
Dalam kehidupan keluarga, kehadiran lebih dari satu anak sering kali membawa dinamika hubungan yang kompleks. Di satu sisi, saudara kandung dapat menjadi teman bermain, sumber dukungan emosional, dan bagian penting dari proses sosialisasi anak. Namun di sisi lain, hubungan antarsaudara juga tidak jarang diwarnai dengan konflik, kecemburuan, bahkan persaingan untuk mendapatkan perhatian orang tua. Fenomena ini dikenal dalam psikologi perkembangan sebagai sibling rivalry, yaitu persaingan atau konflik yang terjadi antara saudara kandung dalam keluarga.
Sibling rivalry sebenarnya merupakan fenomena yang cukup umum terjadi dalam proses perkembangan anak. Dalam banyak kasus, konflik antarsaudara merupakan bagian dari proses belajar anak untuk memahami emosi, kompetisi, dan interaksi sosial. Namun, ketika konflik tersebut berlangsung secara intens dan berkelanjutan, kondisi ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan emosional anak. Secara global, berbagai studi menunjukkan bahwa konflik antarsaudara kandung cukup sering terjadi dalam keluarga. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa sekitar 30–60 persen anak di dunia pernah mengalami konflik dengan saudara kandungnya, sementara jutaan anak usia dini dilaporkan mengalami bentuk persaingan emosional yang berkaitan dengan perhatian orang tua.
Di Indonesia, fenomena sibling rivalry juga bukan hal yang jarang ditemukan. Dengan jumlah populasi anak yang mencapai puluhan juta, dinamika hubungan antarsaudara menjadi bagian dari realitas kehidupan keluarga di masyarakat. Data statistik nasional menunjukkan bahwa sebagian besar anak di Indonesia hidup dalam keluarga dengan lebih dari satu anak, sehingga potensi munculnya konflik antarsaudara menjadi cukup besar. Dalam konteks psikologi perkembangan, sibling rivalry biasanya mulai terlihat ketika anak mulai memahami konsep kepemilikan, perhatian, dan keadilan dalam hubungan keluarga. Anak yang lebih tua sering kali merasa kehilangan perhatian ketika orang tua lebih fokus pada adik yang lebih kecil. Perasaan ini dapat memicu kecemburuan yang kemudian muncul dalam bentuk perilaku seperti pertengkaran, kompetisi, atau sikap agresif terhadap saudara kandung.
Penelitian yang dilakukan di SD Negeri 1 Limboto, Kabupaten Gorontalo, memberikan gambaran yang cukup menarik mengenai fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 anak yang menjadi responden, sebanyak 46 anak (65,7%) mengalami perilaku sibling rivalry, sementara sisanya tidak menunjukkan perilaku tersebut. Data ini menunjukkan bahwa konflik antarsaudara merupakan fenomena yang cukup umum terjadi pada anak usia sekolah dasar. Usia anak dalam penelitian tersebut berkisar antara 7 hingga 11 tahun, yang merupakan fase penting dalam perkembangan sosial dan emosional. Pada usia ini, anak mulai memiliki kesadaran yang lebih tinggi mengenai perbandingan sosial, keadilan, dan hubungan interpersonal. Mereka mulai memperhatikan bagaimana orang tua memperlakukan setiap anak dalam keluarga, sehingga perbedaan perlakuan sekecil apa pun dapat memicu perasaan tidak adil.
Namun demikian, sibling rivalry tidak muncul begitu saja. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap munculnya konflik antarsaudara adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Pola asuh tidak hanya menentukan bagaimana orang tua mendidik anak, tetapi juga membentuk cara anak memahami hubungan sosial, emosi, dan interaksi dengan orang lain. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa mayoritas orang tua menerapkan pola asuh otoriter, yaitu sebanyak 85,7 persen responden. Pola asuh ini ditandai dengan kontrol yang kuat dari orang tua terhadap anak, aturan yang ketat, serta komunikasi yang cenderung satu arah. Anak dalam keluarga dengan pola asuh otoriter sering kali dituntut untuk patuh terhadap aturan tanpa banyak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
Meskipun pola asuh otoriter dapat membantu menciptakan disiplin pada anak, pendekatan ini juga memiliki potensi menimbulkan tekanan emosional apabila tidak diimbangi dengan komunikasi yang hangat. Anak yang merasa kurang mendapatkan perhatian atau kesempatan untuk mengekspresikan dirinya dapat menunjukkan reaksi emosional dalam bentuk kecemburuan terhadap saudara kandungnya.
Hasil analisis statistik dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian sibling rivalry pada anak. Uji statistik Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,005, yang berarti hubungan tersebut secara statistik signifikan. Dengan kata lain, cara orang tua mendidik dan berinteraksi dengan anak memiliki pengaruh nyata terhadap munculnya konflik antarsaudara dalam keluarga.
Dari perspektif perkembangan anak, temuan ini memberikan pesan penting bahwa hubungan antarsaudara tidak hanya dipengaruhi oleh karakter anak, tetapi juga oleh lingkungan keluarga yang membentuk interaksi mereka. Pola asuh yang terlalu keras, perlakuan yang berbeda antaranak, atau kurangnya komunikasi emosional dapat memperkuat rasa kompetisi di antara saudara kandung.
Namun demikian, sibling rivalry tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam batas tertentu, konflik antarsaudara justru dapat menjadi sarana belajar bagi anak untuk memahami empati, negosiasi, dan penyelesaian konflik. Dengan bimbingan yang tepat dari orang tua, pengalaman tersebut dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan mereka. Karena itu, peran orang tua sebagai mediator dalam konflik antarsaudara menjadi sangat penting. Orang tua perlu memastikan bahwa setiap anak merasa dihargai, didengarkan, dan diperlakukan secara adil. Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak mengenai empati, kerja sama, dan komunikasi yang sehat dalam hubungan keluarga.
Dalam konteks kesehatan masyarakat dan perkembangan anak, pemahaman mengenai sibling rivalry juga memiliki nilai yang penting. Konflik keluarga yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan mental anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan pengasuhan yang positif, komunikasi keluarga yang terbuka, serta keseimbangan perhatian kepada setiap anak menjadi kunci dalam menciptakan hubungan saudara yang sehat. Pada akhirnya, sibling rivalry bukan sekadar persoalan pertengkaran kecil antarsaudara. Fenomena ini mencerminkan bagaimana dinamika keluarga terbentuk melalui interaksi antara anak dan orang tua. Ketika orang tua mampu menciptakan lingkungan keluarga yang penuh empati, keadilan, dan komunikasi yang baik, maka hubungan antarsaudara dapat berkembang menjadi sumber dukungan yang kuat bagi anak sepanjang hidupnya.
Sources: https://journal.umgo.ac.id/index.php/Zaitun/article/view/3917/2570
Author: Dewi Rosalinda, Sri Andriani Ibrahim, Cindy Puspita Sari Haji Jafar
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran