hormon kortisol, serta memicu instabilitas tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat risiko kardiovaskular — bahkan sejak usia muda.
Implikasi Klinis: Genggaman Sebagai “Tanda Vital Kelima”
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kekuatan genggaman dapat diposisikan sebagai indikator kesehatan tambahan, selain tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan. Bila seseorang memiliki genggaman lemah disertai tekanan darah yang fluktuatif, evaluasi kardiovaskular lebih lanjut perlu dipertimbangkan, meskipun tekanan darah rata-ratanya masih dalam batas normal.
Kesimpulan: Stabilitas Lebih Penting dari Sekadar Angka
Penelitian ini menyimpulkan bahwa:
Di usia muda, pencegahan harus dimulai dari sekarang: aktivitas fisik rutin, tidur cukup, manajemen stres, dan pemeriksaan kesehatan berkala.Karena terkadang risiko terbesar bukan yang terlihat dari angka tinggi — melainkan dari fluktuasi yang diam-diam melemahkan tubuh.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/36157/pdf
Authors: Chairul Abdul Jamal Ghazali Tome, Jufri Febriyanto Poetra, Sri Manovita Pateda, Nanang Roswita Paramata, Yuniarty Antu
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran