
GORONTALO – Ujian selalu identik dengan tekanan. Namun, di pendidikan kedokteran, tekanan itu hadir dalam dua bentuk utama: ujian teori berbasis Computer-Based Test (CBT) dan ujian praktik klinis atau Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Pertanyaannya, apakah mahasiswa kedokteran lebih cemas menghadapi ujian praktik dibandingkan dengan ujian teori? Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui studi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo. Hasilnya cukup mengejutkan: tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara mahasiswa sebelum menghadapi ujian teori dan sebelum OSCE.
Kecemasan: Respons Alami yang Bisa Menjadi Masalah
Secara ilmiah, kecemasan merupakan respons otak terhadap situasi yang dianggap mengancam. Dalam batas tertentu, kecemasan justru adaptif karena membantu seseorang menjadi lebih waspada dan fokus. Namun, jika berlebihan, kecemasan dapat mengganggu konsentrasi, memori, hingga performa akademik. Data nasional menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental paling umum di Indonesia. Mahasiswa, terutama mahasiswa kedokteran yang menghadapi tuntutan akademik tinggi, termasuk kelompok rentan mengalami tekanan psikologis. Dalam konteks pendidikan kedokteran, ujian bukan sekadar formalitas. Kompetensi dokter diatur melalui Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), sehingga setiap evaluasi akademik memiliki konsekuensi profesional.
Teori dan Praktik: Mana yang lebih menekan?
Ujian teori (MCQ/CBT) menilai aspek pengetahuan dan analisis kognitif. Sementara OSCE menguji keterampilan klinis secara langsung melalui simulasi kasus dan pengamatan penguji. Banyak penelitian sebelumnya menyebut OSCE sebagai ujian yang “menegangkan” karena mahasiswa dinilai secara langsung di tiap stasiun praktik. Namun dalam penelitian ini, dari 48 mahasiswa angkatan 2022 yang diteliti:
Temuan ini berbeda dengan sejumlah studi sebelumnya yang menunjukkan OSCE cenderung memicu kecemasan lebih tinggi.
Mengapa Hasilnya Berbeda?
Secara opini ilmiah, ada beberapa kemungkinan penjelasan, seperti:
Peran Gender dan Karakteristik Mahasiswa
Penelitian ini juga menunjukkan mayoritas responden berusia 20 tahun dan didominasi mahasiswa perempuan (60,4%). Beberapa studi menyebutkan mahasiswa perempuan cenderung unggul dalam keterampilan komunikasi saat OSCE, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Namun demikian, faktor psikososial seperti dukungan sosial, tekanan akademik, dan budaya belajar juga berperan besar dalam membentuk respons emosional terhadap ujian.
Implikasi bagi Pendidikan Kedokteran
Temuan ini memberikan pesan penting bagi institusi pendidikan kedokteran: mengurangi kecemasan mahasiswa bukan hanya soal mengubah format ujian, tetapi juga memperkuat kesiapan mental dan efikasi diri. Program pelatihan coping strategy, simulasi ujian, pembinaan mental, serta lingkungan akademik yang suportif dapat membantu mahasiswa mengelola tekanan secara sehat. Pada akhirnya, kompetensi dokter bukan hanya tentang pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga stabilitas emosional dalam menghadapi tekanan.
Kecemasan Bukan Musuh, Tetapi Sinyal
Dalam perspektif psikologi, kecemasan tidak selalu buruk. Ia adalah sinyal kesiapan tubuh menghadapi tantangan. Masalah muncul ketika kecemasan menjadi berlebihan dan mengganggu performa. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kesiapan yang baik, mahasiswa mampu menghadapi ujian teori maupun praktik tanpa perbedaan tekanan yang berarti
Pesan ilmiahnya jelas: yang menentukan bukan jenis ujiannya, melainkan bagaimana mahasiswa memaknai dan mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut. Dan dalam dunia kedokteran, kesiapan mental sama pentingnya dengan kesiapan akademik.
Sources: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3460/2970
Authors: Siti Pratiwi Husa, Yancy Lumentut, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, Maimun Ihsan, Muhamad Nur Syukriani Yusu
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran