
Gorontalo – Upaya mencapai target eliminasi AIDS, Malaria, dan Tuberkulosis (ATM) pada 2030 membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat. Perguruan tinggi menjadi salah satu elemen strategis yang dapat memperkuat agenda tersebut melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi kesehatan. Komitmen tersebut tercermin dalam keikutsertaan Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG), Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes., dalam Forum Kemitraan Program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) Tahun 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. dr. Zuhriana hadir mewakili Universitas Negeri Gorontalo dan LLDIKTI Wilayah XVI, bersama sejumlah pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, perangkat daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, sektor swasta, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, serta lembaga mitra lainnya. Forum Kemitraan RSSH 2026 menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi dan kemitraan dalam mendukung penanggulangan tiga penyakit utama, yakni AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria. Pendekatan kolaboratif menjadi penting mengingat persoalan ketiga penyakit tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek pelayanan kesehatan, tetapi juga bersinggungan dengan faktor sosial, ekonomi, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan membahas kondisi dan perkembangan program ATM, prioritas intervensi, serta bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh masing-masing sektor. Pembahasan juga diarahkan pada penguatan kemitraan dalam perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program secara lintas sektor. Salah satu agenda penting dalam forum adalah mengidentifikasi peluang dukungan dari berbagai pihak di luar sektor kesehatan, termasuk melalui Corporate Social Responsibility (CSR), Baznas, organisasi masyarakat, sektor swasta, perguruan tinggi, serta mitra pembangunan lainnya.
Keterlibatan perguruan tinggi dalam forum tersebut dinilai penting karena institusi pendidikan tinggi memiliki sumber daya akademik dan keilmuan yang dapat mendukung kebijakan serta program kesehatan berbasis bukti. Dalam konteks tersebut, FK UNG terus mendorong peran perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi pada pengembangan pendidikan kedokteran, tetapi juga mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf menyampaikan bahwa pencapaian target eliminasi AIDS, Malaria, dan Tuberkulosis membutuhkan komitmen bersama dari berbagai sektor. “Upaya pengendalian AIDS, Malaria, dan Tuberkulosis membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi yang mendukung kebutuhan program kesehatan,” ungkapnya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat agar berbagai kebijakan dan intervensi kesehatan dapat didukung oleh pendekatan berbasis data dan hasil kajian ilmiah. Kehadiran UNG dalam Forum Kemitraan Program RSSH 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kemitraan antara perguruan tinggi dengan pemerintah dan berbagai sektor lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan program yang lebih terintegrasi serta memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Forum tersebut turut membahas analisis situasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria berdasarkan data program, prioritas kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas, serta dukungan yang dapat diberikan oleh organisasi perangkat daerah dan mitra nonkesehatan. Selain penguatan koordinasi, forum diarahkan pada penyusunan rencana tindak lanjut kontribusi anggaran dan kegiatan prioritas program ATM yang dapat melibatkan berbagai sumber kemitraan. Bagi UNG dan LLDIKTI Wilayah XVI, keterlibatan dalam forum ini menjadi peluang untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan kesehatan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan lembaga lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada forum koordinasi, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam program nyata yang mendukung pencegahan, deteksi dini, pengobatan, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi AIDS, Malaria, dan Tuberkulosis. Melalui penguatan kemitraan lintas sektor, berbagai pihak diharapkan dapat bergerak dalam arah yang sama untuk mempercepat pencapaian target Ending AIDS, Malaria, and Tuberculosis 2030, sekaligus memperkuat sistem kesehatan yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Keikutsertaan Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf sebagai representasi UNG dan LLDIKTI Wilayah XVI menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk mengambil bagian dalam agenda pembangunan kesehatan, baik melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan ilmu pengetahuan, maupun kontribusi langsung kepada masyarakat.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran